Breaking News:

Tribunners

Selamatkan Generasi Muda Kita

Kita tidak bisa saling menyalahkan dan menyudutkan. Mari kita bersama bahu-membahu menyelamatkan generasi muda Bangka Belitung

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Yulham Fridanto, S.Pd. - Guru SMAN 1 Pemali 

Oleh: Yulham Fridanto, S.Pd. - Guru SMAN 1 Pemali

MEMBACA surat kabar Bangka Pos pada Senin, 29 Agustus 2022, dengan judul "Siswi SMP-SMA Terlibat Open BO, Bustami: Ini Seperti Fenomena Gunung Es", sebagai seorang pendidik, penulis merasa prihatin dan khawatir dengan cara pergaulan generasi muda milenial sekarang ini. Dimanakah peran penting orang tua dalam pengawasan tumbuh kembang dan tingkah laku para remaja?

Pastinya ada faktor yang melatarbelakangi mengapa sampai terjadi permasalahan ini sehingga mengakibatkan mundurnya moral pada sebagian generasi muda Bangka Belitung. Faktor penting yang penulis pikir cukup berperan dalam hal tersebut tentunya keluarga/orang tua. Keluarga dinilai sebagai faktor yang paling penting dalam meletakkan dasar bagi perkembangan moral/akhlak, karena sebagai tempat pendidikan pertama bagi remaja. Orang tua juga merupakan tempat yang paling utama bagi perkembangan fisik, mental, dan rohani anak.

Namun, pada kenyataannya banyak orang tua yang kurang paham tentang perannya tersebut. Para orang tua terlalu disibukkan dengan pekerjaannya sehingga beranggapan bahwa pergaulan dan pendidikan bagi anak-anaknya cukup pada urusan sekolah saja. Hal tersebut membuat anak melakukan perilaku yang tidak sesuai norma, terutama saat kegiatan di luar rumah.

Orang tua yang terlalu sibuk bekerja sangat berpengaruh dengan mundurnya moral generasi muda. Kita semua mengetahui bahwa pada saat sekarang ini orang tua, baik ibu maupun ayah, dituntut bekerja dengan jadwal yang padat dari pagi sampai sore selama lima hari kerja dari hari Senin sampai Jumat. Waktu luang orang tua untuk berkumpul dengan anak-anaknya hanya dua hari, Sabtu dan Minggu bagi mereka (orang tua) yang bekerja kantoran atau sejenisnya.

Terkadang dua hari berkualitas itu pun masih digunakan untuk bekerja. Tuntutan pekerjaan bagi sebagian orang tua itu dapat kita lihat di kota-kota besar di Indonesia. Pagi-pagi sekali sebelum Subuh para orang tua sudah harus berangkat kerja, pulang dari kerja sekitar waktu salat Isya bahkan lebih. Sampai di rumah orang tua sudah kelelahan, anak-anak sudah tidur dan itu terjadi setiap hari. Pengawasan orang tua terhadap anak-anak mereka pun tidak maksimal.

Dengan demikian, dampaknya dapat kita lihat dengan kehidupan remajanya. Banyak sekali kegiatan ataupun perbuatan negatif yang mereka lakukan, seperti tawuran, merokok, narkoba bahkan pergaulan bebas, sebagaimana terjadi akhir-akhir ini di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Bagaimana dengan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang kita cintai ini? Kita sadari atau tidak, perlahan-lahan kita sudah mulai mengikuti gaya hidup kota-kota besar. Apalagi dengan tuntutan jadwal pekerjaan yang padat. Orang tua yang bekerja hanya memiliki lebih sedikit waktu untuk dihabiskan di rumah bersama anak-anak mereka.

Dengan demikian, ikatan emosional yang dimiliki orang tua dengan anak-anak mereka menjadi tidak baik. Orangtua tidak dapat menghabiskan waktu berkualitas dengan anak-anak. Mereka sering kali kurang mendapat dukungan dan pengawasan yang diperlukan. Anak-anak kita (generasi muda) yang kurang mendapatkan pengawasan orang tua dapat membuat mereka kehilangan semangat, dan berdampak serius pada kegiatan belajar mereka di sekolah. Tanpa pengawasan orang tua, anak juga kemungkinan besar akan melakukan kegiatan buruk akibat tekanan teman sebaya mereka.

Masalah lain yang dapat ditimbulkan dengan jadwal pekerjaan yang demikian padat adalah keharmonisan hubungan suami istri. Suami istri yang sama-sama bekerja tidak akan punya cukup waktu untuk berkomunikasi dengan baik. Ketika mereka pulang dari bekerja, keduanya sudah dalam keadaan lelah. Waktu yang berkualitas bagi suami istri sangat sulit didapatkan dan berdampak buruk pada kelangsungan hubungan mereka. Justru waktu berkomunikasi yang banyak didapatkan adalah di tempat kerja. Keadaan seperti inilah yang dapat merusak keharmonisan keluarga sehingga terjadilah perselingkuhan di tempat kerja.

Dengan kemunduran moral yang sedang kita hadapi ini, pastinya menjadikan tanggung jawab dan pikiran kita bersama untuk mencari solusi terbaik. Kita tidak bisa saling menyalahkan dan menyudutkan. Mari kita bersama bahu-membahu menyelamatkan generasi muda Bangka Belitung, karena di tangan merekalah nasib Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ke depannya digantungkan. Ayo selamatkan generasi muda kita! (*)

Sumber: bangkapos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved