Breaking News:

Tribunners

Gerakan Sekolah Menyenangkan Upaya Penguatan Profil Pelajar Pancasila

GSM merupakan gerakan sosial bersama guru untuk menciptakan budaya belajar yang kritis, kreatif, mandiri, dan menyenangkan di sekolah

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Rizma Panca Patriani, S.T., M.Pd. - Guru SMKN 1 Pangkalpinang 

Oleh: Rizma Panca Patriani, S.T., M.Pd. - Guru SMKN 1 Pangkalpinang dan Pengajar Praktik Program Guru Penggerak Angkatan 4 Kota Pangkalpinang

GERAKAN Sekolah Menyenangkan (GSM) merupakan gerakan akar rumput yang menyasar pembentukan atau pengembangan iklim ekosistem sekolah yang menyenangkan. GSM berawal dari pengalaman perubahan yang dialami oleh pendirinya, Muhammad Nur Rizal, dan sang istri, Novi Poespita Candra. Pengalaman ini didapatkan mereka ketika tinggal di Melbourne, Australia, untuk menempuh studi doktoral.

Rizal dan Novi menemukan inspirasi dari ketiga buah hatinya yang sangat mencintai sekolahnya. Dari situ, mereka melihat pendidikan Australia yang berbeda jauh dengan pendidikan Indonesia. Inspirasi ini dikembangkan saat mereka pulang ke Indonesia dengan membangun GSM pada tahun 2016. Rizal dan Novi merasa prihatin dengan pendidikan Indonesia yang masih mematok nilai dan ujian, padahal sebetulnya anak-anak bisa belajar dengan metode yang lebih menyenangkan.

Dalam praktiknya, GSM merangkul sekolah-sekolah pinggiran yang tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah. Tujuannya agar kualitas sekolah pinggiran juga bisa terangkat (dilansir dari laman https://sekolahmenyenangkan.or.id/tentang-kami/).

GSM dilaksanakan dengan memperhatikan empat prinsip yaitu:
1) Learning environment: Membangun lingkungan pembelajaran yang positif secara fisik dan sosial.
2) Pedagogical practice: Mengutamakan model pembelajaran yang mendorong siswa bereksplorasi, berefleksi, dan berpikir kritis.
3) Character development: Memantik perkembangan karakter baik siswa melalui lingkungan dan model pembelajaran.
4) School connectedness: Mendorong pelibatan semua pihak terutama wali murid dan masyarakat dalam menyukseskan proses pendidikan.

Program kerja GSM memperhatikan pola pikir pembelajaran abad 21. Pembelajaran abad 21 yang selalu bermula dari masalah konkret, lalu dicari solusinya melalui proyek, asesmen formatif dan tentunya berpusat pada siswa. Skema ini bertujuan memberikan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan masa depan.

Keterlibatan antara sekolah, orang tua, dan masyarakat untuk pendekatan pendidikan yang lebih menyeluruh. Pendekatan ini menciptakan sistem pendidikan secara berkelanjutan yang akan memfasilitasi potensi siswa untuk terus berkembang di era disrupsi. Guru seyogianya menjadi agen perubahan dalam pembelajaran dan ekosistem pendidikan, yang berpihak kepada siswa, mendukung tumbuh kembang siswa secara holistik sesuai dengan GSM serta merdeka belajar.

Merdeka belajar, guru dapat mencetak sebanyak mungkin agen-agen perubahan dalam ekosistem pendidikan yang mampu menghasilkan siswa yang berkompetensi global dan berkarakter, peningkatan prestasi akademik siswa, mengajar dengan kreatif dan mengembangkan diri secara aktif. GSM sangat memperhatikan pendidikan karakter siswa melalui pembelajaran keterampilan sosial-emosional. Paradigma pendidikan ini mengembalikan roh pendidikan Indonesia agar tidak hanya berfokus pada nilai, tetapi juga pada pengembangan karakter baik dan budi luhur siswa.

Guru profesional (istilah dalam GSM "guru penyimpang positif") sebagai pemimpin pembelajaran mampu melakukan perubahan pendidikan berbagi melalui praktik baik serta berkolaborasi dengan guru lainnya sesuai dengan semboyan GSM "Berubah, Berbagi, dan Berkolaborasi" sehingga mampu menciptakan lingkungan belajar yang positif. GSM dimulai dari akar rumput di mana perubahan pendidikan bermula dari guru berkolaborasi dengan guru-guru lain yang didukung oleh kepala sekolah, orang tua, organisasi-organisasi pendidikan, dan pemerintah. GSM mengajak pemerintah berperan lebih dalam memfasilitasi dan menciptakan iklim untuk mewujudkan profesionalisme guru.

Program GSM disambut baik oleh Dirjen Vokasi Kemendikbudristek. Program transformasi pendidikan GSM selaras dengan program Dirjen Vokasi yang memandang bahwa GSM sangat sesuai diadopsi di sekolah menengah kejuruan (SMK). Acara yang diikuti kepala Balai Besar/Balai Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV/BPPMPV) dan kepala SMK ini bertujuan mendukung penciptaan ekosistem pendidikan positif guna menyiapkan peserta didik SMK yang berkarakter dan sesuai kebutuhan Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI).

Halaman
12
Sumber: bangkapos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved