Mahasiswi UPH Minta Kasus Penganiayaan Terhadap Dirinya Dikawal Netizen, Pelaku Anak Pengusaha Kaya
Mahasiswi UPH Dianiaya Pacar hingga mengalami luka di sejumlah tubuhnya. Pelaku merupakan anak pengusaha kaya di Kembangan Jakarta Barat.
BANGKAPOS.COM --Gerah mantan kekasihnya yang melakukan penganiayaan terhadap dirinya belum juga ditangkap, Mahasiswi Berinisial As minta warganet mengawal mengawasi kasus yang sudah dilaporkan ke Polres Tangerang Selatan agar tidak menguap begitu saja.
Pasalnya pelaku yang juga mahasiswa UPH berinsial BJK merupakan anak pengusaha terkemuka yang tinggal di Kembangan, Jakarta Barat.
Kejadian penganiayaan mahasiswi UPH ini viral di media sosial Twitter sejak 17 Februari 2023.
Kasus penganiayaan terhadap seorang mahasiswi diduga terjadi di kampus Universitas Pelita Harapan (UPH), Karawaci, Tangerang, Banten.
Korban adalah mahasiswi berinisial AS dan pelakunya adalah mahasiswa UPH berinisial BJK.
Dalam cuitan, AS membeberkan rentetan penganiayaan yang dialaminya dari sang pacar, BJK.
Keduanya diketahui sama-sama berstatus mahasiswa aktif UPH.
AS mengambil jurusan Management Business angkatan 2022 dan BJK merupakan kakak kelasnya di jurusan yang sama tahun 2020.
BJK adalah anak pengusaha terkemuka yang tinggal di Kembangan, Jakarta Barat.
AS mengaku melaporkan kasus penganiayaan ini ke kampus dan ke polisi, beberapa waktu lalu.
Nyatanya, hingga pekan kedua Februari 2023, pelaku masih berkeliaran.
Korban juga meminta tolong netizen untuk mengawal kasus tersebut agar tidak menguap begitu saja.
"Aku minta tolong warga Twitter untuk up kasus ini, karena sampe detik ini pelaku belum tertangkap dan masih aktif serta bebas berkeliaran," kata dia baru-baru ini lewat akun Twitter @annisasknh8
AS juga mengunggah foto-foto dirinya terluka akibat penganiayaan yang dilakukan AS.
AS mengaku mengalami penganiayaan dari BJK sejak Juni 2022 atau beberapa waktu setelah mereka mulai berpacaran.
Kekerasan yang dialaminya membuat AS mengadu Komnas Perempuan pada Desember 2022.
Hingga, BJK meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi.
Sikap BJK membuat AS luluh dan tak melanjutkan aduan ke Komnas Perempuan.
"Aku berpikir bahwa dia 'akan berubah' ternyata itu kesalahan terbesar aku," tuturnya.
Kronologi
AS mengaku berkali-kali mendapat kekerasan fisik maupun verbal selama dirinya berpacaran dengan BJK.
"Penganiayaan yang aku alamin sebenernya sudah berlangsung lama, dari yang pertama kali itu di tanggal 7 juni 2022 hingga yang terakhir yang aku terima itu Sabtu lalu yaitu verbal abuse," cuitan Anisa di akun Twitter pribadinya beberapa hari lalu.
Mulai dari situ, ia mulai menjabarkan kronologi penganiayan yang diterimanya.
Ternyata, tidak sekali dua kali Anisa menerima penganiayaan secara fisik oleh BJK hingga lebam dan berdarah.
"Penganiayaan yang ke-4 adalah penganiayaan yang paling parah dari sekian banyak, pelaku menganiaya aku secara membabi buta hanya karena aku memilih turun dari mobil pelaku dan pulang gak bareng sama dia. Pelaku menganiaya aku mulai dari nyeret aku masuk ke mobil dan memaksa sampe dorong aku masuk ke mobil dia," ungkap Anisa.
Di dalam mobil, mahasiswi UPH itu mengaku dipukul hidungnya sampai geser, bahkan kepalanya dibenturkan ke dashboard, kaca, dan kemudi mobil.
Tak berhenti di situ, Anisa dijambak, ditampar, diseret dan banting ke tanah.
"Yang paling parah cekik aku sambil bilang, "mati lo ya anjing ga pernah dengerin gue bangsat," tulis Anisa.
Anisa juga mengunggah foto-foto bukti penganiayannya, berupa wajah bonyok, darah yang keluar dari hidung, luka sobek di betis dan luka lainnya.
Korban kemudian melapor ke pihak kampus.
AS menyatakan pihak kampus membentuk tim investigasi untuk menyelidiki dugaan penganiayaan yang terjadi di area kampus.
"Bersyukur pihak kampus dengan tim investigasi nya usut kasus ini karena sebelumnya pelaku juga pernah menganiaya di area kampus," ungkap AS.
Korban juga menyatakan bahwa BJK telah dipanggil oleh pihak kampus.
"Dan yang bikin makin sakit keluarga pelaku hadir bersama pelaku karena pelaku dipanggil oleh kampus (harusnya secara incognito tanpa orang tuanya) mereka malah menjelek2an reputasi aku ke kampus (supaya BJK tidak diproses DO) dan mereka bilang bahwa aku deserve untuk dapat penganiayaan karna menjadi penyebab emosi pelaku (BJK), dan mereka meminta dibackup kepada pihak kampus," papar AS.
"Bersyukur nya pihak kampus tahu yang sebenar-benarnya karna ada pemukulan di "area kampus" juga, makanya mereka tahu harus memproses yang mana!" imbuhnya.
Secara terang-terangan, AS meminta tolong agar kasusnya tidak menguap begitu saja.
"Aku minta tolong untuk warga Twitter untuk up kasus ini, karena sampe detik ini pelaku belum tertangkap dan masih aktif serta bebas berkeliaran," kata AS.
Korban juga mengaku telah mengadu kepada orangtuanya yang selanjutnya melaporkan masalah ini ke polisi.
Dari informasi yang didapatkan, kasus yang mendapatkan perhatian netizen tersebut sudah sampai ke telinga pihak rektorat kampus.
Sampai saat ini pun, UPH masih melakukan penelusuran dan pendalaman soal dugaan penganiayaan.
"Benar bahwa kami telah menerima laporan dari mahasiswa yang bersangkutan, dan hal tersebut telah ditanggapi sesuai prosedur oleh tim pemeriksa UPH. Saat ini kami sedang dalam proses administratif," kata humas UPH kepada TribunJakarta.com, Sabtu (18/2/2023).
Anisa telah membuat laporan penganiayaan ke Mapolres Tangerang Selatan.
Dikutip dari Wartakotalive.com, laporan tersebut tercatat dengan nomor polisi TBL/B356/II/2023/SPKT/POLRES TANGERANG SELATAN/POLDA METRO JAYA.
Dalam laporan pada hari Rabu (15/2/2023) tersebut, AS turut menyertakan bukti seperti visum.
(TribunTangerang.com/TribunJakarta.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20230219-penganiayaan-yang-dialami-seorang-mahasiswi-UPH.jpg)