Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Rokok Penyumbang Garis Kemiskinan Kedua di Babel, Akademisi Sebut Fenomena Ini Mengkhawatirkan

Rokok menjadi komoditi makanan terbesar kedua setelah beras, sebagai penyumbang garis kemiskinan di Bangka Belitung (Babel).

Penulis: Akhmad Rifqi Ramadhani | Editor: nurhayati
Bangkapos.com / Andini Dwi Hasanah
Distributor rokok di Kota Pangkalpinang 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Rokok menjadi komoditi makanan terbesar kedua setelah beras, sebagai penyumbang garis kemiskinan di Bangka Belitung (Babel).

Garis kemiskinan di Bangka Belitung pada 2022 berkisar Rp800.000 per kapita per bulan.

Artinya seseorang yang berpenghasilan di bawah itu berkategori miskin.

Kontribusi rokok membuat warga menjadi miskin sebesar 14,12 persen di perkotaan dan 14,25 persen di perdesaan.

Sementara beras 14,96 persen di perkotaan dan 16,59 persen di perdesaan.

Baca juga: Siapa Ahmad Syarifullah Nizam, ASN Bangka Tengah yang Terpilih Jadi Komisaris Bank Sumsel Babel

Baca juga: Kisah Pria Tua Sopir Bandara Kurang Pendengaran, Mau Bantu Gratis Malah Ditusuk Penumpang yang Panik

Menyikapi hal tersebut pengamat sekaligus Dosen Sosiologi Universitas Bangka Belitung (UBB) Putra Pratama Saputra mengungkapkan fenomena ini cukup mengkhawatirkan. 

"Jangan sampai pada akhirnya menjadikan rokok sebagai bagian dari kebutuhan pokok. Bahkan kebanyakan perokok hanya akan mencari cara bagaimana untuk menekan pengeluaran, bukan mengurangi konsumsi terhadap rokok itu sendiri," ucapnya kepada Bangkapos.com Selasa (22/11/2022) siang.

Menurutnya, rokok menjadi penyumbang garis kemiskinan kedua di Bangka Belitung karena adanya tumpang tindih antara konsumsi masyarakat terhadap beras dan rokok. 

Mengingat saat ini keduanya adalah dua urutan teratas komoditi makanan terbesar sebagai penyumbang garis kemiskinan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Artinya, kemungkinan semakin melemahkan kondisi perekonomian masyarakat kedepannya. 

"Terdapat anggapan bahwa bagi mereka yang perokok akan lebih mementingkan membeli rokok untuk kebutuhan sendiri dibandingkan membeli beras untuk kebutuhan keluarga atau bersama," jelasnya.

Akademisi itu membeberkan rokok dapat memicu adiksi atau kecanduan. Suatu kebutuhan yang tidak bisa dihindari bagi orang telah berada dalam situasi tersebut. Selama sudah mengkonsumsi rokok, maka konsumsi lainnya tidak perlu dipenuhi.

Baca juga: Keberadaan Satgas Tambang Antara Ada dan Tiada, DPRD Babel Pertanyakan Masih Dibutuhkan atau Tidak

Maka dengan demikian hal ini dapat mengarahkan seseorang akan mengutamakan kebutuhan yang menurut mereka dapat mengatasi kebutuhan-kebutuhan yang lainnya. 

"Apabila memiliki uang yang hanya bisa digunakan untuk membeli salah satu antara makan atau rokok, bisa jadi seorang perokok akan memilih untuk membeli rokok," jelas Putra.

Oleh karena itu lanjut dia, tidak selamanya dalam pola kehidupan sosial (mengobrol atau bercengkerama) di masyarakat dibarengi dengan aktivitas merokok. 

"Terlebih adanya pandangan bahwa mengobrol tak lengkap rasanya kalau tidak merokok ataupun ngopi, ataupun menganggap rokok dapat melahirkan inspirasi. Meskipun cukup familiar terdengar di telinga masyarakat," kata Putra.

(Bangkapos.com/Akhmad Rifqi Ramadhani)

 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved