Breaking News:

Tribunners

Sindrom FOMO Hantui Generasi Z

Untuk para Gen Z agar terhindar dari sindrom FOMO, mereka harus menyaring setiap konten yang berpotensi dapat memunculkan FOMO

Editor: suhendri
Sindrom FOMO Hantui Generasi Z
ISTIMEWA
Ririn Septia, S.S.T., M.Ikom - Dosen Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung

Oleh: Ririn Septia, S.S.T., M.Ikom - Dosen Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung

SAAT ini penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-sehari sudah menjadi kebutuhan yang tidak dapat dipisahkan, terutama bagi para Gen Z. Gen Z sendiri adalah generasi yang lahir antara tahun 1996 sampai 2012. Para Gen Z lahir di saat keberadaan internet sudah sangat mudah diakses oleh orang di seluruh dunia. Hal tersebut tentu berpengaruh terhadap cara pandang, nilai-nilai serta tujuan hidup mereka. Ini dapat kita lihat bagaimana mereka sangat tergantung dengan gadget. Bahkan mereka memiliki moto "tiada hidup tanpa gadget".

Gen Z tidak terlepas dari tren di media sosial, khususnya Instagram dan TikTok. Media sosial yang perkembangannya sangat pesat inilah dapat menjadi ruang bagi seseorang membanding-bandingkan kehidupannya dengan kehidupan yang dialami oleh orang lain. Ini membuktikan bahwa teknologi dan media sosial sangat berpengaruh kuat ke kehidupan mereka.

Pengaruhnya tentu saja bukannya positif, tetapi juga dapat berdampak negatif. Salah satu dampak negatifnya adalah interaksi sosial yang seharusnya dilakukan secara langsung melalui tatap muka justru berubah menjadi tatap layar. Mereka beranggapan berkomunikasi secara online melalui internet lebih aman dan mudah daripada harus bertatap muka secara langsung, serta memudahkan mereka dalam mencari teman. Namun, hal ini jika dilakukan secara berlebihan maka akan menyebabkan patologi. Hasil penelitian JWT Intelligence menunjukkan bahwa ada sebanyak 40 persen pengguna internet di dunia mengalami FOMO.

Fear of Missing Out atau yang dikenal sebagai FOMO dapat diartikan sebagai perasaan cemas yang timbul jika seseorang tertinggal suatu informasi. Mudahnya, FOMO itu ketika seseorang merasa cemas jika ketinggalan sesuatu yang sedang viral di media sosial. Contohnya, baru-baru tren tentang Citayam Fashion Week, nah mereka akan merasa gelisah ketika sudah banyak yang mengikuti tren tersebut dan mempostingnya di media sosial, sedangkan dirinya belum melakukannya. FOMO mengharuskan seseorang untuk selalu mengakses media sosial agar selalu update.

Ketika tidak ada jaringan internet, FOMO akan merasa gelisah dan tidak tahan jika hanya mengutak-atik gadgetnya. Terkadang ketika sedang berkendara pun mereka tidak terlepas untuk memantau media sosialnya, hal tersebut tentu sudah irasional dan dapat membahayakan bagi mereka.

Putri dkk., 2019 dari hasil risetnya menyampaikan bahwa FOMO paling tinggi dialami oleh remaja akhir dan dewasa awal, yaitu pada usia 12-25 tahun. Sementara itu, menurut Gezgin dkk. (dalam Sianipar & Kaloekti, 2019) menyebutkan bahwa tingkat FOMO paling tinggi dialami pada usia 21 tahun ke bawah. Data tersebut menunjukkan bahwa FOMO paling banyak dialami oleh Generasi Z.

Berbagai hasil penelitian menyebutkan FOMO dapat mengakibatkan terganggunya kesehatan mental seseorang. Seseorang yang mengalami FOMO akan membuat individu memiliki keinginan lebih besar untuk mengetahui segala sesuatu yang terjadi di lingkungannya. Anak zaman sekarang biasanya menyebutnya dengan istilah "Kepo". Perilaku ini mendorong seseorang untuk terus-menerus bertahan dalam aktivitas di media sosialnya tanpa ada waktu yang membatasi sehingga dapat menyebabkan kecanduan media sosial (Abel dkk., 2016).

FOMO merupakan sebuah sindrom yang memiliki ciri atau gejala yang menjadi indikasinya, yaitu seseorang akan merasa dirinya gelisah ketika teman-temannya melakukan update di media sosial, merasa ingin selalu menjadi pusat perhatian, dan merasa terkucilkan jika tertinggal dari orang lain. Mereka lebih fokus pada penilaian orang di media sosial daripada di kehidupan nyatanya. Seseorang yang terkena sindrom ini akan memiliki potensi mengalami kecanduan dalam menggunakan media sosial.

Peran para orang tua serta peer group sangat dibutuhkan dalam mencegah terjadinya sindrom FOMO. Orang tua dan kelompok sosial seseorang harus dapat menjadi batas bagi seseorang dalam menggunakan media sosial. Ketika intensitas interaksi seseorang secara langsung lebih banyak dilakukan bersama keluarga dan kelompok sosialnya, maka penggunaan media sosial akan berkurang juga. Mereka dapat mengganti kebiasaan mereka dalam menggunakan media sosial dengan kegiatan lain yang lebih bermanfaat bersama orang lain.

Untuk para Gen Z agar terhindar dari sindrom FOMO, mereka harus menyaring setiap konten yang berpotensi dapat memunculkan FOMO dalam pencarian di media sosialnya serta menggantinya dengan konten-konten yang lebih bermanfaat. Mereka juga dapat terlibat dalam webinar yang dapat memberikan banyak manfaat bagi diri mereka. (*)

Sumber: bangkapos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved