Breaking News:

Tribunners

Melihat Model Kepemimpinan Elon Musk di Balik Akuisisi Twitter

Teori kepemimpinan transformasional menegaskan bahwa orang termotivasi oleh tugas yang harus mereka lakukan

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Efendi Pangondo - Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Bangka Belitung 

Oleh: Efendi Pangondo - Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Bangka Belitung

PADA Oktober 2022, Twitter yang merupakan media sosial Microblogging terbesar kedua setelah Facebook resmi berpindah kepemilikan kepada orang terkaya nomor dua dunia, Elon Musk. Sederet perusahaan berbasis inovasi yang dimiliki Elon Musk saat ini memberikan pengaruh signifikan terhadap kekayaannya seperti SpaceX, Tesla Motors, Paypal, Neuralink, dan The Boring Company.

Dikutip dari Kompas.com (26/4/2022), Elon Musk mengungkapkan keinginannya membeli Twitter, setelah ia memborong saham Twitter sebesar 2,89 miliar dolar AS atau sekitar Rp41 triliun pada awal April 2022. Hingga pada akhirnya dia merampungkan akuisisi senilai US$44 miliar atau sekitar Rp685 triliun pada Kamis (27/10/2022). Banyak analis berpendapat harga yang sekarang dibayar Musk untuk Twitter terlalu tinggi mengingat penurunan nilai banyak saham teknologi dan perjuangan Twitter untuk menarik pengguna. Namun, pendiri Tesla itu mengatakan Twitter adalah aset yang baru saja mendekam untuk waktu yang lama, tetapi memiliki potensi luar biasa (Kompas.com, 28/10/2022).

Tak perlu waktu lama pasca-pengambilalihan tersebut, pada hari pertama sebagai pemilik Twitter langsung memecat sejumlah eksekutif perusahaan meliputi Chief Executive Officer (CEO) Parag Agrawal setelah mendebatnya, Chief Financial Officer (CFO) Ned Segal, dan penasihat umum Sean Edget, serta Chief Customer Officer Sarah Personette, demikian juga memecat insinyur perangkat lunak Eric Frohnhoefer melalui sebuah cuitan. Termasuk Vijaya Gadde yang jabatan resminya Head of Legal Policy, Trust, and Safety, yang bertanggung jawab atas moderasi konten di Twitter dan membuat keputusan penting, misalnya menutup akun yang dianggap bermasalah, dia yang memutuskan untuk mencekal permanen mantan presiden Donald Trump.

Pada saat akuisisi tersebut, Musk juga berencana untuk mengurangi karyawan secara besar-besaran. Akibatnya, sekitar 7.500 karyawan Twitter resah tentang masa depan mereka (dw.com, 28/10/2022). Twitter memiliki sekitar 7.500 pekerja sebelum pengambilalihan, dan sekitar 3.700 karyawan diberhentikan dengan pemberitahuan melalui surat elektronik.

Pemecatan massal tersebut terjadi ketika Musk berupaya meningkatkan laba perusahaan setelah mengambil pembiayaan utang yang signifikan untuk mendanai akuisisinya (cnnindonesia.com, 7/11/2022). Pada saat lain terjadi pengunduran diri massal karyawan akibat tidak terima dengan komitmen kerja yang dimintanya untuk bekerja dengan intensitas tinggi dan jam kerja panjang (cnnindonesia.com, 19/11/2022).

Musk juga mengungkapkan dalam cuitannya (@elonmusk, 5/11/2022) bahwa ia tidak memiliki pilihan lain selain mengurangi karyawan Twitter karena jika tidak maka perusahaan merugi lebih dari $4 juta/hari, termasuk dengan rencana pembebanan biaya 8 dolar per bulan untuk akun centang biru namun dengan dalih akun tersebut bagian "sistem tuan & petani" (@elonmusk, 2/11/2022).

Kisruh pemecatan massal tersebut turut berdampak pada pendapatan perusahaan melalui iklan yang menurun cukup besar, sebagaimana dilansir dalam investor.id (10/11/2022), demikian juga penurunan pendapatan tersebut diakui oleh Musk meski dengan menyalahkan para aktivis yang katanya menekan pengiklan (@elonmusk, 4/11/2022).

Namun, dia bergeming. Dia tetap menjalankan misinya. Pasca-akuisisi, dia terus melakukan rasionalisasi perusahaan untuk tujuan menjadi menjadi corong informasi membentuk masa depan dunia. Hal yang dapat diketahui dalam cuitannya, "hal yang indah tentang Twitter adalah bagaimana ia memberdayakan jurnalisme warga di mana orang dapat menyebarkan berita tanpa bias pendirian" (@elonmusk, 26/10/2022), "mendorong seluasnya kebebasan berbicara dalam koridor yang diatur oleh dewan moderasi konten" (@elonmusk, 29/10/2022), dan selanjutnya " Twitter perlu menjadi sumber informasi paling akurat tentang dunia" (@elonmusk, 7/11/2022).

Dengan Twitter, Musk ingin menambahkan/melengkapi perusahaan-perusahaan inovatif yang dibangunnya menjadi bagian puzzle yang akan membentuk dunia ke depannya. Sebut saja SpaceX untuk teknologi ruang angkasa, Tesla untuk mobil listrik dan transportasi masa depan, Neuralink untuk mengembangkan chip otak, SolarCity (yang diakuisisi pada tahun 2016) untuk energi terbarukan, OpenAI untuk kecerdasan buatan, dan The Boring Company untuk pembangunan terowongan dan infrastruktur.

Musk memiliki sumber daya kekayaan yang luar biasa, yang membuatnya bisa berbuat banyak mentransformasikan isu-isu futuristik ke dalam hal nyata yang dinilai menjadi jawaban masa depan dunia. Barangkali dengan sejumlah indikasi tersebut di atas sehingga dapat menempatkan dia ke dalam model pemimpin transformasional.

Menurut Dr. H. Suriagiri, M.Pd. dalam bukunya Kepemimpinan Transformasional, teori transformasional memandang pemimpin sebagai katalis untuk pendekatan visioner sambil mempertahankan pandangan strategis tentang apa yang perlu dilakukan. Pemimpin transaksional menghargai jaringan dan kolaborasi. Para pemimpin ini waspada dalam mencari orang lain yang juga dapat menunjukkan keterampilan kepemimpinan transformasional.

Teori kepemimpinan transformasional menegaskan bahwa orang termotivasi oleh tugas yang harus mereka lakukan. Mereka yang mempraktikkan kepemimpinan transformasional menekankan kerja sama dan tindakan kolektif, dan individu ada dalam konteks organisasi atau komunitas daripada dalam persaingan satu sama lain.

Lebih lanjut dijelaskan ada empat komponen dalam kepemimpinan transformasional yaitu:
1. Inspirational motivation. Pemimpin transformasional memiliki visi yang jelas, mereka mampu mengartikulasikan visi mereka kepada anggota tim.

Halaman
12
Sumber: bangkapos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved