Kamis, 21 Mei 2026

Kisah Martinus Handoko Terpanggil Menjadi Pastor, Bermula dari Ikut Kunjungan

Mengamati secara langsung seorang Pastor menjalankan pelayanan membuatnya jatuh hati untuk menjadi imam Katolik

Tayang:
Istimewa/Pastor Martinus Handoko
Pastor Martinus Handoko 

BANGKAPOS.COM, PANGKALPINANG – Pastor Martinus Handoko (33) menceritakan prosesnya hingga terpanggil menjadi seorang Pastor atau yang akrab dipanggil Romo.

Ketertarikan Pastor Martinus Handoko menjadi seorang imam Katolik sudah muncul sejak dirinya duduk di bangku SMK. 

Bermula dari ajakan seorang pastor bernama Martin Madomoron, Martinus Handoko berkeliling mengikuti sang Imam dengan sepeda motor untuk kunjungan.

Semasa remaja Martinus Handoko memang terbiasa dekat dengan kalangan para imam. Diketahui sang ayah diketahui seorang petugas kebersihan sekaligus koster di Gereja Katedral Santo Yosef, Pangkalpinang.

Baca juga: Gelapkan Uang Arisan Senilai Rp191 Juta, Perempuan Muda Ini Tipu 59 Warga Bangka Selatan

Baca juga: Kisah Penjual Es Abun yang Eksis Selama 51 Tahun di Pangkalpinang, Sehari Bisa Laku 300 Gelas

Baca juga: Ketua DPRD Bateng DL ke Rumania, Me Hoa: Kita Pasarkan Produk UMKM ke Rumania, Ada Tempat Gratis

“Jadi sering para Romo di Katedral itu menanyakan saya, mana anak bapak ini? Saya ajak pergi. Dulu itu selalu mengajak saya berkeliling sampai ke Belinyu hujan-hujanan,” kenang Pastor Martinus saat diwawancarai Bangka Pos, Jumat (16/12/2022).

Mengamati secara langsung seorang Pastor menjalankan pelayanan membuatnya jatuh hati untuk menjadi imam Katolik.

“Pastor memberikan pelayanan khusus artinya pelayanan sakramen. Itu gak setiap orang bisa, hanya seorang imam. Ketika misalnya ada orang yang mau perminyakan orang sakit, maka (Pastor) harus stand by. Kesediaan mau berangkat pergi melayani itu menjadi hal yang menarik bagi saya,”ujarnya.

Ditugaskan di Kepulauan Anambas, Kepri

Selama empat tahun mengemban tugas menjadi Pastor, berbagai pengalaman sudah pernah dirasakan.

Pastor Martinus Handoko ditempatkan di wilayah yang jauh dari pusat kota usai ditakhbiskan pada 22 Agustus 2018. 

Sebagai seorang Pastor, Martinus harus siap mengemban tugas pelayanan di mana saja termasuk saat penugasannya di Paroki Stella Maris Tarempa, Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau yang masuk dalam wilayah Keuskupan Pangkalpinang.

Di sana, Pastor Martinus Handoko bertugas menjadi pastor rekan yang melayani 1.125 umat Katolik.

Dirinya menempuh perjalanan selama satu jam untuk paroki terdekat, sementara paroki terjauh ditempuh selama tiga jam.

Karena kondisi geografis, lokasi tersebut ditempuh dengan menumpangi kapal pompong yang terbuat dari kayu atau alternatif lain dengan speed boat. Diceritakanya, masyarakat di sana mayoritas bekerja sebagai nelayan.

Pastor Martinus Handoko menumpangi kapal pompong di Paroki St. Carolus Boromeus, Ujung Beting
Foto Ilustrasi: Pastor Martinus Handoko menumpangi kapal pompong di Paroki St. Carolus Boromeus, Ujung Beting (Istimewa/Pastor Martinus Handoko)

“Untuk pelayanan di sana seringkali membutuhkan tenaga ekstra karena harus berkeliling dari pulau ke pulau. Kalau musim angin kencang bisa saja membuat kita takut, misalnya kapal terbalik dan tenggelam,” ungkapnya.

Meski menantang, namun ternyata perjumpaan dengan umat cukup menjadi penyemangat bagi Pastor Martinus Handoko.

“Ketika kunjungan, umat bercerita itu sudah menjadi penyemangat bagi saya. Ternyata situasi hidup mereka lebih berat, mereka masih mampu menghibur “Romo harus kuat ya, harus semangat ya” itu menjadi penyemangat untuk saya,” katanya.

Setelah dua tahun ditempatkan di Paroki Stella Maris Tarempa, kini Pastor Martinus Handoko kembali bertugas di Pangkalpinang menjadi staff pembimbing dan pengajar sosiologi dan ekstrakurikuler menulis di SMAK Seminari Mario Jhon Boen.

Bakal Pimpin Misa Natal di Letung

Dalam waktu dekat, Pastor Martinus Handoko akan berjumpa kembali dengan umat khususnya di wilayah Letung, Paroki Stella Maris Tarempa karena akan memimpin Misa Natal 2022.

Tema Natal yang diusung oleh Keuskupan Pangkalpinang tahun 2022 ini adalah “Pulanglah Mereka ke Negerinya Melalui Jalan Lain” (Mat 2:12),

Menurut Pastor Martinus, pesan Natal ini disampaikan secara global. Umat Katolik tidak eksklusif tapi terbuka kepada yang lain artinya tidak membawa nama agamanya tetapi membawa nama persaudaraan.

“Ketika saya merenungkan pesan Natal tahun ini, saya menganggap ada poin penting yakni solidaritas artinya kita harus hidup bersama bukan hanya konteks satu agama tetapi hidup berbaur dengan agama dan suku bahkan yang berbeda sekalipun,” ujar Pastor Martinus Handoko.

(Bangkapos.com/Ardhina Trisila Sakti)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved