Tribunners

Pojok Baca, Merangsang Siswa Membaca

Rendahnya minat baca masyarakat kita akan berdampak pada kualitas sumber daya manusianya.

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Fafiana Kartika, S.Pd. - Guru Bahasa Indonesia SMKN 1 Kelapa 

Oleh: Fafiana Kartika, S.Pd. - Guru Bahasa Indonesia SMKN 1 Kelapa

KEGIATAN membaca saat ini kita ketahui belum menjadi sesuatu yang menarik minat anak-anak di Indonesia. Tentu saja hal itu menjadi tugas kita khususnya dunia pendidikan. Memang, tidaklah mudah untuk mengubah aktivitas membaca menjadi sebuah budaya. Rendahnya minat baca masyarakat kita akan berdampak pada kualitas sumber daya manusianya.

Membaca dalam bahasa Indonesia merupakan keterampilan yang harus dimiliki bahkan dikuasai oleh siswa khususnya. Kemampuan membaca yang dimiliki seseorang tentu akan menambah nilai kemampuan dirinya yaitu kemampuan memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas yang tentu saja akan menambah rasa percaya diri dalam diri seseorang. Membaca membuat kita memahami dunia dan lingkungannya.

Keterampilan membaca memiliki banyak hal positifnya bagi siswa, salah satunya dapat menambah wawasan siswa. Saat seseorang memiliki kemampuan membaca yang baik, maka ia akan dapat menyerap berbagai macam pengetahuan. Hal itu tentu saja akan membantu siswa dalam proses pembelajaran. Seperti yang telah kita ketahui bahwa Indonesia saat ini sedang menggalakkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). GLS ini berupaya menumbuhkan minat baca siswa yang bertujuan agar siswa memiliki budaya membaca sehingga tercipta pembelajaran sepanjang hayat.

Gerakan Literasi Sekolah ini merupakan upaya menyeluruh yang melibatkan semua warga sekolah baik guru, peserta didik, orang tua/wali murid, dan masyarakat, sebagai bagian dari ekosistem pendidikan sehingga membutuhkan dukungan kolaboratif berbagai elemen. Cikal gerakan ini adalah Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Upaya yang ditempuh untuk mewujudkan berupa upaya pembiasaan membaca.

Membaca merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang harus dimiliki siswa. Literasi lebih dari sekedar membaca dan menulis, namun mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, dan auditorium.

Literasi pada dasarnya pada kemampuan membaca dan menulis. Kemampuan ini juga bisa dilepaskan dari kemampuan menyimak dan berbicara. Dengan demikian, literasi identik dengan kemampuan menyeluruh yaitu keterampilan berbahasa yang terdiri dari kemampuan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Oleh karena seseorang dikatakan literate (terdidik) apabila ia menguasai keempat keterampilan berbahasa. Dari keempat keterampilan berbahasa tersebut, keterampilan membaca dan menulis perlu terus dipelajari, dilatih, dan dibiasakan secara konsisten.

Berbagai cara yang dilakukan untuk meningkatkan minat baca siswa di sekolah misalnya dengan program membudayakan membaca dengan cara menambahkan jumlah buku di perpustakaan. Cara lain yang bisa dilakukan mendekatkan siswa terhadap sumber bacaan, yaitu dengan membuat pojok baca. Pojok baca merupakan sudut ruang dalam kelas yang dilengkapi rak buku yang menarik bagi anak yang berperan sebagai perpanjang fungsi dari perpustakaan.

Berkaitan dengan gerakan tersebut, guru harus melakukan hal-hal kreatif terkait budaya literasi. Salah satu dengan menciptakan pojok baca yang menarik di setiap kelas. Semua ini membutuhkan kreativitas guru yang bersangkutan. Pojok baca merupakan program, dimana setiap kelas diharuskan membuat sudut tempat siswa-siswi membaca, program ini sangat bermanfaat karena siswa diarahkan untuk menjadi produktif dalam membaca, di sini disediakan buku-buku tentang pendidikan serta ilmu pengetahuan, serta karya siswa yang dapat menumbuhkan keunikan dan keestetikaan.

Pada jenjang SMK, guru bisa menugaskan siswa untuk membuatnya dengan kreasi mereka yang penting setiap kelas ada pojok baca yang setiap hari dimanfaatkan. Bentuk kreasi siswa dengan membuat gambar yang menarik di pojok baca sehingga siswa tidak bosan untuk datang ke tempat itu. Pojok baca di setiap kelas memiliki manfaat lain yaitu membantu perpustakaan sekolah dalam membudayakan rutinitas membaca.

Setiap kelas disediakan lemari buku, kemudian lemari tersebut diisi dengan buku nonpelajaran misalnya buku nonfiksi dan fiksi, setiap bulan buku tersebut diganti dengan buku lain, dengan demikian siswa tidak bosan. Diharapkan juga dalam satu bulan siswa dapat selesai membaca buku tersebut. Untuk sedikit merangsang siswa membaca, siswa diminta untuk membuat ringkasan dari buku yang telah dibacanya, kemudian setiap hari Jumat secara bergiliran siswa membacakan hasil yang ditulisnya di depan seluruh siswa. Buku yang telah dibaca dibuat resensi buku.

Pojok baca program 15 menit membaca sudah dilaksanakan di SMKN 1 Kelapa. Sebelum memulai pelajaran selama 15 menit siswa diminta untuk membaca buku yang disediakan di pojok baca. Program ini telah dilakukan satu tahun yang lalu, tentunya awal pelaksanaan ada sedikit pemaksaan kepada siswa, mengapa demikian? Semua ini disebabkan belum adanya pembiasaan membaca pada siswa SMKN 1 Kelapa.

Program lain juga yang berkaitan dengan pojok baca di SMKN 1 Kelapa, setiap hari Jumat pagi siswa diminta untuk membacakan resensi dari buku yang telah mereka baca. Selain itu, siswa juga bisa menampilkan hasil karyanya, contohnya membuat puisi, pidato kemudian dibacakan di depan seluruh siswa dan guru SMKN 1 Kelapa. Dengan program ini selain menambah kreativitas siswa juga dapat menumbuhkan rasa percaya diri siswa.

Pojok baca selain merangsang siswa gemar membaca dan memiliki daya pikir yang baik, pojok baca dapat dikaitkan sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran oleh guru. Misalnya guru memberikan tugas yang berkaitan dengan mata pelajaran, misalnya mata pelajaran bahasa Indonesia memberi tugas mencari artikel yang berhubungan atau berkaitan dengan biografi, kemudian siswa diberi tugas untuk menuliskan hal-hal yang patut diteladani dari tokoh tersebut, setelah selesai siswa diminta untuk membaca. Keteladanan dari tokoh tersebut dapat mereka contoh dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Diharapkan dari karakter tokoh tersebut akan mengubah pola pikir anak didik kita.

Dengan adanya pojok baca diharapkan dapat memberi manfaat bagi sekolah, bagi semua warga sekolah dan dapat mengangkat minat baca. Dengan membiasakan diri membaca dapat mengubah hidup dan jalan pikiran. Tingginya minat baca suatu bangasa amat menentukan kualitas sumber daya manusia, sedangkan kualitas sumber daya manusia sangat menentukan perkembangan suatu bangsa. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved