NU dan Kearifan Lokal

NU merupakan kultur berbasis tradisi lokal yang cukup maslahat menjaga kualitas harmoni keumatan.

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Dr. Masmuni Mahatma, S.Fil.I., M.Ag. - Ketua PW GP Ansor dan Wakil Rektor II IAIN SAS Bangka Belitung 

Oleh: Dr. Masmuni Mahatma, S.Fil.I., M.Ag. - Ketua PW GP Ansor dan Wakil Rektor II IAIN SAS Bangka Belitung

TELAH dimafhumi masyarakat dunia, Jam'iyyah Nahdlatul Ulama (NU) merupakan ormas besar yang terus bertumbuh dengan lincah dan memukau. Sebagai jam'iyyah yang didirikan oleh ulama-ulama muhlisin, kiai-kiai yang tulus-ikhlas, NU berkiprah cukup lama dan jauh dalam konstelasi kebangsaan dan kenegaraan Indonesia. Bahkan NU adalah salah satu kekuatan sosial dan moral bangsa melawan kolonialisme-imperialisme serta "pemilik saham" terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

NU tiada henti memelihara dan mentransformasikan pentingnya kesadaran untuk memiliki, mencintai, merawat, dan melestarikan "loyalitas tanpa batas" terhadap keindonesiaan. Dari aspek keumatan, NU mengawal bangsa ini dalam konteks penguatan kependidikan berbasis keagamaan melalui pondok pesantren-pondok pesantren yang bertebaran di hampir seluruh wilayah Indonesia. Dan pesantren adalah institusi pendidikan tertua yang ada dan terus berkembang di Indonesia dengan berbagai aspeknya.

Dalam konteks kebangsaan, NU tak pernah absen memberikan kontribusi bernas dan integralistik terhadap eksistensi Indonesia. Penerimaan atas Pancasila sebagai "ideologi" bernegara adalah wujud konkret yang tidak bisa dimungkiri sejenak pun. Bahkan sikap gentle NU mengenai Pancasila ini pernah menuai pro-kontra dari sebagian besar masyarakat Indonesia yang tak bisa dibilang ringan. Akan tetapi, semua dihadapi oleh muassis NU dengan fikrah terbuka, wawasan prospektus, dan komitmen yang arif-kualitatif.
NU di Babel

Bagaimana fenomena NU di Babel ini? Tak jauh beda dengan beberapa daerah lain, khususnya di Pulau Sumatera. Secara kultur, NU menggeliat bersama rupa-rupa atau warna-warna spirit dan nilai-nilai lokalitas. NU tak pernah abstain "mengawani" ghirah dan letupan kultural di kalangan umat yang ada di Kepulauan Bangka Belitung. Sebab NU memang senantiasa aspiratif dan akomodatif mengenai realitas kearifan lokal. Seperti kultur "ziarah kubur," "lebaran maulud," "muharraman," "syawalan," bahkan "nganggung" sekalipun, dalam perspektif

NU merupakan kultur berbasis tradisi lokal yang cukup maslahat menjaga kualitas harmoni keumatan.
Dalam konteks ini, NU sering memijakkan kearifan perspektifnya pada tataran kaidah fikih al-'adzatu al-muhakkamah. Tradisi yang baik dan melahirkan kebajikan di hadapan umat, bisa dan layak diapresiasi bahkan ditumbuhkembangkan serta dilestarikan. Melakukan hal ini adalah bagian dari semangat istihsan bi al-'urf, mengarifi, dan mengambil nilai-nilai yang baik dalam tradisi bermasyarakat. Sebab 'urf atau tradisi sering kali melebur dan mengakomodasi nilai-nilai kebudayaan lokal. Dan 'urf bisa menjadi salah satu hukum yang tidak tertulis di tengah sosial masyarakat.

Menguatkan perspektif di atas, NU juga menempatkan dan mentransformasikan prinsip al-tsabit bi al-'urf ka al-tasbit bi al-nash. Bahwa apa-apa yang dianggap baik dan ditetapkan tradisi, dipandang sama kedudukannya dengan sesuatu yang ditetapkan berdasarkan Al-Qur'an dan hadis. Dalam pengertian selama tradisi atau kulturalitas bermasyarakat tidak dinegasikan secara membabi buta terhadap otoritas Al-Qur'an dan hadis, dan kemudian mempunyai nilai kebajikan untuk kelangsungan masyarakat, maka tradisi itu tetap layak diapresiasi dan ditempatkan baik oleh agama.

Minimal itulah salah satu potret keterlibatan NU menyongsong kreasi dan menghidupkan nilai-nilai kulturalistik keumatan di Bangka Belitung. Lagi-lagi, NU memang tak pernah abstain mengukur dan menyirami pertumbuhan sosial keumatan serta kebudayaan masyarakat. NU hadir melalui cara pandang dan komitmennya yang luwes sekaligus empatik. Inilah "dakwah" NU dalam zona kebudayaan. Bahkan kata Haidar Baqir, beragam budaya yang ada, dengan segala keunikannya, disadari atau tidak, menjadi lokus-lokus unik dari manifestasi-Nya. Budaya adalah tanda-tanda kehadiran (ayat) Tuhan, isyarat-isyarat yang membawa sinyal (sebagian) kebenaran Tuhan. Ini mesti diarifi.

Kerja ke Depan

Bercermin dari fenomena di atas, kerja-kerja keumatan NU di wilayah Kepulauan Bangka Belitung ke depan, terutama usai Konferwil tanggal 23-24 Desember 2022, perlu banyak terobosan. Pertama, rekonsolidasi kebudayaan. Ini langkah awal mengenali dan melejitkan potensi kultural Bumi Serumpun Sebalai yang mudah dilihat, dimengerti, diakrabi, dan "dikawini." Dari jalur ini, NU dapat mengukur kesanggupan untuk bangkit bersama umat berbasis spirit dan nilai-nilai tradisi leluhur masyarakat Bangka Belitung. Atau, melalui jalur rekonsolidatif-kultural ini, NU menemukan pola, kreasi, dan inovasi dakwah keagamaannya di tatar Melayu-Bangka.

Rekonsolidasi berbasis kebudayaan, tidak boleh dipandang sebelah mata. Islam bangkit sebagian juga karena jalur dan peleburan empatik-spiritualistik dalam areal kebudayaan. Kepekaan dan kearifan dalam memoles semangat kebudayaan, disadari atau tidak, menjadi salah satu kunci kedigdayaan Islam. Setidaknya, itulah yang tercatat dalam perjalanan kebangkitan Islam di tanah Jawa, melalui kerja-kerja tulus para Wali Songo. "Mazhab" Wali Songo ini jua yang senantiasa menjadi rujukan religius dan dakwah sosial kebangsaan muassis NU dari masa ke masa.

Melalui mitigasi dan "terapi" berbasis kebudayaan, NU kian menemukan lompatan ide, gagasan, pemikiran, dan bahkan sikap keagamaan mengawal dinamika keumatan dan kebangsaan di Indonesia. Tak heran kalau sebagian masyarakat berujar, "Selama ada NU, Indonesia akan tetap utuh. Selama NU berkiprah sepenuh hati, Indonesia akan terus menjadi bangsa yang asri. Sebab beraneka rupa kebudayaan, termasuk yang bercorak keberagamaan, dapat bertumbuh dengan dinamis. Tidak langsung "dibid'ahkan" sampai habis.

Kedua, NU harus mulai terarah menyapa dan mengelola aspirasi umat, terutama yang berada di lingkungan pedesaan. NU juga mesti melakukan productive of recovery, pembacaan ulang secara lebih produktif atas simbol-simbol kebudayaan yang melatari "napas" kultur keagamaan masyarakat Bangka Belitung. Agar NU tidak mudah terjebak ambiguitas menentukan titik strategis mengusung pencerahan keumatan berbasis kebudayaan. Dalam bahasa lebih lugas, seyogianya NU mempelajari sekaligus meresapi racikan "lempah" keberagamaan dan kebangsaan umat Bangka Belitung dengan perspektif filosofis dan spiritualistik. Dengan demikian, NU kian menyatu dari dan untuk kedalaman kearifan lokal Bangka Belitung. Amin. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved