Breaking News:

Tribunners

Melejitkan Pembangunan Manusia

Bayi yang lahir di Kabupaten Belitung pada tahun 2022 memiliki harapan untuk hidup hingga 71 tahun.

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Susanti - Statistisi Badan Pusat Statistik Kabupaten Belitung 

Oleh: Susanti - Statistisi Badan Pusat Statistik Kabupaten Belitung

SECARA umum, konsentrasi pembangunan di Kabupaten Belitung tahun 2022 meliputi penguatan sektor pertanian dan perikanan, sektor pariwisata, sektor usaha mikro, pendidikan, serta kesehatan. Hal ini mengacu pada tujuan pembangunan nasional yang dijabarkan melalui pendekatan konsep pembangunan daerah. Pembangunan daerah telah dilakukan, aktivitas ekonomi di Kabupaten Belitung beragam mulai dari sektor pertanian, pertambangan, perdagangan, industri, dan jasa lainnya. Namun, bagaimana dengan gambaran kualitas masyarakat di Kabupaten Belitung?

Indeks pembangunan manusia (IPM) atau human development index (HDI) menjadi ukuran yang dianggap relevan untuk menunjukkan kualitas hidup manusia suatu daerah ataupun suatu negara. IPM tidak hanya mengukur satu aspek, melainkan juga melalui pendekatan multidimensi. IPM dapat menjelaskan indikator-indikator penting yang menjadi penentu kualitas hidup manusia seperti pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.

IPM disusun melalui 3 dimensi yang dianggap dapat merepresentasikan kualitas hidup masyarakat di suatu daerah. Dimensi pertama dicerminkan dari angka harapan hidup saat lahir (AHH), angka ini dapat menggambarkan umur panjang dan hidup sehat. Dimensi kedua dilihat dari angka harapan lama sekolah (HLS) dan rata-rata lama sekolah (RLS), ini menggambarkan kualitas pendidikan di suatu daerah yang bisa diakses oleh masyarakatnya. Dimensi terakhir yakni kesejahteraan, dicerminkan dari pengeluaran per kapita yang disesuaikan sehingga mampu menunjukkan standar hidup layak masyarakatnya.

Berdasarkan data yang telah dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Belitung, menunjukkan bahwa angka IPM Kabupaten Belitung meningkat dari 72,57 pada tahun 2021 menjadi 73,38 pada tahun 2022. Hal ini berarti pertumbuhan atau kecepatan kemajuan pembangunan manusia selama tahun 2022 mengalami percepatan dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut merupakan prestasi kinerja yang baik karena angka IPM Kabupaten Belitung di atas angka IPM nasional sebesar 72,91.

Dengan IPM, bukan hanya memaknai pembangunan dari aspek ekonomi saja, melainkan juga memahami kebahagiaan dasar masyarakat. Kebahagiaan dapat menjalani hidup dengan sehat, berumur panjang, pintar, mendapat ilmu pengetahuan, juga penghidupan yang layak.

Dimensi kesehatan di IPM diwakili oleh umur harapan hidup. Bayi yang lahir di Kabupaten Belitung pada tahun 2022 memiliki harapan untuk hidup hingga 71 tahun. Umur harapan hidup di Kabupaten Belitung ini naik 0,21 tahun dari tahun 2021. Meskipun masih diliputi berbagai polemik, program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) terbukti signifikan berdampak terhadap angka harapan hidup.

Pada dimensi pendidikan, angka IPM menunjukkan bahwa anak-anak usia 7 tahun di Kabupaten Belitung memiliki peluang menikmati pendidikan selama 11,89 tahun. Ini setara dengan bersekolah hingga kelas 11 SMA. Namun, angka ini masih di bawah rata-rata nasional (13,10 tahun).

Walaupun begitu, harapan lama sekolah penduduk Kabupaten Belitung meningkat dari 2021 ke 2022. Meningkatnya harapan lama sekolah ini menjadi sinyal bahwa memang ada perbaikan pada sistem pendidikan di Kabupaten Belitung. Kondisi yang demikian salah satu bukti bahwa makin banyaknya penduduk yang dapat bersekolah.

Kembalinya sistem pendidikan sekolah yang awalnya daring saat masa pandemi menjadi luring (tatap muka) terbukti meningkatkan angka harapan lama sekolah anak-anak di Kabupaten Belitung. Indikator rata-rata lama sekolah menunjukkan bahwa penduduk usia 25 tahun ke atas di Kabupaten Belitung secara rata-rata telah menempuh pendidikan selama 8,74 tahun atau setara dengan pendidikan jenjang SMP kelas 8.

Dengan meningkatnya angka rata-rata lama sekolah meningkat sebesar 0,27 tahun jika dibandingkan tahun sebelumnya, yang berarti kualitas pendidikan penduduk Kabupaten Belitung terus mengalami peningkatan cukup signifikan. Hanya saja, angka ini masih di bawah rata-rata nasional (8,69 tahun). Hal ini perlu kita renungi bersama, apakah bekal rata-rata lama sekolah yang dimiliki masyarakat Kabupaten Belitung ini cukup untuk menjawab tantangan revolusi industri 4.0?

Rata-rata pengeluaran per kapita yang disesuaikan (purchasing power parity atau PPP) masyarakat Kabupaten Belitung sebesar 14,045 juta per tahun. PPP menunjukkan keseimbangan daya beli di antara masyarakat di wilayah yang berbeda. Masa pandemi memaksa setiap sektor ekonomi untuk beradaptasi segera jika tidak mau digerus oleh perubahan. Di tahun 2022, pertanian masih menjadi sektor pendorong bagi perekonomian Kabupaten Belitung.

Jika melihat trend series angka IPM Kabupaten Belitung selama 5 tahun terakhir, memang selalu menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Hanya saja, status pembangunan manusianya masih tertahan pada level atau kategori "Tinggi" (70=IPM<80>80).

Bentuk konkret lain dari upaya peningkatan IPM adalah dengan ketersediaannya lapangan pekerjaan untuk masyarakat Kabupaten Belitung sendiri. Upaya ini akan meningkatkan perekonomian sehingga masyarakat mampu menaikkan standar hidupnya dan dimensi kesejahteraan pun dapat ditingkatkan.

Pemerintah dapat melakukan investasi melalui pengeluaran dan pembiayaan yang ditujukan untuk pembangunan manusia. Di dalam belanja daerah terdapat belanja modal yang merupakan investasi dalam menghasilkan pendapatan di masa mendatang. Porsi belanja modal yang lebih besar dalam anggaran belanja pemerintah akan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat.

Dalam hal ini belanja modal dapat berupa pengeluaran di sektor pendidikan dan kesehatan. Jika belanja modal tersebut tepat sasaran, maka akan berpengaruh pada peningkatan pembangunan manusia yang pada akhirnya mendorong tercapainya kesejahteraan masyarakat.

Selain itu sebaiknya pemerintah daerah tidak hanya fokus pada peningkatan jumlah fasilitas kesehatan maupun pendidikan, namun perlu diiringi dengan kualitas pelayanan kesehatan dan pendidikan yang baik. Hal ini tentunya membutuhkan tidak hanya ketersediaan pendanaan yang memadai, namun perlu didukung oleh ketersediaan sumberdaya tenaga kesehatan dan pendidikan yang berkualitas. (*)

Sumber: bangkapos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved