Breaking News:

Berita Bangka Tengah

Dua ABK yang Terjun ke Laut Bangka Tidak Terdaftar di Buku Sijil, Nakhoda Terancam Hukuman

Kasus ABK kabur dengan cara terjun ke laut sempat membuat heboh. Satu ABK meninggal dunia akibat kelelahan saat berenang hingga mayatnya ditemukan

Bangkapos/Arya Bima Mahendra
Muhammad Yondri (20), saat memberikan keterangan pihak kepolisian, Senin (12/9/2022) sore di depan kamar mayat RSUD Bateng, Koba. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Dua ABK (anak buah kapal) Muhammad Yondri (20) dan Rafi Maulana (20) nekat terjun ke laut Bangka ternyata tidak terdaftar di buku sijil.

Kasus ABK kabur dengan cara terjun ke laut sempat membuat heboh. Satu di antara ABK meninggal dunia akibat kelelahan saat berenang hingga kemudian mayatnya ditemukan pada Senin (12/9/2022) pagi.

ABK Yondri dan Rafi diketahui tidak terdaftar di buku sijil.

Buku sijil adalah buku yang berisi daftar awak kapal yang bekerja di atas kapal sesuai dengan jabatan dan tanggal naik turunnya yang disahkan oleh Syahbandar.

Baca juga: Ada Suara Terengah-engah Saat Ditelepon, Firasat Istri Ternyata Benar Suami Sedang Mabuk Janda

Baca juga: Inilah Ibrahim Sjarief Assegaf, Suami Najwa Shihab, Pantes Jarang Tersorot Sebab Karakternya Begini

Baca juga: Tak Masuk Dalam Data Non ASN BKN, Sejumlah Pegawai Honorer Pemprov Babel Kecewa

Baca juga: Siapa Surya Manarung? TikTokers Pengidap Sindrom Langka yang Kini Nikahi Gadis Cantik

Sementara kapal memiliki dokumen lengkap dan mengantongi izin resmi.

"Jadi perkara ini kami tangani dengan mengacu berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang pelayaran," ujar Kasat Polairud Polres Bangka Tengah, Iptu Eddy Syuaidi saat diwawancarai Bangkapos.com, Selasa (27/9/2022).

Pemilik kapal dianggap melanggar Pasal 145 yang bunyinya setiap orang dilarang memperkerjakan seseorang di atas kapal dengan jabatan apapun tanpa sijil.

"Untuk ancaman hukumannya dijatuhkan kepada nakhoda kapal yakni penjara dua tahun dan denda sekitar Rp300 juta," sambungnya.

Meski demikian, Eddy menjelaskan bahwa yang melakukan pemberian sanksi atau hukuman tersebut adalah dari Dinas Ke lautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Babel baik itu sanksi adminitrasi maupun sanksi lainnya.

"Saat ini berkas perkaranya masih diperiksa oleh DKP karena nanti mereka yang memutuskan akan memberi sanksi apa. Karena ini kan pelanggarannya berupa administrasi," imbuhnya.

Kapal compreng ( kapal penangkap cumi) tempat Rafi dan Yondri sudah diamankan di Pelabuhan Pangkal Balam dan sempat dipasangi garis polisi serta belum beroperasi lagi sampai sekarang.

"Kami sudah melakukan penyidikan dan untuk berkas perkaranya sudah kami limpahkan ke Dinas Ke lautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Bangka Belitung," jelas Eddy.

Perkara Gaji Tak Sesuai 

Diketahui sejak awal bekerja, para ABK diberi pinjaman uang Rp 4 juta rupiah sebagai modal awal untuk membeli peralatan pancing atau untuk dikirimkan kepada keluarga di rumah dan membeli keperluan di kapal.

Halaman
1234
Sumber: bangkapos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved