Tribunners
Peran Bimbingan Konseling di Kurikulum Merdeka
Tentunya dalam penerapan implementasi dari Kurikulum Merdeka ini tidak lepas dari peran semua tenaga pendidik
Oleh: Fitrianis S.Pd. - Guru Psikologi Pendidikan Bimbingan dan Konseling (BK) SMKN 3 Pangkalpinang
SISTEM pendidikan di Indonesia kembali mengalami penyesuaian, seiring adanya perubahan Kurikulum 2013 menjadi Kurikulum Merdeka. Di antara perubahan Kurikulum Merdeka ini yakni menekankan terhadap penambahan nilai-nilai karakter yang terdiri atas religius, nasionalis, integritas, mandiri, dan gotong royong. Enam nilai karakter ini yang sesuai dengan profil pelajar Pancasila.
Wujud profil pelajar Pancasila Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat dan siswa siswi berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan ciri-ciri beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berbineka global, bernalar kritis, bergotong royong, mandiri, dan kreatif. Untuk mengimplementasinya di antaranya telah dituangkan dalam Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor: 56/M/2022 tentang Penerapan Kurikulum dalam Rangka Pemulihan Pembelajaran perlu menetapkan Kurikulum Merdeka melalui jalur mandiri.
Tentunya dalam penerapan implementasi dari Kurikulum Merdeka ini tidak lepas dari peran semua tenaga pendidik, termasuk tenaga pendidik yang membidangi bimbingan konseling di sekolah. Seperti diketahui Kurikulum Merdeka bertujuan untuk menyesuaikan perubahan dan menjadi bagian transformasi pendidikan di Indonesia sehingga tidak ada kaitannya bila ada pergantian menteri pendidikan terjadi pergantian kurikulum. Sebab, kurikulum ini mengacu pada fungsi pendidikan nasional, yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pada pasal 13 disebutkan, mengembangkan dan membantu watak membentuk karakter serta peradaban bangsa, dalam mencerdaskan bangsa, dengan terwujudkan generasi muda yang diharapkan siswa memiliki pola pikir yang berlandaskan moral yang kokoh dan benar.
Memiliki psychological well being tinggi akan mengantarkan peserta didik pada pribadi yang menyadar keberadaannya. Dengan demikian, bisa mengubah tantangan yang ditemunya untuk menunjukkan aktualisasi diri. Menurut Ryff (1989) psychological well-being adalah suatu kondisi seseorang yang bukan hanya bebas dari tekanan atau masalah-masalah mental saja, tetapi lebih dari itu yaitu kondisi seseorang yang mempunyai kemampuan menerima diri sendiri maupun kehidupannya di masa lalu (self-acceptance), pengembangan atau pertumbuhan diri (personal growth), keyakinan bahwa hidupnya bermakna dan memiliki tujuan (purpose in life), memiliki kualitas hubungan positif dengan orang lain (positive relationship with others), kapasitas untuk mengatur kehidupannya dan lingkungannya secara efektif (environmental mastery), dan kemampuan untuk menentukan tindakan sendiri (autonomy).
Penulis bertugas sebagai guru bimbingan konseling di SMKN 3 Pangkalpinang memulai implementasi Kurikulum Merdeka melalui layanan bimbingan konseling siswa, sebagai wujud pembinaan karakter kesejahteraan psikologi siswa dengan guru mata pelajaran. Selain itu, berkolaborasi dengan orang tua siswa agar ikut menjalankan peranan guru bimbingan konseling pembentukan karakter siswa siswi. Sebab berbagai dampak positif untuk bimbingan konseling, melalui layanan wujud karakter siswa, di antaranya meningkatkan dan membantu prestasi siswa. Beberapa siswa ada kesulitan dalam belajar dan memahami materi pelajaran, serta membutuhkan perhatian lebih dari guru dengan konseling pribadi khusus siswa sehingga bisa meningkatkan prestasi belajarnya.
Lalu memberikan solusi permasalahn yang dihadapi siswa bukan akademis saja, apabila siswa sulit membangun hubungan interaksi sosial, keluarga sekolah, dan masyarakat. Peran guru bimbingan konseling sebagai mediasi serta memberikan bantuan kepada guru mata pelajaran yang belum mengetahui karakteristik siswa dan metode belajar bagi siswa sesuai dengan kebutuhan siswa. Sebab tidak semua permasalahan siswa bisa diselesaikan oleh guru bimbingan konseling sehingga perlu adanya kerja sama dari berbagai pihak.
Mengenal potensi dan memberi tanggapan yang tepat saat siswa berkonsultasi baik di dalam maupun di luar kelas, untuk mengenal diri sendiri setiap siswa dalam kegiatan belajar mengajar, guru mata pelajaran maupun guru bimbingan konseling dapat melakukan asesmen. Pelayanan responsif dan kemampuan konselor dalam mengoordinasikan komunikasi kepada segenap stakeholder sebagai salah satu wadah pendidikan karakter kepada siswa.
Apabila siswa yang tumbuh berkarakter yang baik, melakukan sesuatu dengan benar dan cenderung memiliki tujuan hidup. Melalui karakter psychological student well being mendukung pengoptimalan potensi siswa, perkembangan dan kemampuan tumbuh pribadi yang berintegritas, dan berfungsi secara penuh (full integrated and functioning person).
Karakter yang kokoh dan kuat berlandaskan moral yang mendukung dalam pengembangan kognitif dan potensi pada diri siswa, sesuai dengan kondisi dan kemampuan. Konselor memfasilitasi perkembangan karakter siswa agar mampu mengaktualisasikan perkembangan dirinya mencapai secara optimal. Dengan demikian, kualitas guru bimbingan dan konseling merupakan garda terdepan pendidikan nasional dalam implementasi Kurikulum Merdeka, guna mencetak karakter siswa.
Mengutip tulisan Sofyan S Willis 29 : 29 "The help happen given by one person to another in making choices and adjustment and in solving problems". Dalam proses bimbingan yang dikemukakan oleh Arthur ini amat sederhana yaitu dalam proses bimbingan ada dua orang yakni pembimbingan dan yang dibimbing sehingga yang dibimbing mampu membuat pilihan-pilihan, menyesuaikan diri dan memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20230205_Fitrianis-Guru-SMKN-3-Pangkalpinang.jpg)