Breaking News:

Konflik Russia dan Ukraina Bikin Tisu Toilet di Jerman Jadi Langka, Kok Bisa?

Rusia telah menutup Nord Stream 1, sebuah pipa yang membentang di bawah Laut Baltik menuju Jerman

Grid.ID
Ilustrasi tisu toilet 

BANGKAPOS.COM - Konflik Russia dan Ukraina ternyata berimbas ke terhadap langkanya tisu toilet di Jerman, kok bisa?

Negara Jerman mendadak krisis tisu toilet lantaran adanya dampak harga gas dan krisis energi di Eropa.

Kini, tisu toilet ghanya memiliki persedian terbatas dan mulai dibanderol dengan harga yang lebih tinggi.

Beberapa perusahaan telah menyatakan kebangkrutan atau memutus produksi karena melonjaknya harga energi, karena para pemimpin industri meminta pemerintah untuk memperkenalkan batasan harga.

Krisis energi yang menyebabkan langkanya tisu toilet di Jerman disebut-sebut berimbas dari ulah konflik Russia-Ukraina.

Berdasarkan laporan Finacial Times pada Jumat (23/9/2022), Rusia telah menutup Nord Stream 1, sebuah pipa yang membentang di bawah Laut Baltik menuju Jerman.

Pipa itu merupakan salah satu sumber gas utama di Benua Eropa. 

"Industri hidup dari energi, dan jika energi terhenti, perusahaan tak akan mampu membelinya lagi," kata Henrik Follmann, kepala eksekutif Follmann Chemie, perusahaan bahan kimia yang memasok produsen kertas bahan tisu.

Kepala Kebijakan Energi dan Iklim di Asosiasi  Bisnis BDCarsten Rolle,I, menyatakan krisis masih akan terus berlanjut.

"Dari apa yang kita dengar, krisis ini kemungkinan akan lebih parah bagi industri manufaktur, ketimbang dampak Covid-19," ujar Rolle.

Diketahui akibat krisis itu, Perusahaan tisu toilet Essity, pemilik sejumlah merek seperti Zewa, Libresse, dan Lotus, menaikkan harga tisu toilet sebesar 18 persen.

Untuk membikin satu roll induk tisu toilet dengan lebar dua meter, Essity menghabiskan 700 kilowatt listrik, daya yang bisa menghangatkan rumah satu keluarga dalam beberapa minggu, selama musim dingin.

Sementara itu, pabrikan tisu toilet lainnya seperti Hakle, yang beroperasi sejak 1982, menyatakan bangkrut.

Mereka mengeklaim lonjakan harga energi, tingginya biaya pulp dan biaya transportasi, membuat bisnis kacau secara finansial.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved