Breaking News:

Suporter Aremania Ungkapkan Kronologis Tragedi Kanjuruhan, Ini Penyebab Banyaknya Korban Jiwa

Suporter Aremania Udin membeberkan kronologis, terjadinya tragedi memilukan di Stadion Kanjuruhan Malang yang membuat banyak korban meninggal dunia. 

Penulis: Rizki Irianda Pahlevy | Editor: nurhayati
Dok/YouTube Yayasan LBH Indonesia
Siaran YouTube Yayasan LBH Indonesia yang menggelar konferensi pers Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan bersama dengan Korda Aremania, Rabu (5/10/2022).  

BANGKAPOS.COM -- Suporter Aremania Udin membeberkan kronologis, terjadinya tragedi memilukan di Stadion Kanjuruhan Malang yang membuat banyak korban meninggal dunia. 

Kronologis ini diungkapkan Udin melalui siaran YouTube Yayasan LBH Indonesia yang digelar oleh Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan bersama dengan Korda Aremania, Rabu (5/10/2022). 

Udin mengungkapkan tragedi Kanjuruhan bukan disebabkan, adanya kericuhan ataupun kerusuhan yang dilakukan oleh antar suporter. 

Pihaknya pun menyoroti penggunaan gas air mata oleh aparat kepolisian yang menyalahi hingga melanggar, regulasi FIFA pasal 19 b yang melarang penggunaan gas air mata. 

"Ini kelalaian kita semua, terutama dari pihak brimob yang kita tahu mereka tidak bisa menahan diri. Dalam regulasi pun tidak memperbolehkan pihak keamanan, masuk dalam stadion membawa senjata api dan gas air mata. Membawa senjata gas air mata saja tidak boleh, apalagi sampai ditembakkan," ungkap Udin, Rabu (5/10/2022). 

Baca juga: Misteri Pemberi Perintah Penembakan Gas Air Mata, KontraS Tuntut Kapolda Jatim Mundur dari Jabatan

Baca juga: Penggunaan Gas Air Mata Tuai Sorotan, Beginilah Aturan Penggunaan Gas Air Mata oleh Kepolisian?

Dirinya yang juga pada saat kejadian berada di Stadion Kanjuruhan pada Sabtu (1/10/2022) lalu itu, mengungkapkan melihat adanya tembakan yang diarahkan langsung ke tribun selatan penonton. 

"Ini malah ditembakkan membabi buta, awalnya tembakan gas air mata ditembakkan ke arah lapangan utara jadi tidak masuk tribun. Setelah itu tembakan kedua, meluas mengarah ke atas. Lalu ada tembakan ke arah selatan, ini begitu ditembakkan langsung diarahkan ke tribun penonton," jelasnya. 

Kian mirisnya Udin pun juga menyaksikan langsung, adanya dugaan upaya penghalang-halangan yang dilakukan oleh aparat saat ada korban yang meminta pertolongan untuk menggunakan mobil ambulans. 

"Saya lihat wanita pingsan digotong orang, keadaan genting mereka membawa ke mobil ambulans. Tapi mereka malah ditolak sama pihak brimob, saya tidak tahu dia selamat atau tidak," ucapnya. 

Baca juga: Update Tragedi Stadion Kanjuruhan, Inilah Daftar Nama 131 Korban Tewas, Ada 33 Anak-anak

Lebih lanjut Amnesty Internasional Indonesia, Nurina mengatakan perlu adanya penyelidikan yang terbuka dan independen, oleh tim gabungan untuk mengusut tuntas tragedi Kanjuruhan. 

"Yang jelas bukan hanya sebatas menyelidiki di level etik tapi dilevel pidana, ini yang diharapkan untuk menjawab keadilan bagi korban dan keluarga," kata Nurina. 

Sementara itu Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan bersama dengan Korda Aremania, kini mendorong revolusi kepolisian terkait penegakan dan penindakan yang merefleksikan demokrasi, kekeluargaan, hak asasi manusia, konstitusional dan rule of law.

(Bangkapos.com/Rizky Irianda Pahlevy)

Sumber: bangkapos.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved