Breaking News:

Tribunners

Akhiri Kekerasan terhadap Perempuan

Melihat tren kekerasan terhadap perempuan yang meningkat, dimungkinkan hal ini akan berlanjut hingga tahun yang akan datang

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Rahma Nurhamidah, S.S.T. - Fungsional Statistisi BPS Provinsi Bangka Belitung 

Oleh: Rahma Nurhamidah - Fungsional Statistisi BPS Provinsi Bangka Belitung

MIRIS, perempuan saat ini masih menjadi objek kekerasan. Sebelumnya pada 10 Agustus 2022, perempuan dianiaya oleh pacarnya di Jakarta Selatan yang berujung dengan menjambak serta menggilas wajah korban tersebut dengan sepeda motor. Kasus tersebut merupakan segelintir dari ribuan kasus kekerasan terhadap perempuan. Lantas apakah masih ada peluang kekerasan terhadap perempuan akan berakhir?

Jumlah kejadian kejahatan di Indonesia cenderung berfluktuasi pada tahun 2018-2020. Data Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) memperlihatkan jumlah kejadian kejahatan pada tahun 2018 sebanyak 294.281 kejadian, menurun menjadi 269.324 kejadian pada tahun 2019 serta menurun pada tahun 2020 menjadi 247.218 kejadian ( BPS, 2021).

Sejalan dengan tindak kejahatan yang menurun, kejadian kejahatan terhadap fisik atau badan pada tahun 2020 juga cenderung menurun baik penganiayaan berat, ringan, maupun kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Pada tahun 2018, penganiayaan berat mencapai 11.191 kejadian, yang menurun menjadi 10.323 kejadian pada 2019 dan 8.373 kejadian pada 2020. Di lain sisi, penganiayaan ringan tercatat sebanyak 20.309 kejadian pada 2018, menurun menjadi 20.431 kejadian pada 2019 dan 20.195 pada 2020. Kekerasan dalam rumah tangga juga mengalami penurunan selama dua tahun berturut-turut. Pada 2018, tercatat sebanyak 8.067 kejadian KDRT yang menurun menjadi 8.229 kejadian pada 2019 dan 8.104 kejadian pada 2020 ( BPS, 2021).

Jumlah kejadian kejahatan yang mengalami penurunan sejalan dengan berkurangnya jumlah penduduk yang berisiko mengalami tindak kejahatan. Pada tahun 2018, tercatat 113 penduduk se-Indonesia berisiko mengalami tindak kejahatan per-100.000 penduduk. Jumlah penduduk tersebut menurun menjadi 103 penduduk pada 2019 dan 94 penduduk pada 2020 ( BPS, 2021).

Menurunnya kekerasan merupakan kabar baik yang patut disyukuri oleh semua pihak, namun masih adanya penduduk yang berisiko mengalami tindak kejahatan patut untuk diwaspadai. Meskipun jumlah penduduk yang berisiko mengalami tindak kejahatan mengalami penurunan, setiap penduduk masih berpeluang mengalami tindak kejahatan setiap tahunnya.

Tren Kekerasan terhadap Perempuan Meningkat

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat terdapat 338.496 laporan kasus kekerasan berbasis gender (KBG) terhadap perempuan yang terverifikasi sepanjang tahun 2021. Angka ini meningkat sekitar 50 persen dari laporan tahun 2020 yang hanya berjumlah 226.062 kasus.

Jika dilihat trennya, laporan kasus kekerasan terhadap perempuan cenderung meningkat dalam satu dekade terakhir. Pada 2012, laporan kekerasan terhadap perempuan berjumlah 135.170 kasus. Kemudian jumlahnya terus meningkat hingga mencapai 204.794 kasus pada 2015. Laporan sempat menurun menjadi 163.116 kasus pada 2016. Namun meningkat kembali tiga tahun berturut-turut hingga mencapai 302.686 kasus pada 2019. Pada tahun pertama pandemi, yakni 2020, jumlah laporan sempat menurun yaitu mencapai 226.062. Namun, pada 2021 jumlah laporan naik lagi hingga lebih tinggi dibanding masa pra-pandemi yaitu mencapai 336.496 (Katadata, 2021).

Pandemi Covid-19 nyatanya meningkatkan risiko terjadinya kekerasan berbasis gender (KBG) terhadap perempuan. Namun, jauh sebelum pandemi melanda berbagai kasus kekerasan yang menimpa perempuan di Indonesia memang telah terjadi dalam waktu yang sangat lama.

Berdasarkan Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN), 1 dari 3 perempuan usia 15-64 tahun pernah mengalami kekerasan fisik dan atau seksual oleh pasangan dan selain pasangan selama hidupnya. Data Catatan Tahunan (Catahu) 2020 dari Komnas Perempuan bahkan memperlihatkan bahwa selama 12 tahun terakhir, kekerasan terhadap perempuan di Indonesia meningkat 8 kali lipat. Bahkan, faktanya saat ini kejahatan seksual tidak hanya terjadi dalam ruang fisik, namun juga dalam lingkup daring. Penggunaan gawai secara intensif di masa pandemi telah menghadapkan perempuan pada bentuk kekerasan baru, yakni kekerasan berbasis gender online (KBGO). Data Komnas Perempuan mencatat kasus KBGO mengalami peningkatan hampir empat kali lipat selama tahun 2020.

Akhiri Kekerasan terhadap Perempuan

Tidak dapat dimungkiri, perempuan saat ini masih menjadi objek kekerasan. Melihat tren kekerasan terhadap perempuan yang meningkat, dimungkinkan hal ini akan berlanjut hingga tahun yang akan datang. Untuk itu, dibutuhkan sinergi dan kolaborasi dari berbagai pihak untuk mencegah terjadinya hal tersebut.

Langkah strategis yang dapat dilakukan di antaranya adalah menggandeng Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak untuk memperkuat koordinasi, mendorong sinergi, serta memperluas jejaring dalam pencegahan hingga penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari kementerian/lembaga (K/L), aparat penegak hukum, sumber daya layanan, dan masyarakat.

Di samping itu, partisipasi media juga diperlukan dalam upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan. Media diharapkan dapat mendorong dan mengadvokasi implementasi berbagai regulasi dan kebijakan yang terkait dengan upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan promosi kesetaraan gender, melalui produksi konten yang sensitif dan transformatif gender. Setidaknya para pelaku media tidak melakukan stereotyping dan menjadikan perempuan sebagai objek seksual dalam konten-konten yang dipublikasikan.

Sudah saatnya keberpihakan pada korban harus dilakukan. Kita harus belajar untuk mendengarkan dan memercayai korban, bukan menghakimi mereka. Setidaknya, kita harus turut serta mengambil peran dalam mendukung terwujudnya lingkungan di mana penyintas kekerasan dapat bersuara dan mendapatkan keadilan. Semoga tren kekerasan terhadap perempuan menurun secara bertahap di tahun yang akan datang. (*)

Sumber: bangkapos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved