Tribunners
"Kemerdekaan" Si Raja Ilmu
Bukan zamannya lagi matematika itu ilmu yang sulit, bukan lagi pelajaran yang membosankan ataupun guru galak yang melekat pada saat pembelajaran
Oleh: Wenny Giyanita - Guru SMPN 3 Pemali
BOLEH dikatakan matematika dan kehidupan bagai minyak dan air. Bukan karena tidak bisa bersatu, tetapi terlalu sulit untuk bisa bersentuhan, bahkan dalam kehidupan. Ada yang berkomentar kalau matematika sudah ada di kehidupan kita, misalnya saat kita di pasar. Asumsi itu tidak keliru, namun yang menjadi pertanyaan, matematika dalam konteks bagaimana?
Di pasar, kita menjumpai matematika dalam perhitungan penjumlahan, pengurangan, dan segala sesuatu tentang alat timbang. Tetapi, pernahkah bertemu langsung dengan pola bilangan, algoritma, garis, sudut, dan aljabar? Apabila kita menjumpai hal tersebut dapat dikatakan, kita memiliki pemahaman yang benar tentang matematika seutuhnya. Faktanya, ilmu matematika secara optimal mayoritas digunakan oleh peneliti, teknisi, atau mahasiswa jurusan matematika.
Pada hakikatnya matematika adalah ilmu pasti. Di mana 1+1 pasti jawabannya 2, tidak bisa diganggu gugat. Sudah paten sejak matematika pertama kali ditemukan. Sebagai ilmu pasti, matematika adalah raja dari segala ilmu pengetahuan (http://matematika.unpam.ac.id/2020). Raja dalam artian ilmu yang memimpin kemajuan sains dan teknologi. Segala proses perkembangan teknologi di dunia pasti menerapkan matematika dalam proses pembuatannya. Secara tak langsung berarti matematika memang bersentuhan langsung dengan kehidupan kita meskipun tak sepenuhnya.
Namun, dalam konteks satuan pendidikan, matematika masih dilabeli sebagai mata pelajaran yang membosankan, bahkan momok bagi murid. Jika diambil suara secara acak, mungkin dari 10 murid hanya 2 orang akan menyatakan suka dan mau belajar matematika. Adapun sisanya, kecenderungan murid akan mengatakan pembelajaran matematika itu membosankan atau sulit dipahami. Bahkan, diperparah dengan canggihnya teknologi membuat murid menyukai jalan pintas, yaitu penggunaan kalkulator dan aplikasi yang memudahkan mencari jawaban matematika.
Lalu kapan matematika merdeka? Merdeka dalam artian keleluasaan dalam proses pemahaman bagi murid. Lalu apa hubungannya dengan "kemerdekaan" matematika. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa merdeka di sini adalah merdeka dalam artian keleluasaan dalam proses pemahaman bagi murid. Di mana, praktik di lapangan, murid bisa menentukan bagaimana dia memahami sebuah informasi yang diberikan oleh guru secara tepat.
Berkaitan dengan hal tersebut, ikhtiar menjadikan pembelajaran matematika mendapatkan label positif dari murid, terus dilakukan oleh guru matematika. Teranyar Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi memberikan opsi pemberlakuan Kurikulum Merdeka yang benar-benar "merajakan" murid sebagai subjek pembelajaran bukan sebagai objek pembelajaran yang hanya menerima ilmu tanpa ada usaha bahkan niat belajar dari siswa.
Dalam konteks ini, matematika akan merdeka dalam pikiran murid, jika mereka diberi kesempatan untuk mengembangkan kreativitas, kemampuan berpikir logika dan sistematis menurut cara mereka. Ada murid yang suka belajar secara detail dan textbook, ada yang suka visual bahkan menyukai proyek langsung.
Sebagai contoh, untuk materi SMP kelas 7 bab Bilangan, submateri bilangan bulat. Penggunaan garis bilangan akan lebih menarik jika menggunakan tali warna dengan diberikan gambar geser dan angka. Murid akan diminta menarik gambar di tali yang sesuai dengan angka yang diminta. Ibaratnya belajar sambil bermain.
Dengan demikian, guru dituntut untuk terus belajar mendesain pembelajaran yang menarik, apik, berbobot, dan menyenangkan bagi pembelajaran murid. Merdeka matematika ditandai dengan merdekanya murid untuk menerima ilmu yang diberikan tanpa paksaan dengan cara yang menyenangkan.
Bukan zamannya lagi matematika itu ilmu yang sulit, bukan lagi pelajaran yang membosankan ataupun guru galak yang melekat pada saat pembelajaran. Sesuai dengan slogan, "kita tidak bisa memaksa ikan untuk memanjat pohon". Jadi berikan pembelajaran yang sesuai kodrat murid agar mereka merdeka secara pikiran dan hati sehingga matematika pun akan merdeka di hati para murid.
Hal ini sesuai dengan konsep merdeka belajar menurut Ki Hajar Dewantara, mendidik dan mengajar adalah proses memanusiakan manusia sehingga harus memerdekakan manusia dan segala aspek kehidupan baik secara fisik, mental , jasmani, dan rohani. Murid diajak untuk terjun langsung memahami materi sesuai kemampuan dan kodrat mereka. Artinya, meskipun pembelajaran pola bilangan, garis, sudut, aljabar, ataupun logaritma tidak secara detail dipertanyakan dalam kehidupan, tetapi murid dapat sedikit memahami proses penerapan rumus tersebut.
Misalnya untuk pola bilangan, murid akan diajak menentukan pola keteraturan dari sebuah angka. Apakah langsung bisa mereka temukan di kehidupan sehari-hari? Jawabannya tidak akan sepenuhnya langsung mereka temukan. Tetapi bukankah pembelajaran di awal akan menjadi pondasi dasar bagi murid untuk menyelesaikan soal yang lebih tinggi, guna persiapan ke jenjang pendidikan selanjutnya, melamar pekerjaan ataupun pengembangan ide untuk pembuatan suatu teknologi?
Dengan demikian, para guru dituntut untuk bisa menciptakan ide-ide pembelajaran yang menarik dan lebih mengarah ke proses perhitungan yang menyangkut kehidupan masyarakat agar kemerdekaan tidak hanya dirasakan oleh murid, tetapi juga matematika sebagai rajanya ilmu. Pada akhirnya si raja ilmu memiliki derajat yang sama dengan pelajaran lain guna memajukan negara, bangsa, dan sumber daya manusia. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20220920_Wenny-Giyanita-Guru-SMPN-3-Pemali.jpg)