Tribunners
Menjaga Warisan Budaya Permainan Tradisional
Permainan tradisional memiliki nilai-nilai yang sangat berharga di dalam setiap bentuk permainannya
Oleh: Agus Irawan, S.Pd. - Guru Olahraga SMAN 1 Pemali
INDONESIA memiliki berbagai suku bangsa, bahasa, dan budaya. Salah satunya terdapat nilai-nilai kearifan lokal, terutama dalam bentuk permainan tradisional yang terkenal pada masanya. Direktorat Jenderal Sekolah Menengah Pertama melalui statistik kebudayaan (2017) menyebutkan Indonesia memiliki 785 jenis permainan tradisional yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Kekayaan permainan tradisional Indonesia tentunya harus kita jaga dan lestarikan sehingga menjadi warisan untuk generasi penerus bangsa, khususnya kepada anak cucu kita. Permainan tradisional memiliki nilai-nilai yang sangat berharga di dalam setiap bentuk permainannya. Contohnya nilai kerja sama, tolong-menolong, tanggung jawab, dan nilai-nilai sosial penting lainnya jika kita mampu memahami secara utuh.
Pada generasi-generasi sebelumnya, bermain permainan tradisional merupakan hal yang menyenangkan dan mengesankan. Permainan tradisional memiliki makna mendalam berupa nilai-nilai positif yang terkandung di dalamnya, termasuk memperkuat rasa nasionalisme dan menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan. Oleh karena itu, sebagai generasi muda sudah seharusnya kita bangga memiliki warisan keanekaragaman permainan tradisional yang ada.
Banyak ikhtiar yang dapat dilakukan oleh generasi muda untuk menjaga dan melestarikan permainan tradisional. Misalnya, lebih intensif membumikan permainan tradisional di lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat sebagai bentuk edukasi akan pentingnya melestarikan warisan budaya Indonesia. Namun, ironisnya seiring berkembanggya zaman permainan tradisional makin ditinggalkan. Mengapa demikian?
Menurut penulis, era digitalisasi memiliki efek yang mendua. Di satu sisi memiliki dampak positif dan dampak negatif. Berkaitan dengan dampak negatif, tak dimungkiri kecanggihan teknologi menggeser nilai-nilai budaya, dalam hal ini permainan tradisional. Anak-anak sekarang lebih antusias dan cenderung memilih menggunakan gadget daripada bermain permainan tradisional.
Dilihat dari segi penggunaanya, memang gadget lebih mudah dan praktis untuk digunakan. Dengan membuka menu aplikasi Play Store, para pengguna akan menemukan berbagai jenis permainan yang ada. Maka tak mengherankan generasi sekarang lebih cenderung beralih kepada permainan digital (game) dibandingkan permainan tradisional. Apalagi mereka adalah generasi yang terbiasa dekat dan berselancar dengan dunia digital sehingga memainkan gadget dirasa lebih mudah dan menarik.
Padahal apabila diamati banyak dampak negatif yang muncul terhadap sistem perkembangan anak jika sering memainkan game yang tersedia di gadget. Dampak negatif yang sering terjadi pada anak adalah emotional thinking yang tidak teratur, seperti anak suka menyendiri, susah diatur, mudah marah, serta ketergantungan dan hilangnya beberapa fungsi otak pada anak.
Lain halnya dengan permainan tradisional, memang membutuhkan tenaga yang lebih jika ingin memainkannya, membutuhkan relasi atau teman serta beberapa orang jika ingin memainkannya. Akan tetapi, dengan adanya kolaborasi bersama teman dalam permainan tradisional, justru menjadi daya tarik yang tak kalah serunya dibandingkan dengan permainan game saat ini.
Permainan tradisional juga memiliki banyak kelebihan dan nilai-nilai sosial yang terkandung di dalamnya, yaitu meningkatkan dan membentuk perkembangan karakter seorang anak. Lebih lanjut, dapat meningkatkan daya kreativitas anak. Anak bisa mengembangkan daya pikir untuk selalu berkreasi dan berimajinasi sesuai dengan keinginannya. Tak kalah penting, menanamkan sikap kerja sama dengan teman sejawat, tolong-menolong, melatih fisik, dan meningkatnya kesehatan anak karena dituntut untuk bergerak terus.
Konkretnya, penulis selaku guru olahraga ikut bertanggung jawab dan berkontribusi menumbuhkembangkan permainan tradisional di lingkungan satuan pendidikan. Upaya yang dilakukan penulis mengintegrasikan pembelajaran olahraga dengan permainan tradisional, antara lain, gobak sodor. Ternyata setelah merasakan permainan tersebut peserta didik menjadi antusias dan senang ketika memainkan permainan ini. Rasa lelah dan keringat yang keluar terbayarkan dengan keseruan dan kesenangan dalam permainan gobak sodor ini. Maka dari itu di setiap pembelajaran olahraga, setelah materi selesai, anak diberikan kesempatan untuk memainkan suatu bentuk permainan tradisional yang disukai.
Selain itu, upaya yang dilakukan oleh penulis dan warga sekolah di sela-sela waktu selepas kegiatan penilaian akhir semester, melaksanakan permainan tradisional dimasukkan dalam agenda kegiatan lomba untuk mengisi kegiatan class meeting kepada siswa. Dalam hal ini agar peserta didik tetap menjaga dan melestarikan budaya permainan tradisional untuk ke depannya.
Apalagi pada perayaan HUT Kemerdekaan RI, kita sebagai warga negara harus lebih bersemangat dalam merayakan dan meramaikan kemerdekaan dengan menumbuhkembangkan semangat nasionalisme dan patriotisme kepada peserta didik. Tanamkan nilai-nilai positif tersebut dengan cara mengajak, menjaga, serta mengajarkan permainan tradisional kepada peserta didik dengan cara membuat berbagai macam perlombaan permainan tradisional di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Pada akhirnya, menjaga warisan budaya merupakan tanggung jawab kita bersama. Hal yang dapat dilakukan dengan cara melestarikan dan mengenalkan kembali permainan tradisional kepada generasi penerus kita. Dengan begitu, permainan tradisional akan selalu terjaga dan tidak akan pernah hilang meskipun terkikis zaman. Melalui pembelajaran olahraga inilah mari kita wujudkan serta tanamkan kembali rasa nasionalisme peserta didik dengan tetap mencintai selalu budaya permainan tradisional Indonesia. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20220901_Agus-Irawan-Guru-Olahraga-SMAN-1-Pemali.jpg)