Tribunners
Antisipasi Tenggelamnya Kota Pangkalpinang
Upaya sederhana yang bisa kita perbuat untuk mengerem laju pemanasan global adalah dengan mengubah gaya hidup untuk lebih peduli lingkungan
Oleh: Dr. Sisnayati, S.T., M.T. - Dosen FT Universitas Tamansiswa Palembang/Alumnus SMAN 1 Sungailiat
MASIH segar dalam ingatan kita pidato Presiden Amerika Serikat Joe Biden di kantor Direktur Intelijen Nasional (27/7/2021) yang menyinggung akan tenggelamnya Jakarta dalam 10 tahun mendatang. Yang lebih longgar, menyebutkan Jakarta akan tenggelam tahun 2050. Hasil laporan Kompas (20/8/2021) menyebutkan, 199 kabupaten/kota pesisir di Indonesia bakal terkena banjir rob tahun 2050. Sekitar 118.000 hektare wilayah akan terendam air laut dan ada 8,6 juta warga yang terdampak. Kerugian ditaksir Rp 1,576 triliun.
Harian Bangka Pos (8/11/2022) pernah memberitakan bahwa Kota Pangkalpinang akan tenggelam pada 2050. Berita ini melansir laporan penelitian Kepala Laboratorium Geodesi ITB Heri Andreas. Dalam penelitian tersebut terungkap bukan hanya Jakarta yang diproyeksi bakal tenggelam. Di Sumatera, daerah yang diprediksi tenggelam, di antaranya Kota Pangkalpinang, Padang, Medan, Sibolga, hingga Banda Aceh.
Menyangkut sebab musababnya, perubahan iklim dan pemanasan global banyak disebut sebagai pemicu utama tenggelamnya kota-kota, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di sejumlah negara lain. Pemanasan global menyebabkan tudung es di wilayah kutub mencair dan meninggikan tinggi permukaan laut dunia. Dalam penelitian Heri Andreas, terungkap bahwa ketinggian permukaan air laut naik 3-8 mm setiap tahun.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengingatkan, situasi dunia kini sedang dalam bahaya. Keadaan demikian itu nyata dan meminjam ungkapan Inggris, itu "a clear and present danger" atau "bahaya riil dan ada sekarang". Buktinya? Secara global, suhu rata-rata dunia tahun 2020 ada pada 1,11 derajat celsius di atas suhu rata-rata dunia pada era pra-Revolusi Industri, 250 tahun silam.
Angka ini sudah mendekati ambang batas 1,5 derajat celsius, batas tertinggi suhu global untuk melindungi dunia dari bencana iklim lebih luas. Kita bisa mengatakan, jangankan suhu naik 1,5 derajat celsius, yang ada sekarang ini saja sudah membuat kondisi minimum tidak nyaman. Bukan hanya kenaikan permukaan air laut, pemanasan global sudah membuat kita menderita. Pemanasan global telah menyebabkan kebakaran hutan dan lahan, intensitas puting beliung meningkat, juga bencana hidrometeorologi, khususnya banjir dan tanah longsor.
Beberapa pemimpin dunia tidak henti-hentinya menyuarakan pentingnya menekan laju pemanasan global. Namun, realisasinya masih jauh dari harapan. Banyak pihak yang skeptis bahwa berbagai deklarasi yang dikeluarkan pada setiap pertemuan internasional tak lebih hanya sekadar retorika belaka. Biasanya pergantian rezim ganti juga komitmen. Bahkan, Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan, negara-negara belum cukup berbuat untuk mengerem laju pemanasan global (Kompas, 21/8/2021).
Penulis sepakat dengan Fadillah Sabri, Rektor Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung, yang menyarankan untuk ada upaya antisipasi oleh pemerintah daerah dari prediksi bakal tenggelamnya Kota Pangkalpinang. Tentu saja antisipasi tidak hanya dilakukan oleh pemerintah daerah, kita sendiri juga harus melakukan aksi untuk mengerem laju pemanasan global ini.
Upaya sederhana yang bisa kita perbuat untuk mengerem laju pemanasan global adalah dengan mengubah gaya hidup untuk lebih peduli lingkungan. Selama ini harus kita akui bahwa gaya hidup manusia tidak menyatu dengan alam, makin memperparah perusakan lingkungan. Dan ini tidak hanya terjadi di negara kita, bahkan telah menjadi fenomena global.
Sebagai contoh, masyarakat kita tidak terbiasa menggunakan transportasi ramah lingkungan dalam beraktivitas. Mereka lebih suka menggunakan transportasi kendaraan bermotor. Itu pun mereka lebih suka menggunakan kendaraan pribadi. Dari hasil penelitian pengaruh transportasi terhadap perubahan iklim sebagai berikut: pesawat terbang mengeluarkan emisi CO2 sebesar 53 persen, kendaraan pribadi (31 persen), bus (13,2 persen), kereta api (1,6 persen). Namun karena kendaraan pribadi adalah moda yang paling banyak digunakan maka moda ini adalah penyumbang emisi CO2 terbanyak.
Hal lain yang bisa kita lakukan adalah dengan menghemat energi. Kita harus mencabut kabel peralatan listrik yang tidak digunakan, menggunakan lampu hemat energi, dan membiasakan diri memanfaatkan cahaya matahari untuk penerangan ruangan. Kita juga bisa memanfaatkan penyejuk ruangan di rumah dengan lebih bijak dengan membatasi penggunaannya. Menyalakan penyejuk ruangan tanpa henti sepanjang hari cukup memengaruhi pemanasan global yang dihasilkan dari freon pada mesin tersebut.
Mengurangi sisa makanan dapat juga kita lakukan. Masyarakat banyak membeli pangan, namun sayangnya konsumsi makanan mereka sering berlebih sehingga terbuang sia-sia. Makanan yang menjadi sampah amat berbahaya bagi alam. Makanan yang menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA) akan mengeluarkan gas metana. Metana merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau, tetapi mudah terbakar.
Metana adalah gas yang 21 kali lebih berbahaya ketimbang karbon dioksida. Bahaya metana terutama pada pemanasan global. Metana merupakan satu dari enam gas rumah kaca yang memengaruhi konsentrasi atmosfer. Data global bahwa 7 persen gas rumah kaca berupa gas metana yang disumbang oleh sampah makanan. Kenaikan emisi karbon juga disebabkan kebiasaan masyarakat kita yang lebih suka membuang sampah plastik tidak pada tempatnya, juga kebiasaan masyarakat menebang kayu dan membakar lahan untuk membuka kebun.
Di samping itu, kita juga bisa mengurangi penggunaan kantong plastik atau botol plastik, dengan cara membawa sendiri kantong dan botol plastik saat berbelanja atau bepergian. Kalaupun kita terpaksa menggunakan kantong atau botol plastik, hendaklah dipilah sampah organik dan anorganik sebelum dibawa ke TPA.
Oleh karena itu, untuk mengatasi pemanasan global dan perubahan iklim, perlu dilakukan secara bersama oleh berbagai pihak, masyarakat perlu mengubah gaya hidup. Lingkungan bukan untuk dieksploitasi, tetapi seharusnya memaknai lingkungan sebagai bagian dari hidup manusia yang harus dipelihara dengan penuh rasa tanggung jawab. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20221122_Sisnayati-Dosen-FT-Universitas-Tamansiswa.jpg)