Breaking News:

Human Interest Story

Suka Duka Guru di Pulau Terpencil, Sulit Akses Listrik hingga Jaringan Internet untuk Mengajar

Momentum Peringatan Hari Guru Nasional besok memunculkan sebuah kisah inspiratif dari seorang guru yang mengajar di pulau terpencil.

Penulis: Arya Bima Mahendra | Editor: Fery Laskari
istimewa
Fahri saat sedang mengajar di ruang kelas di SDN 3 Sungaiselan, Dusun Pulau Nangka, Desa Tanjung Pura, Kecamatan Sungaiselan, Bateng beberapa waktu lalu. (Ist/Dok. Pribadi Fahri) 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Momentum Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) yang jatuh pada 25 November 2022 besok memunculkan sebuah kisah inspiratif dari seorang guru yang mengajar di pulau terpencil.

Seperti kisah seorang guru yang mengabdikan dirinya di sebuah sekolah dasar yang ada di Pulau Nangka, Desa Tanjungpura, Kecamatan Sungaiselan, Kabupaten Bangka Tengah.

Berbagai kendala dia hadapi demi memberikan pendidikan terbaik kepada anak-anak yang berada di pulau paling ujung Kabupaten Bangka Tengah itu.

Meski baru mengajar selama kurang lebih 5 bulan, dirinya merasakan betul ketimpangan pendidikan yang terjadi di pulau terpencil dengan yang ada diperkotaan.

Fahri (24), begitu dia disapa, menceritakan kondisi serba kekurangan yang dialami oleh para guru di Pulau Nangka tersebut.

Pasalnya, kondisi pulau yang berpenduduk sekitar 100 lebih KK tersebut masih kesulitan untuk mengakses listrik. Hal ini dikarenakan listrik di pulau tersebut hanya tersedia saat malam hari saja, tepatnya dari pukul 18.00 WIB sore hingga 06.00 WIB pagi.

Alhasil, para guru yang ada di sana tidak bisa memanfaatkan atau menggunakan berbagai macam fasilitas elektronik, termasuk komputer untuk keperluan membuat media pembelajaran ataupun video pembelajaran.

"Penggunaan media pembelajaran kayak proyektor dan komputer itu belum bisa. Jadi mau enggak mau siswa disini hanya belajar dengan berpatok pada buku saja dan sesekali belajar di alam," kata Fahri kepada Bangkapos.com, Kamis (24/11/2022).

Apalagi saat ini sudah eranya digital dimana kebanyakan informasi diakses melalui perangkat komunikasi yang pada hakikatnya sangat membutuhkan listrik.

Selain itu, buruknya jaringan internet di pulau yang bisa dikatakan berada di ujung Bangka Tengah itu membuat para guru di sana kesusahan mengakses informasi.

"Sekarang kan jamannya internet, jadi informasi apapun itu biasanya dikirim lewat WhatsApp dan e-mail. Sedangkan sinyal di sekolah kami itu susah, enggak mungkin juga kalau mau buka internet harus ke tepi pantai terus," keluhnya.

Tak hanya itu, para guru di sana juga sangat merasa kesusahan dalam hal transportasi. Pasalnya, jika ingin bepergian mengurus perihal kedinasan, mereka harus menumpang ke kapal-kapal nelayan yang kadang tak menentu jadwalnya.

"Kami mohon kedepannya pemerintah setempat untuk menyiapkan kapal atau perahu khusus bagi para guru di kepulauan," katanya.

Meski dihadapkan dengan berbagai kendala untuk mengajar, Fahri mengaku sangat bangga menjadi seorang guru walaupun gaji yang dia terima sebagai guru honorer di tempat terpencil bisa dikatakan kurang sesuai.

Halaman
12
Sumber: bangkapos.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved