Breaking News:

Bangka Pos Hari Ini

Cuaca Ekstrem Hantui Nelayan Bangka Belitung, Perahu Abeng Nyaris Terbalik

Untuk mencari ikan, Abeng mesti terombang-ambing di lautan lepas minimal delapan hari sampai ke perairan Belitung.

Editor: Novita
Dokumentasi Bangka Pos
Bangka Pos Edisi Rabu, 12 Oktober 2022 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Puluhan perahu nelayan berjejer rapi di Dermaga Pangkalarang, Kecamatan Pangkalbalam, Kota Pangkalpinang, Selasa (11/10) sore. Perahu yang dihiasi bendera merah putih berukuran kecil itu satu sama lain saling berhimpitan.

Sejumlah nelayan, terlihat menyibukkan diri dengan aktivitas lain di luar mencari ikan. Ada yang sedang memperbaiki jala, ada pula yang sekadar nongkrong sembari berbincang sesama nelayan.

Dari kejauhan, seorang lelaki paruh baya tampak sibuk merapikan alat tangkap ikannya di atas sebuah perahu berwarna biru. Mengenakan baju kaus warna merah, dia merapikan jala yang kusut, pancing, lampu, hingga mengisi bahan bakar.

Pria itu adalah Abeng (40). Dia seorang nelayan tradisional yang menggantungkan hidupnya dengan mencari ikan di laut. Di bawah rintik hujan, Abeng tampak lelah dan berkeringat. Namun Warga Pangkalarang, Kecamatan Pangkalbalam ini tetap bersemangat dan bersiap untuk kembali melaut ke Selat Gelasa Belitung, walaupun cuaca kurang bersahabat.

"Sebelum melaut, saya harus bereskan dulu perahunya, siapin solar dan lain-lain. Kalau hujan begini sudah biasa jadi tidak masalah, hujan tetap melaut buat cari uang," ucap Abeng kepada Bangka Pos, Selasa (11/10/2022) sore.

Pria yang telah melaut sejak duduk di kelas enam Sekolah Dasar (SD) itu mengakui saat ini cuaca di laut sangat ekstrem. Badai dan gelombang tinggi yang tiba-tiba datang menghantui para nelayan.

Namun Abeng mengaku dirinya dan beberapa nelayan lain tetap nekad melaut. Pasalnya profesi nelayan merupakan pekerjaan satu-satunya yang bisa dilakukan untuk mencari
nafkah.

"Dari kecil sudah melaut, lagipula kalau sudah tua begini mau kerja dimana lagi, susah cari kerja, sehingga nelayan ini bagian dari perjalanan hidup," ucapnya sembari merapikan topi kupluk yang dikenakannya.

Untuk mencari ikan, Abeng mesti terombang-ambing di lautan lepas minimal delapan hari sampai ke perairan Belitung. Itu pun belum tentu tangkapannya banyak, apalagi dengan kondisi cuaca ekstrem seperti saat ini.

"Tapi ini sudah risiko melaut. Sebelum berangkat cuaca cerah, tapi nanti bisa jadi saat di tengah laut ada badai," ungkapnya.

Namun, hal tersebut bukan menjadi alasan baginya untuk tidak melaut sebab ada anak istri yang harus dinafkahinya.

Angin Barat Daya

Abeng mengakui, saat melaut para nelayan kerap dihantui dengan angin barat daya. Saat itu kondisi perairan sangat mencekam. Hujan deras, puting beliung, petir menggelegar tak bisa dielakkan nelayan.

Lanjut Abeng, pusaran angin menjadi pemandangan paling mengerikan bagi nelayan. Apalagi kondisi itu berlangsung cukup lama.

Halaman
1234
Sumber: bangkapos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved