Breaking News:

Info Kesehatan

Pasien Paling Dominan di RSJ Babel Kategori Skizofrenia Paranoid, Simak Penjelasan dr Imelda

Pasien gangguan kejiwaan Kategori Skizofrenia Paranoid, jumlahnya paling dominan di Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Bangka Belitung (Babel).

bangkapos.com
Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa RSJD Bangka Belitung dr. Imelda Gracia Gani. (Bangkapos.com/Akhmad Rifqi Ramadhani) 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Pasien gangguan kejiwaan Kategori Skizofrenia Paranoid, jumlahnya paling dominan di Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Bangka Belitung (Babel).

Lebih 50 persen pasien yang mendatangi atau rawat jalan dan rawat inap di RSJ ini  kategori Pasien Skizofrenia.

Psikiater sekaligus Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa RSJD Bangka Belitung, dr Imelda Gracia Gani, Senin (14/112022) menyebutkan, skizofrenia paranoid merupakan satu jenis skizofrenia yang ditandai gejala khas, seperti keyakinan pada sesuatu yang tidak nyata dan halusinasi. 

"Skizofrenia paranoid adalah jenis skizofrenia yang paling sering terjadi. Umumnya, penderita skizofrenia paranoid akan merasakan kecurigaan dan ketakutan terhadap orang lain atau sesuatu yang tidak nyata," ucapnya kepada Bangkapos.com Senin (14/11/2022) sore.

Lebih lanjut kata dia, pasien skizofrenia paranoid juga biasanya mengalami beberapa gejala tertentu, seperti merasa diperintah, dikejar, dikendalikan oleh orang lain. Sehingga, hal inilah yang memengaruhi caranya dalam berpikir dan berperilaku.

"Gejala utama skizofrenia paranoid adalah kemunculan delusi (waham) dan halusinasi, terutama halusinasi pendengaran. Gejala ini dapat berkembang seiring berjalannya waktu dan terkadang dapat mereda meski tidak sepenuhnya sembuh," jelasnya.

Di antara banyaknya jenis delusi, delusi kejar adalah gejala yang paling sering terjadi. Delusi kejar adalah delusi yang membuat penderitanya merasa akan disakiti oleh orang lain. Kondisi ini ditandai munculnya rasa takut dan kecemasan yang besar pada orang lain.

Ia juga mengatakan ketika pasien gelisah dan merasa terancam akibat gejala psikotik maka menyebabkan pasien  berhalusinasi serta delusi, sehingga pasien menganggap halusinasi itu adalah sebagai sesuatu yang nyata. "Misalnya dia mendengar perintah untuk membunuh atau halusinasi seperti itu," jelasnya

Oleh karena itu lanjut dia, sebagai petugas medis, pihaknya harus hati-hati dan harus bekerja tim karena dan tidak bisa sendirian. "Biasanya kalau kondisi seperti itu maka harus dilakukan pengamanan terlebih dahulu, security juga ikut bantu dan diberikan obat injeksi misalnya jika pasien susah minum obat sampai dengan kondisinya membaik," jelasnya.

Sementara itu, skizofrenia paranoid merupakan gangguan mental yang diderita seumur hidup. Namun, melalui bantuan dokter dan perawatan rutin, gejala penyakit ini dapat diredakan dan penderitanya dapat beradaptasi dengan kondisi yang dialaminya.

Penyebab utama skizofrenia paranoid adalah adanya ketidakseimbangan neurotransmitter di otak. Untuk itu, jika pasien terkena skizofrenia paranoid maka akan diberikan obat antipsikotik yang bertujuan untuk mengembalikan neurotransmitter menjadi normal kembali sehingga fungsi otak kembali normal.

Namun, selain obat, asuhan medis dan keperawatan juga sangat penting dalam membantu pasien menghadapi halusinasi dan delusi yg dialami, misalnya berupa latihan ketrampilan sosial, latihan perawatan diri, latihan kerja, dan lainnya yang bertujuan agar pasien dapat kembali berfungsi secara optimal.

Imelda mengimbau agar masyarakat selalu menerapkan pola hidup sehat, tidur cukup serta tidak menggunakan zat yang merusak otak seperti narkoba aibon, ganja dan alokohol.

Hal itu dikarenakan zat tersebut dapat menyebabkan kerusakan pada otak sehingga memicu gangguan jiwa karena tidak adanya keseimbangan pada struktur otak 

"Upaya pencegahannya adalah dengan pola asuh yang baik, memperkuat ketahanan mental, resiliesi yang baik, pola hidup sehat, menghindari penggunaan obat2 berbahaya dan adiktif (Napza)," jelasnya. ( Bangkapos.com/Akhmad Rifqi Ramadhani)

 

 

Sumber: bangkapos.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved