Breaking News:

Berita Bangka Selatan

Menguak Kisah Benteng Toboali Sebagai Cagar Budaya, Bangunan Bersejarah di Luar Sumatera

Seminar dengan konsep "study on the spot" yang diikuti lebih dari 200 orang ini tidak hanya dari Bangka Selatan saja.

Penulis: Adi Saputra | Editor: Tedja Pramana
Ist/Humas
Seminar Sejarah 265 tahun Benteng Toboali, Selasa (27/9/9/2022). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Dari 405 benteng yang terdaftar di Indonesia, 49 diantaranya atau 12 persen sudah ditetapkan statusnya sebagai cagar budaya, satu diantaranya adalah benteng Toboali.

Hal itu disampaikan Desse Yussubrasta, Pamong Budaya Ahli Madya Direktorat Pelindungan Kebudayaan, Dirjen Kebudayaan, Kemendikbudristek diacara seminar sejarah di Toboali, Bangka Selatan 25 September 2022.

Seminar yang digagas oleh Yayasan Jelajah Bangka INDONESIA ini mengangkat tema "265 Tahun benteng Toboali - Menguak Sejarah Benteng Terbesar di Luar Sumatera", diselenggarakan dalam rangka memperingati hari pariwisata Internasional, World Tourism Day 2022 yang diperingati pada tanggal 27 September tiap tahunnya.

Hadir sebagai narasumber dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, DrWawan Gunawan Ssn MM selaku Direktur Pengembangan Destinasi I yang meliputi wilayah kerja Sumatera dan Jawa mengatakan sangat takjub melihat potensi pariwisata di Kabupaten Bangka Selatan terutama Destinasi Wisata Sejarah Benteng Toboali.

Sejarawan Bangka Belitung, Dato' Akhmad Elvian DPMP mengatakan Toboali merupakan kota tua yang terletak di pesisir Barat bagian Selatan pulau Bangka dan diperkirakan mulai tumbuh dan berkembang diawal abad 18 Masehi.

Kota Toboali (dalam beberapa literatur seperti pada halaman pertama manuskrip yang disusun oleh Abang Arifin Tumenggung Kertanegara I pada Tahun 1878 ditulis dalam huruf Arab Melayu yang dibaca "Toboalih" (Wieringa, 1990).

Toboali disebut dengan kota, karena pada wilayahnya terdapat bangunan benteng pertahanan.

"Benteng atau parit pertahanan yang dibangun oleh sultan Susuhunan Sultan Ahmad Najamuddin I Adikesumo kemudian oleh pemerintah kerajaan Inggris dalam Map of the Island of Banka Compiled from Remarks and Materials Collected during a Journey Through the Island Annexed to a Report on the same and Addressed to the honourable Thomas Stamford Raffles disebut dengan Stockade of Toobooallie dan difungsikan menjadi kantor pusat Inspektur tambang Timah dan markas militer pasukan Inggris. Benteng kemudian diperbaharui oleh pemerintah Hindia Belanda pada Tahun 1820 dan Tahun 1825 Masehi (dalam Plan van het Fort Toboaly yang disusun Tahun 1825 Masehi) dan oleh pemerintah Hindia Belanda disebut dengan Fort Toboalij."

Seminar dengan konsep "study on the spot" yang diikuti lebih dari 200 orang ini tidak hanya dari Bangka Selatan saja. Peserta dari Kabupaten Bangka, Bangka Barat, Pangkalpinang dan sekitarnya telah disiapkan transportasinya oleh panitia dengan mengerahkan 3 bis dan belasan mobil lainnya.

Decia, peserta dari SMA Negeri 3 Pangkalpinang mengatakan senang bisa mengikuti seminar ini. "Seminar sejarah ini cukup menarik dan menambah wawasan bagi saya pak, terimakasih juga atas pertunjukan acara tadi," ungkapnya, Selasa (27/9/2022).

Darpin Asnan selaku Ketua Yayasan Jelajah Bangka Indonesia yang menyelenggarakan acara tersebut mengatakan, kegiatan seminar sejarah ini bekerjasama dengan Pemkab Bangka Selatan yang didukung oleh PT Timah Tbk, MSI Cab Kepulauan Bangka Belitung, komunitas Bekaes Budaya, Bank Sumsel Babel dan digawi official.

"Sejarah terjadi pada setiap orang, melintasi perjalanan waktu yang sangat panjang, Yayasan Jelajah Bangka INDONESIA hadir dan akan terus berupaya untuk menggali, mempelajari dan mengedukasi sejarah dan budaya yang ada di Bangka khususnya," ujar Alvin Azra sapaan akrabnya.

(*/Bangkapos.com)

Sumber: bangkapos.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved