Breaking News:

Tribunners

Ciptakan Petani Milenial

Profesi menjadi petani bukanlah sesuatu yang memalukan, asalkan sebagai generasi milenial punya prinsip dan inovasi dalam usaha pertanian

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Ridho Ilahi - Fungsional Statistisi Badan Pusat Statistik 

Oleh: Ridho Ilahi - Fungsional Statistisi Badan Pusat Statistik

SEDIKIT sekali generasi milenial sekarang yang berkeinginan menjadi petani di Indonesia. Padahal, tidak perlu bimbang dan ragu jika mau terjun langsung ke dunia pertanian. Bila tak ada petani, banyak orang yang kelaparan serta tidak mampu mengolah berbagai jenis makanan yang berbahan baku sehat. Profesi menjadi petani bukanlah sesuatu yang memalukan, asalkan sebagai generasi milenial punya prinsip dan inovasi dalam usaha pertanian.

Food and Agriculture Organization (FAO) mencatat angka prevalensi kerawanan pangan terhadap jumlah penduduk dunia mencapai 11,7 persen tahun 2021. Persentase tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan prevalensi kerawanan pangan Indonesia tahun 2021 sebesar 8,49 persen (BPS, 2022). Namun, jika dilihat hasil proyeksi penduduk Indonesia sebanyak 275,77 juta jiwa tahun 2022, maka jumlah penduduk yang rawan pangan mencapai 23,41 juta jiwa. Angka ini tergolong besar di tengah kenaikan laju inflasi pangan dan krisis energi. Kondisi ini diperparah dengan konflik Rusia dan Ukraina yang tak kunjung berakhir. Konflik Rusia-Ukraina memberi ripple effect yang berdampak pada krisis pangan. Jika tidak segera diatasi akan menimbulkan masalah kesehatan dan harapan hidup.

Presiden Jokowi sempat mencurahkan kekhawatirannya tentang masa depan pertanian Indonesia. Banyak lulusan pertanian justru memilih untuk bekerja di perkantoran. Kekhawatiran ini sangat beralasan karena petani punya andil besar dalam ketahanan pangan nasional. Di tengah gejolak global, negara wajib hadir dalam pemenuhan kebutuhan pangan rakyat. Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia paling utama dan pemenuhannya merupakan bagian dari hak asasi manusia yang dijamin Undang-Undang Dasar 1945. Negara berkewajiban mewujudkan ketersediaan, keterjangkauan, dan pemenuhan konsumsi pangan pada tingkat nasional hingga ke level perseorangan sepanjang waktu secara merata di seluruh Indonesia.

Dalam menopang ketersediaan pangan, pemerintah perlu menyusun Program Food Estate yang difokuskan untuk pengembangan smart farming melalui penggunaan Internet of Thing (IoT) pada kegiatan on-farm. Khusus memonitor kondisi pertanaman, urgen dikembangkan sistem aplikasi yang menggunakan teknologi remote sensing. Dari sisi aksesibilitas pangan, kerja sama dengan e-commerce dan transportasi daring harus digiatkan dalam memperlancar pemasaran dan distribusi komoditas pertanian.

Di era digitalisasi menuju revolusi industri 5.0, pemangku kepentingan sektor pertanian harus mampu mempersiapkan dan beradaptasi dengan disrupsi tersebut. Kunci keberhasilan disrupsi ini melalui penggunaan internet oleh petani. Saat ini, Kementerian Pertanian (Kementan) telah mengusung program digitalisasi pertanian sebagai solusi penguatan ketahanan pangan. Adopsi penggunaan teknologi informasi dan komunikasi direalisasikan dalam pembangunan pertanian baik kegiatan on-farm maupun off-farm, peningkatan kapabilitas penyuluh dan petani, sekaligus sebagai alat koordinasi dan komunikasi antar-pemangku kepentingan, monitoring ketersediaan dan distribusi produksi pertanian, serta yang tak kalah pentingnya adalah kegiatan pendataan pertanian.

Digitalisasi pertanian perlu segera diwujudkan guna memperkuat peran penyuluh dalam pembinaan kepada petani khususnya petani milenial. Petani milenial harus cerdas mengadopsi program digitalisasi pertanian sehingga mampu menerapkan teknologi dalam budi daya dan pemasaran hasil pertanian. Saat ini, perlu dibangun aplikasi baru yang bisa dimanfaatkan petani milenial dalam menentukan kualitas produk pangan guna memperkuat utilisasi pertanian. Dalam penguatan stabilitas pangan krusial dibangun sistem monitoring stok pangan secara online (daring) sehingga hasil pelaporan dapat diakses petani milenial secara mudah melalui website.

Tidak dapat dimungkiri distribusi pupuk kepada para petani sering kali terhambat. Penyebabnya, muncul kelangkaan pupuk bersubsidi, lambatnya distribusi pupuk, sampai pada tidak tepatnya sasaran penerima bantuan pupuk. Bahkan, timbul harga pupuk yang tidak sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Solusinya, Kementerian Pertanian telah mencanangkan Program Kartu Tani sebagai akses layanan perbankan terintegrasi kepada petani menggunakan program OJK yaitu TabunganKu guna mendukung program inklusi keuangan. Kartu ini dapat berfungsi sebagai akses rekening tabungan, akses transaksi, penyaluran pinjaman hingga sebagai kartu subsidi (e-wallet).

Ironinya, hasil Sensus Pertanian 2013 mencatat sekitar 61 persen petani di Indonesia berusia lebih dari 45 tahun. Saat ini baru terdapat 2,7 juta petani yang masuk kategori petani milenial dari total 33 juta petani yang ada di Indonesia (BPS, 2022). Banyak generasi milenial beranggapan bahwa profesi petani jauh dari keren dan punya masa depan yang suram dibandingkan profesi lainnya. Apabila penduduk bertambah, tentu kebutuhan bahan makanan akan meningkat. Lantas siapa yang akan menyuplainya jika bukan dari petani milenial. Petani milenial inilah yang menjadi harapan bangsa dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional.

Perlu Kemauan dan Kreativitas

Untuk menjadi petani milenial yang sukses tentu harus memulai terlebih dahulu. Petani milenial nyatanya lebih kreatif dari generasi sebelumnya, masalahnya ide kreatif tersebut hanya ada dalam kepala mereka. Perlu motivasi dalam menyalurkan ide kreatifnya guna peningkatan produktivitas pertanian. Petani milenial harus mengakselerasi ide brilian yang out of the box. Harus cermat menangkap peluang yang ada untuk segera direalisasikan. Harus cerdas memanfaatkan teknologi guna mempermudah pekerjaan.

Sharing knowledge antar petani milenial diperlukan agar bisa belajar dari kesuksesan petani yang lain. Antusiasme petani milenial saat ini merupakan energi baru dalam pembangunan pertanian Indonesia. Secara perlahan namun pasti regenerasi pertanian akan terwujud dengan berkembangnya petani milenial yang mulai masif bergerak dari sektor hulu hingga hilir. Petani milenial tidak boleh hanya aktif pada ranah pascapanen. Petani milenial harus terjun langsung dalam proses budi daya sampai inovasi pertanian.

Petani milenial yang rata-rata usianya di bawah 39 tahun dengan pendidikan minimal SMA, harus mampu berinovasi dan adaptif dalam pemanfaatan Information and Communication Technologies (ICT). Kreativitas petani milenial dituntut dalam mengoperasikan mesin dan alat pertanian. Tidak kalah pentingnya, dukungan pemerintah terhadap harga produk pertanian sangat krusial guna melindungi petani milenial, baik itu sebagai produsen maupun konsumen pada saat yang bersamaan. Harga produk pertanian yang kompetitif tidak hanya dapat meningkatkan penerimaan petani milenial, tetapi juga dapat merangsang niat mereka untuk terus berproduksi. (*)

Sumber: bangkapos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved