Breaking News:

Tribunners

Hari Tani Momentum untuk Bangkit

Petani merupakan profesi yang mulia. Dengan kemampuannya, mereka mampu memengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Dedy Firiansyah, S.PKP - Penyuluh Pertanian Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Bangka 

Oleh: Dedy Firiansyah, S.PKP - Penyuluh Pertanian Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Bangka

BULAN September merupakan bulan yang istimewa bagi dunia pertanian di Indonesia. Hal ini dikarenakan pada bulan ini dirayakannya Hari Tani Nasional. Perayaan yang jatuh pada 24 September tersebut diperingati dengan tujuan untuk mengenang perjuangan kaum tani dalam memperjuangkan status kepemilikan tanah mereka serta hak untuk mengelolanya. Selain itu, dipilihnya tanggal ini juga sebagai momentum pengesahan Undang-Undang Nomor 05 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok Pokok Agraria serta ditetapkannya Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 169 Tahun 1963.

Dalam rangka mengenang Hari Tani Nasional, pemerintah khususnya Kementerian Pertanian Republik Indonesia, telah mencanangkan berbagai program kegiatan yang inovatif dan kreatif setiap tahunnya dengan tujuan meningkatkan perekonomian di Indonesia. Sekarang timbul pertanyaan, bagaimanakah dengan peringatan Hari Tani tahun 2022 ini? Apakah sudah mampu memenuhi target yang dicanangkan sebelumnya atau tidak? Terlebih-lebih dengan adanya fluktuasi harga berbagai komoditas pertanian Indonesia menimbulkan gejolak antara kepentingan petani dengan masyarakat.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Produk Domestik Bruto (PDB) lapangan usaha pertanian Atas Dasar Berlaku (ADHB) mencapai Rp426,31 triliun pada kuartal 1 tahun 2022. Jika diukur menurut besaran PDB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) 2010, sektor tersebut tumbuh 1,52 persen pada kuartal 1 tahun 2022 dibanding kuartal 1 tahun sebelumnya (year on year).

Subsektor peternakan mencatat pertumbuhan tertinggi pada kuartal 1 tahun 2022 yaitu sebesar 6,92 persen (yoy). Diikuti subsektor tanaman hortikultura yang tumbuh 3,58 persen (yoy), serta sektor jasa pertanian dan perburuan yang tumbuh 1,06 % (YOY), sedangkan sektor tanaman pangan dan perkebunan masing-masing mengalami kontraksi 0,32 % (yoy) dan 0,24 % pada kuartal 1 tahun ini.

Meskipun mengalami kontraksi, subsektor tanaman perkebunan berkontribusi paling besar terhadap PDB sektor pertanian kuartal 1 tahun 2022 sebesar 37,32 % , disusul tanaman pangan 28,59 % , peternakan 17,62 % , hortikultura 14,41 % serta jasa pertanian dan perburuan 2,06 % .

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyebutkan sektor pertanian telah menjadi andalan Pertumbuhan Domestik Bruto (PDB) Indonesia sejak tiga tahun terakhir selama wabah pandemi Covid-19 melanda dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya yang mengalami perlambatan. BPS telah merilis pertumbuhan ekonomi kuartal II tahun 2022 yang menyatakan bahwa terdapat tiga sektor yang mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,44 % . Salah satunya adalah sektor pertanian.

Meskipun sektor pertanian mampu memberikan kontribusi positif dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional, sektor ini juga mengalami permasalahan yang cukup memprihatinkan, mulai dari mogok produksi industri tahu dan tempe akibat lonjakan harga kedelai, melonjaknya harga cabai yang melejit di atas Rp100 ribu melebihi harga daging, kenaikan harga bawang merah dan bawang putih, kenaikan harga tepung, serta meroketnya harga TBS sawit yang diikuti melonjaknya harga pupuk dan sarana produksi pertanian di pasaran yang mengakibatkan naiknya harga minyak goreng di tengah masyarakat.

Permainan naik turunnya harga TBS ini ternyata berbuntut panjang. Hal ini dapat diketahui dari adanya perubahan harga TBS yang mengalami penurunan harga terendah. Anjloknya harga TBS sampai titik terendah ini membuat para petani sawit melalui Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) melakukan aksi turun ke jalan yang berpusat di Jakarta memprotes penurunan harga. Aksi demo ini pun turut didukung dan diikuti oleh Apkasindo dari seluruh daerah penghasil sawit Indonesia. Belum terselesaikannya permasalahan yang disebutkan sebelumnya, muncul masalah baru di dunia pertanian di Indonesia, yaitu yang terbaru serangan wabah penyakit mulut dan kuku (PMK).

Kenaikan harga beberapa komoditas pertanian bagai dua sisi mata uang yang sangat berbeda. Di satu sisi, kenaikan harga komoditas pertanian merupakan angin segar serta berkah yang sangat ditunggu dan dinantikan petani di tengah naiknya biaya produksi produk pertanian. Kenaikan harga ini sangat berpengaruh terhadap pendapatan dan kesejahteraan petani, apalagi kenaikan ini tidak terjadi sepanjang tahun, tetapi hanya terjadi pada momen-momen tertentu, tak pelak ini menjadi berkah tersendiri bagi petani. Kenaikan harga ini mampu memberikan semangat positif bagi para petani untuk meningkatkan kinerjanya di tengah gempuran rasa waswas akan kenaikan harga pupuk, pestisida, serta ancaman gagal panen yang selama ini menjadi momok menakutkan bagi para petani.

Halaman
1234
Sumber: bangkapos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved