Breaking News:

Berita Kriminal

Ayah Tiri Tega Rudapaksa Anak Usia Bawah Umur, Begini Kata Sosiolog  

Perilaku bejat MN (47) seorang ayah tiri yang tega merudakpaksa anak tirinya, sebut saja nama korban Melati (14)

Penulis: Rizki Irianda Pahlevy | Editor: Fery Laskari
istimewa
Dr Fitri Ramdhani Harahap, MSi Sosiologi Universitas Bangka Belitung. (Ist/Dok Pribadi) 

BANGKAPOS.COM , BANGKA - Perilaku bejat MN (47) seorang ayah tiri yang tega merudakpaksa anak tirinya, sebut saja nama korban Melati (14), dalam bentuk ancaman dan rayuan, merupakan bentuk manifestasi kekuasaan dan kontrol yang menjadi motif utama terjadinya aksi rudapaksa oleh orang terdekat. 

Hal ini ditegaskan oleh Dosen Sosiologi Universitas Bangka Belitung (UBB), Dr Fitri Ramdhani Harahap, Senin (5/9/2022).

Tersangka MN sudah ditangkap Tim Satreskrim Polres Pangkalpinang atas tindak pidana yang dilakukannya terhadap Melati. 

Diketahui sebelumnya tak hanya Melati, namun MN juga melakukan hal yang sama terhadap sepupu Melati yakni Mawar (16). 

Aksi bejatnya pun terungkap sudah dilakukannya sejak 2016 lalu atau ketika kedua korban masih duduk di sekolah dasar. 

Hasil interogasi yang dilakukan oleh Personel Unit PPA Satreskrim Polres Pangkalpinang, kedua korban bungkam selama tujuh tahun dikarenakan mendapatkan ancaman akan pisah dengan ibu kandung serta termakan bujuk rayu MN yang pernah memberikan sepeda motor dan handphone. 

"Seorang ayah (tiri -red) di dalam rumah memiliki kekuasaan dan kontrol penuh atas anggota keluarga, termasuk terhadap anak-anaknya, sehingga dorongan dan peluang terbuka yang menjadi kesempatan bagi pelaku untuk melakukan perkosaan," ujar Fitri. 

Fitri mengatakan dalam kekuasaan dan kontrol seorang ayah, anak-anak berada dalam posisi lemah dan terancam bahkan itu di dalam rumah sendiri. 

Daya tarik seksual terhadap korban memang seolah-oleh menjadi motif utama pelaku, namun kepuasan cenderung didapatkan dari adanya kekuasaan dan kontrol terhadap korban. 

"Karena kepuasan tersebut sifatnya sementara, sehingga ketika kepuasan habis, pelaku akan melakukan perkosaan berulang-ulang. Hal ini menjadi motif, bagi pelaku yang melakukan perkosaan berulang terhadap anak sendiri. Fakta ini menunjukkan bahwa ternyata korban perkosaan bisa dialami oleh siapa saja, tidak hanya orang dewasa tapi juga anak-anak," jelasnya. 

Sementara itu Fitri menyebutkan, rudapaksa tidak hanya terjadi terhadap perempuan yang sering keluar malam, berpakain terbuka atau yang bertemu dengan orang asing, tetapi bisa terjadi terhadap siapapun.

"Rudapaksa justru terjadi karena ada niat, keinginan, dan rencana pelaku untuk melakukannya. Kesempatan kemudian menjadi faktor penentu, kapan tindakan rudapaksa dilakukan," ucapnya. 

Untuk menghindari terjadinya rudapaksa, Fitri tegas mengatakan pentingnya peran keluarga, serta mendapatkan dukungan dari pihak lain seperti konselor dan psikoterapis. 

"Sikap yang juga sangat penting untuk dimiliki oleh korban adalah kemampuan bertahan, serta mengatasi efek-efek rudapaksa seperti efek destruktif yang mengganggu psikis dan kesehatan mental korban. Sindrom trauma rudapaksa yang muncul sebagai efek jangka panjang, bisa diatasi untuk membantu korban mengembalikan kepercayaan dirinya," katanya. ( Bangkapos.com/Rizky Irianda Pahlevy) 


 
 

 
 
 

Sumber: bangkapos.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved