Tribunners

Fisika Asyik Bersama Lato-lato

Guru Besar Bidang Fisika Teori IPB, Husin Alatas, mengatakan, dinamika gerak permainan lato-lato dapat dijelaskan berdasarkan tiga hukum Newton

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Anggi Ethovianti, S.Pd. - Guru SMAN 1 Pemali 

Oleh: Anggi Ethovianti, S.Pd. - Guru SMAN 1 Pemali

"TAK tok-tak tok" akhir-akhir ini mengisi telinga kita. Sebagian besar dari kita kemungkinan pernah mendengar bunyi khas dari permainan lato-lato ini. Bunyi-bunyi tersebut dapat kita temukan nyaris di hampir semua tempat publik, seperti lampu merah, wahana bermain, pasar, atau bahkan di sekitar rumah. Dapat kita lihat bahwa permainan ini dimainkan oleh anak-anak atau bahkan orang dewasa.

Permainan lato-lato kembali viral di tengah masyarakat pada kisaran akhir Desember 2022 dan masih terjadi hingga sekarang. Akan tetapi, ternyata lato-lato bukanlah permainan yang baru muncul melainkan sudah ada sejak era 1960-an. Lebih lanjut lagi, permainan ini mulai dikenal di Indonesia dengan nama kethek-kethek pada tahun 1970-an. Bahkan, permainan ini sudah dikenal di Amerika dengan nama clacker atau knockers.

Lato-lato terdiri atas dua buah bola plastik atau karet yang terikat dengan tali sehingga berbentuk seperti bandul. Cara bermain lato-lato cukup menarik dan penuh tantangan. Untuk memainkan lato-lato, ujung tali dimasukkan ke jari tangan lalu tangan digerakkan turun naik sehingga kedua bola saling bertumbukan dan menimbulkan bunyi yang khas. Lantas, permainan yang berbentuk seperti bandul ini apakah dapat dimanfaatkan dalam dunia pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran fisika maupun mengenalkan konsep dasar dari fisika?

Dalam berbagai proses pembelajaran, guru berperan sebagai fasilitator yang memfasilitasi peserta didik untuk menemukan konsep sehingga tujuan pembelajaran atau kompetensi minimum mata pelajaran dapat tercapai. Ketika memfasilitasi peserta didik, guru ditantang dapat menciptakan suasana pembelajaran yang efektif dan menyenangkan. Hal tersebut bertujuan agar proses pembelajaran dapat menarik minat peserta didik.

Namun, untuk menciptakan suasana pembelajaran seperti itu bukan persoalan yang mudah. Diperlukan komponen-komponen lain dalam mendukung proses pembelajaran, seperti guru harus menggunakan metode dan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi ajar serta karakteristik peserta didik. Dalam hal ini, peran pembelajaran kontekstual akan makin bermanfaat.

Komponen penting yang tidak boleh dilupakan dalam proses pembelajaran ialah pemanfaatan media. Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan menyatakan bahwa sarana pendidikan adalah segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat dan perlengkapan dalam mencapai tujuan pembelajaran. Sementara itu, Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan bahwa alat pelajaran adalah segala sesuatu yang diperlukan untuk keperluan proses belajar mengajar. Jadi, dalam hal ini media/alat pelajaran sangat diperlukan untuk menciptakan iklim belajar yang menyenangkan di dalam kelas.

Penggunaan alat pelajaran sangat membantu guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran. Guru terbantu dalam meminimalkan komunikasi verbal sehingga guru tidak harus selalu menjelaskan materi dengan metode ceramah saja. Dengan alat atau media pembelajaran, guru dapat menampilkan fenomena maupun materi ajar melalui alat peraga dan alat praktikum yang digunakan dengan menyenangkan.

Dengan demikian, guru dapat melibatkan peserta didik secara aktif sehingga peserta didik tidak merasa bosan dengan aktivitas monoton seperti mendengar penjelasan guru semata. Peserta didik dapat tertantang untuk belajar melalui aktivitasnya sendiri, tentu saja di bawah pengawasan guru.

Peserta didik juga dapat melakukan eksplorasi pengetahuan dan mencoba keterampilan baru melalui alat pelajaran yang tersedia. Dalam hal ini, pemanfaatan lato-lato dalam pembelajaran dapat menarik minat siswa untuk mengeksplorasi pengetahuan dan mencoba keterampilan baru. Terdapat beberapa konsep fisika dalam permainan lato-lato yang dapat dijadikan media dalam menyampaikan materi pelajaran oleh guru, di antaranya:

(1) Tumbukan lenting sempurna yang terjadi ketika momentum dan energi kinetik setiap benda sebelum tumbukan sama dengan momentum dan energi kinetik setiap benda setelah tumbukan. Dalam permainan lato-lato, tumbukan lenting sempurna terjadi ketika dua bola diayunkan dan saling bertumbukan.
(2) Hukum kekekalan momentum yang terjadi karena dalam permainan lato-lato terjadi pula tumbukan lenting sempurna. Hukum ini menjelaskan bahwa momentum benda sebelum dan sesudah tumbukan bernilai sama.
(3) Getaran pendulum yang merupakan gerak bolak-balik bandul ke titik seimbangnya.
(4) Gerak sirkuler yang terjadi ketika bola dalam permainan lato-lato membentuk gerak melingkar. Tegangan tali pada lato-lato sebagai gaya sentripetal dan kecepatan linier dipengaruhi panjang tali. Lebih lanjut lagi, Guru Besar Bidang Fisika Teori IPB, Husin Alatas, mengatakan, dinamika gerak permainan lato-lato dapat dijelaskan berdasarkan tiga hukum Newton.

Pemanfaatan permainan yang sedang digandrungi oleh peserta didik memang terbukti dapat membantu proses penyampaian materi dalam pembelajaran. Dalam hal ini, bahkan Washington Post merilis bahwa permainan lato-lato di Amerika ternyata memang dibuat sebagai alat pembelajaran ilmu Fisika. Dengan begitu dapat dipahami bahwa guru bisa memberikan aplikasi hukum dengan pembelajaran yang lebih konseptual, kontekstual, dan dekat dengan peserta didik. Hal tersebut dapat mengaktifkan semangat kreatif, kritis, dan motivasi belajar fisika yang lebih muda dan menyenangkan bagi peserta didik. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved