Breaking News:

Info Kesehatan

Kurangi Dampak BABS, Dosen Sarankan Pembuatan Jamban Sehat  

Tingginya angka praktik buang air besar sembarangan (BABS) di Kota Pangkalpinang, menimbulkan masalah serius. Dimana saat ini setidaknya sebanyak 487

Penulis: Cepi Marlianto | Editor: Fery Laskari
Ist/dok pribadi
Dosen Jurusan Gizi Poltekkes Pangkalpinang, Dwi Handini. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA – Tingginya angka praktik buang air besar sembarangan (BABS) di Kota Pangkalpinang, menimbulkan masalah serius. Dimana saat ini setidaknya sebanyak 487 rumah warga di Pangkalpinang belum memiliki jamban.

Dosen Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Pangkalpinang, Dwi Handini mengatakan, untuk meringankan dampak negatif BABS perlu digalakkan peningkatan kualitas sanitasi. Terutama dengan pembuatan jamban sehat bagi masyarakat. Kategori jamban disebut sehat jika pembuangan kotorannya di penampungan khusus tinja atau septic tank atau tangki septik.

“Kalau buangnya ke sungai, itu belum termasuk sehat,” kata dia kepada  Bangkapos.com, Kamis (24/11/2022).

Dwi Handini memaparkan, Kementerian Kesehatan menetapkan tujuh syarat untuk membuat jamban sehat.  Pertama, yakni tidak mencemari air. Dimana saat menggali tanah untuk lubang kotoran, usahakan agar dasar lubang kotoran tidak mencapai permukaan air tanah maksimum.

Jika keadaan terpaksa, dinding dan dasar lubang kotoran harus dipadatkan dengan tanah liat atau diplester. Jarak lubang kotoran ke sumur sekurang-kurangnya 10 meter. Letak lubang kotoran lebih rendah daripada letak sumur agar air kotor dari lubang kotoran tidak merembes dan mencemari sumur. Tidak membuang air kotor dan buangan air besar ke dalam selokan, empang, danau, sungai, dan laut

Kedua, tidak mencemari tanah permukaan. Caranya dengan tidak buang besar di sembarang tempat, seperti kebun, pekarangan, dekat sungai, dekat mata air, atau pinggir jalan.

“Jamban yang sudah penuh agar segera disedot untuk dikuras kotorannya, atau dikuras, kemudian kotoran ditimbun di lubang galian,” terang Dwi Handini.

Lanjut dia, ketiga harus bebas dari serangga. Jadi lantai jamban diplester rapat agar tidak terdapat celah-celah yang bisa menjadi sarang kecoa atau serangga lainnya. Keempat, tidak menimbulkan bau dan nyaman digunakan.

Kelima, aman digunakan oleh pemakainya. Keenam, mudah dibersihkan dan tidak menimbulkan gangguan bagi pemakainya. Ketujuh, tidak menimbulkan pandangan yang kurang sopan.

“Jamban harus berdinding dan berpintu. Dianjurkan agar bangunan jamban beratap sehingga pemakainya terhindar dari kehujanan dan kepanasan,” bebernya.

Menurutnya, buang air besar di tangki septik sendiri adalah perilaku buang air besar yang sehat dan dianjurkan oleh ahli kesehatan. Terdapat bahaya penyakit yang siap mengintai bagi masyarakat yang masih melakukan BABS.

Hal ini sebagaimana digambarkan rantai penyebaran penyakit melalui kotoran tinja  dan  urine.  Peranan tinja dalam penyebaran penyakit cukup besar, selain dapat mengkontaminasi makanan, minuman, sayuran dan sebagainya  juga mencemari   air, tanah, sebagai tempat perkembang biakan serangga.

Masalah yang  perlu  diwaspadai  adalah dampak baik secara langsung maupun tidak langsung ada beberapa  penyakit  yang dapat disebarkan oleh tinja manusia.

“Dari tifus, disentri, kolera, bermacam-macam cacing, mulai dari cacing gelang, kremi, tambang dan pita, schistosomiasis, dan sebagainya,” urai dia.

Halaman
12
Sumber: bangkapos.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved