Breaking News:

Tribunners

Mengajar Para Thumbelina

Thumbelina mempunyai kebiasaan dan kemampuan awal yang berbeda dengan generasi sebelum-sebelumnya dikarenakan mereka lahir di era digitalisasi

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Rolan Dartony Sianturi, S.Pd. - Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMKN 2 Pangkalpinang 

Oleh: Rolan Dartony Sianturi, S.Pd. - Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMKN 2 Pangkalpinang

KEBANYAKAN orang lebih suka berbicara daripada mendengarkan. Sanggup bertahan lama menyalak namun tidak sabar untuk menyimak. Kebanyakan guru senang menjelaskan, abai terhadap motivasi siswa mengikuti pelajaran yang sudah berantakan.

Generasi Alpha adalah peserta didik yang sekarang duduk di bangku sekolah jenjang menengah. Orang-orang Prancis menyebut generasi Alpha ini dengan julukan Dactylos yang jika dibahasa-Inggriskan hampir serupa dengan makna "Typists" atau dalam bahasa Indonesia dapat diidiomkan sebagai "Tukang Ketik". Buku berbahasa Prancis berjudul Petite Poucette karya seorang profesor Universitas Stanford -Michel Serres- yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan berganti judul menjadi Thumbelina: The Culture and Technology of Millennials menyebut generasi Alpha ini sebagai Thumbelina.

Thumbelina mengetik lebih cepat dibanding generasi yang pernah ada sebelumnya. Kemahiran Thumbelina berburu pengetahuan baru pada perangkat digital dan kepiawaiannya berkomunikasi lewat berbagai media bahkan telah mengalahkan gurunya. Thumbelina mempunyai kebiasaan dan kemampuan awal yang berbeda dengan generasi sebelum-sebelumnya dikarenakan mereka lahir di era digitalisasi, era komunikasi dua arah.

Hampir dipastikan, saat siswa lulus sudah ada gelombang teknologi yang berubah. Implikasinya, jika kecakapan yang diajarkan berfokus pada hal yang spesifik untuk kondisi masa kini, kecakapannya sangat mungkin tidak dibutuhkan lagi di masa nanti. Guru harus mampu memahami situasi seperti ini, menangkap sumber perubahan zaman untuk mengeksplorasi kecakapan fundamental apa yang selalu terkini.

Serres yang juga seorang filsuf berkesimpulan bahwa salah satu penyebab paling utama siswa merasa bosan belajar dan bersekolah adalah bahwa pengajaran yang dilakukan oleh gurunya tak relevan untuk mereka. Pengajaran yang dahulunya selalu tatap muka kini sudah bertransformasi dalam bentuk sibernetika. Pengetahuan yang dahulunya selalu berbentuk dalam karya cetak telah bermetamorfosis ke dalam bentuk abstrak.

Thumbelina tidak lagi hidup di dunia yang sama dengan guru mereka sehingga sistem pendidikan yang selama ini dipedomani guru sudah tidak cocok lagi untuk mereka. Thumbelina bukan generasi seperti gurunya dahulu bersekolah dengan memuja kesunyian dalam ruang-ruang kelas. Thumbelina lebih nyaman belajar dengan suara-suara dan keriuhan. Tentunya ini menjawab pertanyaan guru, mengapa thumbelina susah diatur? Tak seperti saat gurunya bersekolah dahulu yang penurut dan gampang diatur. Ingat, Thumbelina adalah generasi yang gemas jika guru berulang-ulang melantunkan litani "diam" dalam ruang-ruang kelas!

Lalu bagaimana seyogianya mengajar untuk para Thumbelina? Penulis akan membagikan pengalaman penulis berupa praktik baik belajar mengajar dalam merangsang siswa mempelajari keilmuan teoretis dan keterampilan bernalar. Dua kemampuan dasar ini penulis pikir harus dikuasai oleh para Thumbelina dikarenakan makin hari makin menghegemoni teknologi kecerdasan buatan mengambil alih pekerjaan rutin, prosedural, dan berulang yang memang bukan kecakapan manusia untuk mengerjakannya secara cepat, sempurna dan teliti. Pekerjaan semacam ini pun akan makin tergantikan dari manusia sehingga ke depannya manusia mengerjakan pekerjaan yang makin manusiawi pula. Manusia mengerjakan tugas sesuai dengan keunikannya sebagai manusia.

Adapun penulis, yang mengemban tugas sebagai wakil kepala sekolah bidang kurikulum di sekolah kejuruan memiliki tugas yang salah satunya memastikan kegiatan pembelajaran berorientasi praktik berjalan baik dengan hasil yang optimum. Ditambah lagi, penulis yang mengemban tugas sebagai guru Kompetensi Keahlian Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan berkewajiban memfasilitasi siswa belajar menggunakan alat praktik sesuai dengan standar industri dan kenyamanan praktik dalam ruang laboratorium guna mencetak Thumbelina-Thumbelina yang terampil dengan kemampuan yang membuat industri dunia kerja berdecak kagum.

Langkah pertama yang perlu dilakukan tentunya memastikan siswa belajar sesuai dengan zamannya. Penulis kemudian mencoba metode pembelajaran dengan bertukar peran. Simpelnya terlihat seperti siswa menjelaskan dan guru mendengarkan.

Halaman
123
Sumber: bangkapos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved