Rabu, 20 Mei 2026

Tribunners

Mengenang Tokoh Pers Nasional Tarman Azzam

Ada satu obsesi luhur Tarman yang senantiasa memperhatikan perkembangan PWI Babel, yakni ingin menjadikan PWI Babel kuat dan disegani

Tayang:
Editor: suhendri
ISTIMEWA
Irwanto - Mantan Wakil Ketua PWI Babel 

Oleh: Irwanto - Mantan Wakil Ketua PWI Babel

PADA 9 Februari kembali diperingati Hari Pers Nasional (HPN). HPN 2023 dipusatkan di Medan, Sumatera Utara dengan mengusung tema "Pers Bebas, Demokrasi Bermartabat".

Kita patut bersyukur karena kehidupan pers di Kepulauan Bangka Belitung hingga kini terus berkembang. Pers di Pulau Timah telah eksis sejak lama dan berkontribusi dalam pembangunan daerah, khususnya di bidang informasi dan publikasi.

Namun, saat memperingati HPN, maka kita akan terkenang pada sosok tokoh pers Babel maupun tokoh pers nasional. Salah satu tokoh pers nasional yang legendaris dan berasal dari Kepulauan Bangka Belitung, yakni almarhum H. Tarman Azzam.

Tarman Azzam wafat di Ambon pada Jumat (9/9/2016) saat menghadiri acara yang digelar organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Mantan ketua PWI pusat dan wartawan Istana era Presiden Soeharto itu dikenal sangat jujur, tegas, dan konsisten.

Tarman juga sangat peduli pada Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Bukan saja lantaran namanya terpampang di struktur Presidium Perjuangan Pembentukan Provinsi Kepulauan Babel, tetapi karena ia ingin provinsi ini berjalan dengan baik sesuai cita-cita luhur masyarakat dan para pendirinya.

"Last but not lease, untuk membangun Babel diperlukan kepemimpinan daerah yang kuat bersifat kolektif meliputi eksekutif, legislatif, yudikatif, pers dan kekuatan-kekuatan sospol atau LSM. Kepemimpinan itu terutama bertumpu pada gubernur dan DPRD Babel yang kuat, adil, jujur, dan ikhlas yang menjadi suri teladan, membangun kebersamaan dan perasaan sense of belonging," kata Tarman suatu ketika.

Tarman lahir pada 11 Desember 1949 di pondok kebun dekat hutan rimba di kawasan Sangku, Bangka. Dia lahir ditolong seorang dukun beranak. Tarman lahir dari rahim seorang wanita asal Desa Tanah Bawah bernama Zuraida yang biasa disapa Dot.

Adapun ayahnya bernama Mat Azis yang akrab dipanggil Acok bin Derani. Acok berasal dari Desa Zed yang waktu itu bekerja sebagai mandor penebang dan pengangkat kayu untuk bahan energi kapal keruk milik perusahaan tambang timah Belanda, Bangka Tin Winning (BTW).

Tanggal 1 Juli 1957, Tarman kecil mulai bersekolah di Sekolah Rakyat (SR) Tempilang sekitar 8 kilometer dari tempat tinggalnya di Dam III. Bersama teman-teman ia berangkat ke sekolah diantar mobil truk perusahaan penambangan timah. Tetapi pulangnya tak ada jemputan. Terpaksa Tarman dan kawan-kawan pulang jalan kaki melintasi kebun karet, perkebunan rakyat, dan hutan belukar.

Selanjutnya, Tarman remaja menamatkan sekolahnya di SMPN 2 dan SMA Negeri 1 Kacangpedang Pangkalpinang. Tarman muda sempat aktif di gerakan Angkatan 66 yang tergabung di Presidium KAPPI Bangka dan menjadi Ketua Utama IPNU Cabang Bangka saat dikirim ke Padang guna mengikuti leadership training course (LTC).

Setelah menamatkan sekolah, Tarman berangkat ke Jakarta. Tetapi ia hampir frustrasi ketika Januari 1969 gagal masuk ke sekolah impiannya Sekolah Tinggi Publisistik (STP) Jakarta karena terbentur dana. Untung ia akhirnya mendapat kesempatan kuliah di STIA-LAN dan menamatkan S1 Sospol dari FISIP Universitas Jayabaya Jakarta.

Kala menjadi mahasiswa STIA-LAN inilah Tarman terpanggil menempuh kursus praktik jurnalistik yang diselenggarakan Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) dan langsung diangkat menjadi wartawan Harian KAMI. Waktu itu, ia sempat meliput di kamar mayat RSCM Jakarta. Juga pernah ada kesempatan dikirim ke Vietnam Selatan guna meliput tragedi perang Vietnam.

Kemudian kariernya terus berkibar saat bertugas di kepolisian, Hankam/ABRI. Apalagi selama hampir 22 tahun ia bertugas di lingkungan Istana Kepresidenan RI dan sekaligus selama tiga periode diberi kepercayaan menyandang jabatan Ketua/Koordinator Wartawan Istana. Tak terhitung berapa kali Tarman berkesempatan menyertai perjalanan ke luar negeri Presiden RI. Dengan demikian, wajar, Tarman disebut termasuk duta bangsa mewakili kalangan jurnalis Indonesia lainnya.

Di organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sendiri karier Pemred Harian Terbit ini terus bersinar terang. Pada 1993 dan 1995, secara aklamasi ia terpilih menjadi Ketua PWI Cabang DKI Jakarta. Dan puncaknya, mantan peserta Lemhanas angkatan XXVII ini pada 1998 terpilih menjadi ketua umum PWI pusat pada Kongres ke-20 PWI di Semarang. Luar biasanya Tarman sukses menjabat sebagai ketua umum PWI pusat selama dua periode. Setelah itu, ia dipercayakan menjabat sebagai ketua dewan kehormatan.

Selama menjalani karier dan kehidupannya, Tarman didampingi sang istri, yakni Aas Sudiasih kelahiran Jakarta 3 Agustus 1955. Sudiasih merupakan seorang putri Wedana Karawang, Mas Achmad Sanusi. Mereka menikah pada 10 Desember 1976 dan memiliki putra bernama Mohammad Iskandar.

Selain perhatian pada anggotanya di seluruh Indonesia, Tarman juga sangat perhatian pada kehidupan masyarakat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Berbagai daerah dan pelosok kampung di Babel kerap dikunjungi Tarman. Termasuk pernah berkeliling Pulau Belitung bersama beberapa pengurus PWI Babel (termasuk penulis). Di atas Bukit Samak Manggar saya sempat melihat Tarman termenung sedih menyaksikan puing-puing bangunan sisa peninggalan kejayaan PT Timah Tbk.

Ada satu obsesi luhur Tarman yang senantiasa memperhatikan perkembangan PWI Babel, yakni ingin menjadikan PWI Babel kuat dan disegani di tingkat nasional. Keinginan itu disampaikannya kepada kami pengurus PWI Cabang Babel generasi pertama saat pertama kali mengikuti kegiatan Hari Pers Nasional (HPN) dan Porwanas PWI di Banjarmasin Kalsel 2002 silam. "Walaupun ikak baru terbentuk namun harus pacak menjadi yang terbaik dan disegani," kata Tarman waktu itu. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved