Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Prilaku BAB Sembarangan Masih Marak di Babel, Pengamat: Akan Timbulkan Rantai Penyakit

Menurutnya BAB sembarangan akan menyebarkan rantai penyakit yang disebarkan melalui kotoran tinja dan urine.

Ist/dok pribadi
Dosen Jurusan Gizi Poltekkes Pangkalpinang, Dwi Handini. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Perilaku buang air besar (BAB) sembarangan masih terjadi di Bangka Belitung (Babel). Di sejumlah daerah, masyarakat masih BAB sembarangan di kali atau sungai.

Berdasarkan pernyataan Kepala Dinas Kesehatan Kota Pangkalpinang, dr Masagus M Hakim mengatakan beberapa waktu lalu dimana , sedikitnya terdapat 487 rumah di ibukota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang belum memiliki jamban. Sehingga mereka kerap melakukan perilaku buang air besar sembarangan atau BABS.

Menyikapi hal itu Dosen Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Pangkalpinang, Dwi Handini mengungkapkan bahwa BAB sembarangan dapat berdampak buruk tak hanya pada pelaku, tetapi juga orang lain yang tinggal di lingkungan sekitar khususnya bagi faktor kesehatan.

Menurutnya BAB sembarangan akan menyebarkan rantai penyakit yang disebarkan melalui kotoran tinja dan urine.

"Peranan tinja dalam penyebaran penyakit cukup besar, selain dapat mengkontaminasi makanan, minuman, sayuran dan sebagainya juga mencemari air, tanah, sebagai tempat perkembang biakan serangga," ucapnya kepada Bangkapos.com Kamis (29/9/2022) sore.

Sehingga masalah yang perlu diwaspadai adalah dampak penyakit yang dapat disebarkan oleh tinja manusia antara lain: tipus, disentri, kolera, bermacam-macam cacing (gelang, kremi, tambang dan pita), schistosomiasis, dan lainnya.

"Mereka pun bisa mandi dan mencuci pakaian di sungai yang sama. Akibatnya, mereka rentan terkena penyakit diare. Selain diare, balita mudah terserang pneumonia dari pencemaran tinja melalui udara," jelasnya.

Akademisi itu menilai dampak penyakit yang paling sering terjadi akibat BAB sembarangan ke sungai adalah Escherichia coli. Itu merupakan penyakit yang membuat orang terkena diare. Setelah bisa menjadi dehidrasi, lalu karena kondisi tubuh turun maka masuklah penyakit-penyakit lain.

Oleh karena itu semua pihak harus sadar dan bersegera membuat sanitasi termasuk toilet yang sehat. Hal ini selaras dengan kegiatan yang dicanangkan pemerintah dalam bentuk Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).

Program STBM diyakini akan membuat anak-anak bisa tumbuh sehat dan memiliki pola hidup bersih.

Namun untuk menjalankan komitmen ini butuh peran serta masyarakat dan banyak pihak terkait, agar semua cita-cita menurunkan angka kematian cepat terwujud. Semua orang harus memiliki jalan pikiran sama menghilangkan budaya BAB sembarangan.

"Sanitasi Total Berbasis Masyarakat adalah sebuah pendekatan kepada masyarakat. Intinya semua adalah masalah bersama. Penyelesaiannya butuh peran serta semua masyarakat," jelasnya.

Selain itu ia mengaskan juga perlunya pembuatan jamban yang sehat bagi setiap masyarakat. Kategori jamban disebut sehat jika pembuangan kotorannya di penampungan khusus tinja atau septic tank .Kalau buangnya ke sungai, itu belum termasuk sehat.

Kementerian Kesehatan menetapkan tujuh syarat untuk membuat jamban sehat:

1. Tidak mencemari air

2. Tidak mencemari tanah permukaan

3. Bebas dari serangga

4. Tidak menimbulkan bau dan nyaman digunakan

5. Aman digunakan oleh pemakainya

6. Mudah dibersihkan dan tak menimbulkan gangguan bagi pemakainya

7. Tidak menimbulkan pandangan yang kurang sopan

(Bangkapos.com/Akhmad Rifqi Ramadhani)

Sumber: bangkapos.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved