Breaking News:

Tribunners

Pentingnya Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan serta Upaya Meminimalisasi Anak Putus Sekolah

Berdasarkan pendataan Dinas Pendidikan Belitung Timur, anak yang drop out tingkat SMP berjumlah 120 siswa dan pada tingkat SMA 160 siswa

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Junaidi, M.Ag. - Guru PAI dan Bahasa Arab MIN 1 Kemenag Beltim 

Oleh:  Junaidi, M.Ag. - Guru PAI dan Bahasa Arab MIN 1 Kemenag Beltim

SEKOLAH merupakan suatu lembaga yang bergerak di bidang pendidikan dan tempat untuk menempa diri, dengan belajar menggali ilmu pengetahuan dan keterampilan. Juga bagaimana untuk dapat beretika dan bertutur kata. Harapannya para pelajar yang telah menamatkan pada sekolah tertentu itu dapat jauh lebih baik dari pada sebelumnya, baik dari segi wawasan keilmuannya maupun dalam sosial bermasyarakat.

Bahkan untuk menunjang semua itu, pada kurun waktu tertentu baik itu fasilitas sekolah maupun para tenaga kependidikan ini selalu di-upgrade, baik dari segi disiplin keilmuan yang membidanginya maupun pada ilmu lain yang dapat mendukung para tenaga pendidik, agar dapat lebih cakap dalam mencerdaskan anak bangsa di tengah dunia pendidikan yang begitu cepat berubah.

Namun di samping itu semua, sekolah dan guru juga dihadapkan dengan berbagai kemungkinan buruk yang akan terjadi terutama bagi para pelajar, seperti putus sekolah yang disebabkan oleh salahnya pergaulan, ekonomi yang kurang mencukupi, faktor perpisahan kedua orang tua dan bahkan ada yang menganggap pendidikan menurutnya tidak begitu penting, serta jangan sampai pula anak putus sekolah disebabkan oleh kekhilafan/kesalahan guru itu sendiri.

Anehnya, sebagian besar ditemukan anak yang putus sekolah di atas terutama anak-anak SMP dan SMA, penyebabnya bukan karena sebagaimana penulis uraikan di muka seperti tidak mampu, bukan juga karena jarak yang jauh tetapi karena mereka telah mengerti dalam mencari uang. Kemungkinan besar hal itu disebabkan oleh pemikiran yang keliru yang menganggap akhir dari sekolah adalah hanya mendapatkan ijazah kemudian bekerja dan menghasilkan cuan. Padahal sekolah dan berpendidikan tinggi (berilmu) tidak dapat dinilai dengan uang seberapa pun jumlah nol yang mengikuti di belakangnya.

Sampai saat ini cukup banyak dan mudah penulis temukan seperti dengan mendatangi sekolah tertentu. Salah satunya merupakan anak didik penulis sendiri yang dahulunya pada tingkat sekolah dasar, seharusnya saat ini dia telah duduk di kelas III sekolah menengah pertama. Yang membuat penulis geram adalah orang tuanya telah berpisah disebabkan oleh berbagai permasalahan rumah tangga, di samping itu mereka telah memahami betul berbagai dampak buruk yang akan dialami oleh anak-anaknya kelak. Namun kenapa anak yang sebelumnya telah menjadi korban perpisahannya, kemudian hak anak berupa pendidikan tidak ditunaikan. Tidak ada kata yang tepat bagi anak tersebut, kecuali "sudah terjatuh tertimpa tangga pula".

Untuk itu, dalam menyikapi berbagai faktor di atas seharusnya setiap tenaga kependidikan lebih peduli dan peka akan permasalahan tersebut, terlebih-lebih orang tua dari anak itu sendiri. Siapa pun akan sangat kasihan bila berjumpa dengan anak yang tidak melanjutkan pendidikanya atau berhenti di tengah jalan hanya karena faktor tersebut. Dan yang sangat menyita perhatian penulis adalah anak masih semangat berkeinginan untuk sekolah, tetapi kedua orang tua justru tidak begitu mendukungnya hanya disebabkan oleh salah satu atau sebagian faktor di atas.

Dampak Buruk

Tentunya hal ini akan berdampak buruk bagi masa depannya, jangankan nanti, saat ini saja mereka sudah malu/minder untuk bertemu dengan teman yang pernah menjadi teman sekelasnya dahulu. Akhirnya anak yang putus sekolah ini akan bergaul dengan anak-anak yang sama seperti dirinya, untung jika berteman dengan mereka yang memiliki pergaulan baik, namun faktanya yang penulis dapati mayoritas anak putus sekolah bergaul dengan anak-anak "maaf" yang berkelakuan kurang baik.

Itu artinya, apa yang telah dialami oleh orang tua kemungkinan anak akan mengalami hal yang sama. Sebab jika melihat pergaulan mereka yang sangat jauh menyimpang bahkan mungkin ada sebagian kebablasan, di samping itu mereka sebagai orang tua sepertinya tidak ambil pusing bagaimana nasib ke depan anak-anaknya. Maka kemungkinan besar "semoga saja tidak terjadi", nasib buruk yang telah dialami oleh orang tua yang seharusnya putus sampai pada mereka, malah terus berlanjut dan diturunkan kepada anaknya sendiri. Padahal seharusnya sebagai orang tua yang baik, bagaimanapun keadaannya berusahalah semampunya agar anak di masa depan jauh lebih baik daripada kita sebagai orang tuanya saat ini. Bukankah kita telah lebih dahulu mencicipi asinya garam dan menghirup pahitnya kopi?

Dari kasus di atas baik kita sebagai orang tua, pemikir, pemangku adat maupun pemerintah yang memiliki kewenangan yang jauh lebih besar seharusnya tidak hanya mendata berapa jumlah anak putus sekolah saja, apa faktor yang membuat mereka tidak atau enggan bersekolah, tetapi bagaimana upaya atau peran efektif pemerintah itu sendiri dalam memberi solusi kepada mereka yang sebelumnya enggan kemudian dapat berupa pikiran. Syukur apabila mereka dapat melanjutkan kembali pendidikanya.

Sebab, penulis atau siapa pun jika melihat diri berdasarkan pada pengalaman masing-masing pasti belum puas dengan pencapaian saat ini, sebagaimana hemat penulis berikut. Saat ini mereka, layaknya sebagai anak-anak yang belum memahami betul betapa pentingnya pendidikan di masa depan nanti. Tetapi mereka baru akan menyesalinya ketika mereka sudah beranjak dewasa. Maksud penulis adalah, kita yang telah lebih dahulu dan bahkan berpendidikan saja, masih ada penyesalan, paling tidak menyesal karena di waktu sekolah tidak belajar dengan sungguh-sungguh. Nah, kita yang telah berpendidikan saja masih ada penyesalan, apalagi bagi mereka kelak yang saat ini putus sekolah.

Memang sangat tidak mudah untuk mengajak mereka kembali mengenyam bangku sekolah, di samping orang tuanya saja tidak begitu ambil pusing apalagi kita sebagai orang asing yang bukan siapa-siapa menurutnya itu. Bahkan bisa saja mereka berkata dengan mudahnya, "Itu bukan urusan kalian". Tetapi itulah tantangannya bagi kita sebagai tenaga kependidikan dan pemerintah untuk terus berusaha agar kejadian serupa dapat diminimalisasi.

Sebetulnya banyak cara dan solusi, tetapi mungkin hanya sebatas ide pemikiran saja yang tidak tertuang, sebab ketidaktertuangan itu karena tidak ada wadah yang siap menampungnya, atau bisa saja ada wadahnya namun tidak begitu menerima yang akan dituangkan itu. Alhasil, ide lagi-lagi hanya sebatas angan-angan belaka tanpa realisasi nyata.

Halaman
12
Sumber: bangkapos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved