Tribunners

Tiongkok, Kiblat Arus Perdagangan Babel

Dari sisi ekspor timah, selama Januari-November 2022, Tiongkok menjadi negara tujuan ekspor terbesar

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Royhan Faradis S.S.T. - Fungsional Statistisi Muda BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 

Oleh: Royhan Faradis S.S.T. - Fungsional Statistisi Muda BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

PEJABAT, eksekutif bisnis, dan ekonom Indonesia telah menyatakan keyakinannya bahwa pencabutan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang digaungkan oleh pemerintah akan meningkatkan perdagangan dan investasi bilateral. Indonesia sendiri acapkali dikaitkan dengan hubungan dagang yang lebih condong ke Tiongkok daripada ke arah data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Tiongkok tetap menjadi mitra terbesar Indonesia untuk kedua ekspor tersebut dan impor, yang masing-masing berjumlah US$53,31 miliar dan $55,90 miliar dalam 10 bulan pertama tahun 2022.

Tiongkok menempati urutan kedua dalam investasi asing langsung (FDI) ke Indonesia tepat di bawah Singapura, dengan realisasi $5,18 miliar tahun 2022 per September, menurut data Kementerian Investasi. Pembatasan mobilitas yang lebih rendah dengan pencabutan PPKM akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi, baik Tiongkok maupun Indonesia, ke arah yang lebih tinggi dari perkiraan. Permintaan Tiongkok untuk komoditas ekspor Indonesia seperti timah, nikel olahan, besi dan minyak sawit mentah (CPO) juga akan meningkat lebih dari perkiraan sebelumnya.

Peraturan yang dilonggarkan juga diharapkan dapat mendorong lebih banyak investasi Tiongkok ke dalam industri pengolahan mineral di Indonesia seperti nikel, bauksit, dan kobalt. Dengan kebijakan ini Indonesia dirasa akan optimistis untuk tetap mempertahankan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen pada tahun 2023 seperti yang tercantum pada APBN.

Walau sempat melonjak kasus Covid-19 di Tiongkok pada akhir tahun 2022, tidak menyurutkan aktivitas dagang Tiongkok terhadap pasar Indonesia. Negara ini makin mengukuhkan peran yang lebih besar dalam rantai pasokan global. Sekarang pembatasan mobilitas telah dilonggarkan, hal ini dapat memfasilitasi beberapa bisnis Tionghoa untuk pindah ke Indonesia.

Selain itu, pengeluaran yang lebih tinggi di kalangan konsumen Tiongkok akan mendorong pertumbuhan permintaan untuk produk Indonesia. Atmosfer ini menuntut Indonesia sebagai produsen untuk melakukan diversifikasi produk ekspor ke barang yang bernilai lebih tinggi dan padat teknologi.

Meskipun Tiongkok menghadapi masalah ekonomi di pasar perumahan dan keuangan, persyaratan perjalanan yang lebih longgar di Tiongkok akan meningkatkan kepercayaan investor untuk mengunjungi Indonesia guna mengeksplorasi peluang bisnis. Jangan heran jika dalam beberapa tahun ke depan bisa jadi jumlah wisatawan yang masuk ke Indonesia mayoritas berasal dari Tiongkok, bukannya Malaysia, Singapura, ataupun Timor Leste yang notabene bersebelahan dengan kawasan Indonesia.

Dalam lingkup yang lebih kecil yakni di Kepulauan Bangka Belitung, Tiongkok ada di mana-mana. Bukan hanya ekspor melainkan juga dari sisi impor. Dalam rilis Berita Resmi Statistik yang dilaksanakan pada 2 Januari 2023, Toto Haryanto Silitonga selaku Kepala BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menyatakan bahwa kebutuhan kita akan Tiongkok sangatlah kental. Arus perdagangan baik timah mapun nontimah selalu bertemu dengan kehadiran Tiongkok.

Dari sisi ekspor timah, selama Januari-November 2022, Tiongkok menjadi negara tujuan ekspor terbesar. Babel setidaknya telah mengantarkan timah senilai US$ 745,88 juta ke Tiongkok pada periode tersebut. Setidaknya hampir 35 persen total ekspor Babel berkiblat pada Tiongkok. Di posisi kedua baru negara seperti Singapura dan India menjadi negara tujuan ekspor timah berikutnya. Namun peran kedua negara tersebut tidak sebesar Tiongkok, di mana masing-masing hanya sebesar 16,24 dan 11,71 persen. Jika ditotal maka hampir 63 persen total timah Babel diekspor ketiga negara tadi.

Tidak behenti sampai di situ, Tiongkok masih menjadi kiblat ekspor barang nontimah Babel. Dengan total nilai US$ 102,75 juta, atau sekitar 32,28 persen dari total ekspor, Tiongkok masih jadi yang nomor satu kiblat arah ekspor nontimah Babel. Komoditas nontimah yang menjadi buruan Tiongkok adalah lemak dan minyak hewan nabati. Setidaknya pada sepanjang tahun 2022 telah dikirimkan sebanyak US$93,34 juta komoditas tersebut ke Negeri Tirai Bambu. Di posisi kedua dan ketiga barulah Malaysia dan Belanda dengan masing-masing berada di kisaran nilai US$ 53,79 juta dan US$ 43,74 juta.

Tiongkok juga masuk dalam 3 besar negara pengimpor ke Babel. Berada di urutan ketiga setelah Jepang dan Malaysia, Tiongkok makin mengukuhkan eksistensinya di arus perdagangan Babel, baik masuk maupun keluar. Pada Januari-November 2022, BPS mencatat bahwa Babel telah melakukan impor dari Tiongkok dengan nilai mencapai US$6,07 juta. Komoditas utama yang dikirimkan ke Babel adalah elektroda karbon dan sikat karbon. Hal yang asing di telinga masyarakat awam, namun nyatanya barang tersebut yang banyak dikirimkan Tiongkok ke Babel.

Dalam menjalankan politik luar negeri RI bebas dan aktif yang konsisten bagi kesejahteraan bangsa dan dihadapkan pada tantangan pandemi Covid-19, hubungan bilateral tidak dapat terelakkan. Salah satunya adalah hubungan bilateral Indonesia-Tiongkok yang terus berkembang pesat. Di tengah pandemi, kedua negara saling mendukung dan menyatukan upaya guna mengatasi dampak buruknya perekonomian global dan kehidupan sosial masyarakat.

Tak kurang 70 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Tiongkok yang dibangun di atas prinsip kemitraan, sinergi, dan solidaritas diharapkan dapat menjadi tonggak yang kuat untuk persahabatan menuju ke masa depan yang lebih baik. Selama membawa manfaat bagi pembangunan dan kemakmuran rakyat kedua bangsa, mengapa tidak? (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved