Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Dampak Kenaikan BBM di Bangka Belitung, Inflasi Semakin Tajam Daya Beli Masyarakat Tertekan

Anggota DPRD Provinsi Bangka Belitung, Firmansyah Levi, mengatakan dampak dari kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi terjadi pada inflasi

Penulis: Riki Pratama | Editor: nurhayati
Bangkapos.com/Riki Pratama
Anggota DPRD Provinsi Bangka Belitung, Firmansyah Levi. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Anggota DPRD Provinsi Bangka Belitung, Firmansyah Levi, mengatakan dampak dari kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi terjadi pada inflasi dan daya beli masyarakat Bangka Belitung.

"Kami menilai kenaikan harga BBM ini menjadikan inflasi semakin tajam dan membuat daya beli masyarakat tertekan," kata Firmansyah kepada Bangkapos.com, Kamis (29/9/2022).

Ia mengakui, bahwa kebutuhan BBM bersubsidi di Bangka Belitung cukup tinggi. Terutama untuk aktivitas pertambangan dan nelayan. 

"Mereka ini merasakan dampaknya, kelangkaan BBM sudah terjadi di daerah Bangka Belitung sendiri, dan harga eceran juga sangat melonjak tinggi, ini sangat tidak terjangkau di masyarakat kecil. Ini kemudian menjadi titik persoalan," ungkap anggota dewan yang akrab disapa Levi ini.

Baca juga: Ribuan Honorer di Pemprov Babel Tak Masuk Data Non ASN BKN, DPRD Minta Jangan Ada yang Dizalimi

Baca juga: DPRD Bangka Belitung Ingatkan Pemprov untuk Terus Tingkatkan Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit

Ia menegaskan, anggota Komisi III DPRD Bangka Belitung bersama pemerintah provinsi bakal berusaha membahas persoalan ini, terkait dampak dari kenaikan BBM ini.

"Kami segera membahas dengan pemerintah provinsi atas kenaikan BBM ini untuk mempersiapkan program bantuan sosial untuk masyarakat Babel. Sehingga kenaikan BBM ini tidak begitu berdampak luas bagi masyarakat kita," tegasnya.

Berharap Kompensasi Tepat Sasaran

Anggota DPRD Provinsi Bangka Belitung, Heryawandi
Anggota DPRD Provinsi Bangka Belitung, Heryawandi (IST/Dokumentasi Pribadi Hery)

Sementara, Anggota Komisi IV DPRD Bangka Belitung, Heryawandi, menyampaikan berkaitan bantuan BLT yang diberikan pemerintah pasca kenaikan BBM hanya meringankan beban masyarakat dalam jangka pendek.

"Terkait BLT yang sudah mulai dicairkan oleh pemerintah pusat sebagai kompensasi kenaikan BBM sepertinya dapat sedikit meringankan beban ekonomi jangka pendek masyarakat penerima," kata Heryawandi.

Ia berharap kompensasi atau bantuan ini dapat tepat sasaran sehingga bagi penerima dapat memanfaatkan bantuan dengan baik dan efektif.

"Kami menilai jika bantuan ini hanyalah berorientasi jangka pendek dan dianggap sebagian pihak kurang mendidik. Karena yang merasakan dampak kenaikan BBM ini tidak hanya pekerja saja bahkan yang lebih parah adalah di sektor petani, nelayan , usaha kecil dan sektor ekonomi rakyat yang lain," terangnya.

Baca juga: Cuaca Bangka Belitung Hari Ini Cerah, 3 Daerah Hujan Ringan

Baca juga: Belum Miliki Jamban, 487 Warga Pangkalpinang Masih BAB Sembarangan, Ini Kata Wali Kota

Ia berpesan, program kedepannya harus dapat dirasakan hingga jangka panjang, misalnya seperti pinjaman bergulir dari tiap sektor yang ada di Republik Indonesia yang bersangkutan erat dengan BBM.

"Ke depan kita berharap pemerintah bisa membangun skema bantuan yang lebih berorientasi jangka panjang. Seperti pinjaman bergulir bagi petani ataupun usaha kecil dengan bunga yang sangat minim bahkan jika memungkinkan pinjaman tanpa bunga," saran Heryawandi.

"Jika uang konvensasi BBM cukup besar ini kita buatkan skema program yang berorientasi jangka panjang. Terutama berorientasi pada pembangunan sektor sektor ekonomi rakyat, saya yakin kesejahteraan dan pemerataan ekonomi pun bisa dicapai oleh bangsa dan daerah ini ke depan," kata Heryawandi.

( Bangkapos.com/Riki Pratama)

 

 

Sumber: bangkapos.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved