Breaking News:

Tribunners

Perilaku Malas Belajar

Siapa pun yang dihinggapi rasa malas akan kacau kinerjanya dan ini jelas sangat merugikan

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Helmi Ibrahim, S.Pd. -Wakil Kepala Sekolah Bidang Ketarunaan SMKN 4 Pangkalpinang 

Oleh: Helmi Ibrahim, S.Pd. - Wakil Kepala Sekolah Bidang Ketarunaan SMKN 4 Pangkalpinang

PERILAKU malas sejatinya merupakan sejenis penyakit mental. Siapa pun yang dihinggapi rasa malas akan kacau kinerjanya dan ini jelas sangat merugikan. Sukses dalam belajar, karier, bisnis, dan kehidupan umumnya tidak pernah datang pada orang yang malas. Rasa malas juga menggambarkan hilangnya motivasi seseorang untuk melakukan pekerjaan atau apa yang sesungguhnya dia inginkan.

Menurut (Edy Zaqeus: 2008), rasa malas diartikan sebagai keengganan seseorang untuk melakukan sesuatu yang seharusnya atau sebaiknya dia lakukan. Masuk dalam keluarga besar rasa malas adalah menolak tugas, tidak disiplin, tidak tekun, rasa sungkan, suka menunda sesuatu dan mengalihkan diri dari kewajiban.

Pendapat lain menyebutkan bahwa malas juga merupakan salah satu bentuk perilaku negatif yang merugikan. Pasalnya, pengaruh malas ini cukup besar terhadap produktivitas. Karena malas, seseorang sering kali tidak produktif, bahkan mengalami stagnasi. Badan terasa lesu, semangat dan gairah menurun, ide pun tak mengalir. Akibatnya tidak ada kekuatan apa pun yang membuat siswa dapat belajar.Kalau dibiarkan saja, penyakit malas ini akan makin 'kronis'.

Pada era globalisasi, perilaku malas sangat merugikan. Sebab, pada era ini berlaku nilai siapa yang mampu dan produktif, dialah yang akan berhasil. Tetapi tentu saja, perilaku ini bukanlah kartu mati yang tidak bisa diubah.

Menurut pakar psikologi, seseorang berperilaku malas belajar atau suatu kegiatan disebabkan karena dia tidak memiliki motivasi yang kuat setiap kali mengerjakan sesuatu. Seorang yang malas belajar, motivasinya terhadap pelajaran tersebut sangat rendah. Sikapnya terhadap pelajaran itu cenderung negatif akibat persepsi yang diberikannya terhadap pelajaran itu kurang baik. Ini lantaran sistem nilai yang ada dalam dirinya membuat dia berperilaku malas untuk melakukan aktivitas belajar, sedangkan terhadap kegiatan lainnya mungkin tidak begitu.

Perilaku malas belajar merupakan suatu hasil bentukan. Artinya, perilaku itu bisa dibentuk kembali menjadi baik atau tidak malas. Pembentukan kembali perilaku seseorang tadi sebetulnya sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya, bisa orang tua, teman, atau orang lain di sekitarnya. Dengan demikian, dalam mengubah perilaku seseorang, yang paling mendasar adalah mengubah persepsinya. Untuk itu, perlu mempelajari dan mengambil sistem nilai yang bisa mengubah persepsinya atau memberikan sistem nilai lain yang baru baginya.

Menurut Dollard & Miller, psikolog asal AS, perilaku manusia terbentuk karena faktor kebiasaan. Jika seseorang terbiasa bersikap rajin dan bersemangat maka ia akan selalu rajin dan bersemangat, begitu juga sebaliknya. Dengan demikian, jika Anda tergolong pemalas, jalan untuk mengubahnya adalah dengan membiasakan diri untuk melawan sikap malas.

Dollard & Miller menambahkan, 'teori belajar' juga cocok untuk mengubah sikap malas. Belajar di sini dijabarkan memberikan stimulus (rangsangan) agar terbentuk respons sehingga menimbulkan drive atau dorongan untuk berperilaku. Dan kalau berhasil, Anda akan mendapatkan reward atau imbalan.

Perilaku malas belajar jelas merugikan. Obat mujarabnya adalah sebagai berikut:

1. Menumbuhkan kebiasaan disiplin diri dan menjaga kebiasaan positif tersebut. Sekalipun seseorang memiliki cita-cita atau impian yang besar, jika kemalasannya mudah muncul, maka cita-cita atau impian besar itu akan tetap tinggal di alam impian. Jadi, kalau Anda ingin sukses, jangan mempermudah munculnya rasa malas.

2. Konseling eklektif
Konseling merupakan bantuan yang bersifat terapeutis yang diarahkan untuk mengubah sikap dan perilaku konseli, dilaksanakan face to face antara konseli dan konselor, melalui teknik wawancara dengan konseli sehingga dapat terentaskan permasalahan yang dialaminya. Teknik konseling eklektif merupakan penggabungan dua pendekatan direktif dan non-direktif.

Konseling eklektif yang mengambil berbagai kebaikan dari dua pendekatan atau dari berbagai teori konseling, untuk dapat dikembangkan dan diterapkan dalam praktik sesuai dengan permasalahan klien. Konseling eklektif lebih tepat dan sesuai dengan filsafat tujuan bimbingan dan konseling dari pada sikap yang hanya mengandalkan satu pendekatan atau satu dua teori tertentu saja (Moh. Surya : 1988).

3. Konseling direktif
Dalam konseling direktif, klien bersifat pasif, dan yang aktif adalah konselor. Dengan demikian, inisiatif dan peranan utama pemecahan masalah lebih banyak ditentukan oleh konselor. Klien bersifat menerima perlakuan dan lebih banyak ditentukan oleh konselor.

Halaman
12
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved