Breaking News:

Tribunners

Perundungan Verbal Lebih Fatal Ketimbang Fisik

Kekerasan verbal berdampak buruk karena sifatnya yang tersembunyi dan melukai aspek mental dan psikologis seseorang

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Vega Galanteri - Guru MAN Insan Cendekia Bangka Tengah 

Oleh: Vega Galanteri - Guru MAN Insan Cendekia Bangka Tengah

BANYAK yang tidak menyadari bahwa kata-kata yang dianggap sebagai candaan dapat merusak mental seseorang. Misalnya, memberi julukan atau panggilan berdasarkan kekurangan orang lain seperti "si Gendut", "si Hitam", "si Judes", dan lain sebagainya. Bagi sebagian orang mungkin itu hal biasa sebagai bentuk "keakraban", tetapi apakah yang diberi julukan berpendapat demikian?

Ketika kata-kata itu memberi efek tidak menyenangkan bagi yang mendengarkan, hal tersebut dapat dikategorikan sebagai perundungan verbal. Perundungan verbal sering kali dilakukan tanpa sadar. Bahkan pelaku perundungan verbal merasa bahwa mereka sesungguhnya sedang melontarkan lelucon atau candaan. Ketika orang yang dirundung merasa tersinggung, mereka berdalih bahwa "korban" terlalu baperan menanggapi candaan tersebut.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), perundungan adalah proses, cara, perbuatan merundung; menyakiti orang lain, baik secara fisik maupun psikis, dalam bentuk kekerasan verbal, sosial, atau fisik berulang kali dari waktu ke waktu seperti memanggil nama seseorang dengan julukan yang tidak disukai, memukul, mendorong, menyebarkan rumor, mengancam, atau merongrong.

Sementara itu, Olweus D. (dalam Wolke dan Lereya, 2015) menyebutkan bahwa bullying (perundungan) adalah penyalahgunaan kekuatan serta perilaku agresif atau yang bertujuan untuk menyakiti orang lain yang dilakukan secara berulang dan melibatkan ketimpangan kekuatan baik secara nyata atau menurut anggapan antara pelaku dan korban. Jadi, dapat disimpulkan bahwa perundungan adalah bentuk perilaku yang dilakukan secara berulang-ulang untuk mengintimidasi dan menindas seseorang yang lebih lemah atau rendah dari pelaku perundungan untuk memperoleh pengakuan agar ditakuti.

Diniatkan atau tidak, aktivitas perundungan dapat memberikan dampak buruk dan dapat mengubah karakter baik pada pelaku maupun korban. Perundungan verbal atau verbal bullying sangat sering ditemui dan terjadi di mana-mana seperti tindakan memaki, mengejek, menggosip, membodohkan, dan mengerdilkan orang lain.

Perundungan verbal dapat terjadi di lingkungan keluarga, pergaulan, bahkan yang lebih parah di lingkungan pendidikan berupa kata-kata kasar atau ejekan yang ditujukan pada seseorang. Kata-kata tersebut digunakan sebagai alat untuk mematahkan semangat orang yang menerimanya. Hal tersebut dapat berlangsung cepat tanpa rasa sakit pada pelaku dan sangat menyakitkan korban atau target.

Sekalipun berskala ringan, perundungan verbal tidak boleh dimaklumi. Pemakluman tersebut akan membuat sesuatu yang tidak normal menjadi normal sehingga korban akan lebih mudah diserang tanpa mendapat perlindungan dari orang di sekitarnya karena merasa bahwa hal yang dialaminya adalah sesuatu yang normal dan biasa.

Kekerasan atau perundungan verbal sering kali dianggap remeh karena dampaknya tidak terlihat secara fisik dan orang yang melakukannya tidak menyadari bahwa telah melakukan tindakan kekerasan. Padahal, kekerasan verbal dapat menimbulkan dampak buruk, bahkan lebih mematikan karena merongrong kesehatan mental dan perkembangan psikologis seseorang. Psikolog klinis, Liza Marielly Djaprie seperti dikutip dari cnnindonesia.com mengatakan bahwa perundungan verbal memiliki efek yang lebih dahsyat daripada perundungan fisik. Menurutnya, efeknya tidak terlihat langsung tetapi cukup "mematikan".

Menikam mental

Halaman
1234
Sumber: bangkapos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved