Pengamat Minta Ahok Bertindak Ungkap Penyebab Kebakaran Depo Pertamina Plumpang
Sejak peristiwa kebakaran hebat yang terjadi di Depo Pertamina Plumpang Jumat (3/3/2023) malam hingga saat ini Ahok tak muncul.
BANGKAPOS.COM -- Kebakaran Depo Pertamina Plumpang mengakibatkan 19 tewas, puluhan luka-luka dan warga kehilangan harta benda akibat rumah terbakar.
Peristiwa ini menyisahkan luka mendalam bagi keluarga korban maupun warga yang terkena dampak kebakaran.
Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi minta Komisaris Utama PT Pertamina Basuki Tjahaja Purama alias Ahok bertindak.
Sebab sejak peristiwa kebakaran hebat yang terjadi di Depo Pertamina Plumpang Jumat (3/3/2023) malam hingga saat ini Ahok tak muncul.
Sebagai komisaris Ahok terkesan lepas tanggung jawab terhadap perusahaan BUMN itu.
"Ini momentum bagus untuk melakukan penyelidikan, Ahok bisa bentuk tim independen dengan melibatkan ahli perminyakan dan lainnya untuk mencari (penyebab)," ucapnya Senin (6/3/2023), dikutip dari Tribunnews.com.
Menurut Fahmy, penyebab dari kebakaran itu secara disengaja atau tidak tetap harus dicari sebabnya.
Baca juga: BREAKING NEWS: Bocah Perempuan Usia 8 Tahun Hilang di Kebun Sawit Desa Terentang Bangka Barat
Agar publik tahu dan tak memicu prasangka buruk serta saling menyalahkan.
Saat ini Polri memang tengah menyelidiki penyebab kebakaran itu, namun alangkah baiknya tim internal Pertamina turut membantu.
Sejauh ini, tim Pusinafis Bareskrim Polri sudah mengantongi sejumlah barang bukti terkait dugaan awal penyebab kebakaran Depo Pertamina Plumpang.
"Perlu dipertanyakan, apakah petir atau dibakar? Masak petir terus dikambinghitamkan," imbuh Fahmy.
"Tim investigasi Pertamina harus dibentuk sebagai pembanding dari apa temuan polisi, tujuannya satu, agar tidak terulang kembali," imbuhnya.
Dia menambahkan, tidak ada yang diuntungkan akibat kebakaran depo Pertamina Plumpang ini, kecuali hanya dari sisi politis.
Baca juga: Sosok Pegawai DJP Bursok Anthony Marlon, Hartanya Minus, Berani Desak Mundur Sri Mulyani
"Selain masyarakat, Pertamina rugi pasti besar dan kalau dipolitisasi, kita tunggu beberapa anggota DPR ngomong, nggak bisa dihindarkan," ucapnya.
"Kalau yang diuntungkan secara umum mestinya tidak ada, merugikan bangsa ini juga," imbuh Fahmy.
Polri Kantongi Sejumlah Bukti
Kepolisian Republik Indonesia (Polri) terus mengusut dugaan penyebab kebakaran.
Sejauh ini, tim Pusinafis Bareskrim Polri sudah mengantongi sejumlah barang bukti terkait dugaan awal penyebab kebakaran Depo Pertamina Plumpang.
"Dari barang bukti yang ditemukan, tentu akan dilakukan proses seperti melalui laboratorium forensik, melalui laboratorium yang ada di Pus Inafis," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Ahmad Ramadhan saat ditemui awak media usai konferensi pers, Minggu (5/3/2023) di RS Polri Kramatjati.
Tim penyidik pun enggan teburu-buru menyimpulkan penyebab kebakaran karena menggunakan metode scientific investigation.
Termasuk kemungkinan kemiripan dengan tragedi pada tahun 2009 silam.
"Kita tidak melakukan asumsi, tetapi proses penyelidikan, proses penyidikan itu terus berjalan," ujar Ramadhan.
Sebelumnya, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengungkap pihaknya sudah mengantongi dugaan kuat penyebab kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Koja, Jakarta Utara.
Menurut Kapolri, pihaknya masih enggan mengungkap penyebab kebakaran Depo Pertamina Plumpang itu lantaran akan menyampaikannya secara komprehensif.
"Tentunya dugaan sudah ada, namun demikian kita tidak bisa menjawab terburu-buru, karena juga kita harus kumpulkan semuanya agar bisa membentuk satu kesimpulan agar bisa kita jelaskan," ucapnya.
Dugaan itu dipegang usai dirinya mengunjungi langsung Tempat Kejadian Perkara (TKP) bersama Kabareskrim Komjen Pol Agus Andrianto dan Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran.
"Kita tadi sudah masuk ke TKP didampingi oleh Kabareskrim, Kapolda, tim gabungan dan juga tim dari Pertamina untuk mengetahui penyebab terjadinya kebakaran," katanya.
Libatkan Drone, Polri Gelar Olah TKP Kebakaran Depo Plumpang
Polri terbangkan pesawat tanpa awak atau drone saat olah tempat kejadian perkara (TKP) kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara, Minggu (5/3/2023).
Hal tersebut diungkapkan oleh Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko.
Ia mengatakan, drone digunakan untuk mengambil foto satelit.
"Nanti drone ini akan naik mengambil foto satelit. Nanti akan langsung melihat apa yang menyebabkan, termasuk juga kemungkinan apa ini, termasuk proses penyelidikan secara scientific," ucapnya.
Trunoyudo juga menyebutkan, penggunaan drone untuk memantau kebakaran secara umum dan khusus (titik api awal).
"Tadi sudah saya sampaikan dari secara umum dan secara khusus ya. Kalau khusus kan dari titik api awal," ujarnya seperti yang diwartakan TribunJakarta.com.
"Di TKP ini ada beberapa gabungan yang pertama dari Labfor, Inafis, puslabfor, Pusinafis. Inafis ada dua, dari Mabes, ada juga dari Polda Metro Jaya," kata Trunoyudo.
Olah TKP dilakukan untuk menyelidiki penyebab kebakaran dan sumber awal api.
"Tujuan utamanya untuk mencoba melihat, mencari titik api sumber utama, sehingga bisa mengetahui apa penyebab (kebakaran),"
"Dan kemudian nantinya akan dibuat suatu sketsa tempat kejadian perkara (TKP)," tambahnya.
Anies Baswedan Jadi Sorotan
Buntut kebakaran di Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara, eks Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kini menjadi sorotan.
Sekretaris Fraksi PSI DPRD DKI Jakarta William Aditya Sarana mengkritisi kebijakan Anies yang menerbitkan surat izin mendirikan bangunan (IMB) di Kawasan Tanah Merah, yakni lokasi di sekitar depo tersebut.
Menurutnya, Anies yang kala itu menjabat sebagai orang nomor satu di DKI, seharusnya tak menerbitkan IMB tersebut.
"Harusnya pak Anies mengajak warga untuk pindah ke lokasi yang aman. Ini malah dikasih IMB," kata William pada Minggu (5/3/2023) dikutip dari TribunJakarta.com.
Pihaknya mempertanyakan alasan Anies Baswedan memberikan izin pendirian bangunan tersebut hingga akhirnya berakibat fatal.
Seharusnya, kata William, Anies Baswedan bisa lebih tegas terhadap hal ini.
"Ini pembelajaran penting, pemimpin harus punya ketegasan."
"Jangan cuma mau ambil kebijakan yang enak didengar tapi bisa mencelakakan masyarakat," jelas William.
Pihaknya juga memperbandingkan kebijakan yang dibuat Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok saat menjabat Mantan Gubernur DKI.
Ahok, kata William, pernah mengajak warga untuk pindah karena keberadaan permukiman di dekat Depo Pertamina sangat berbahaya.
Menurutnya, ketegasan yang ditunjukan Ahok ini sepatutnya ditiru oleh para pemimpin.
"Pak BTP dulu pernah mengajak warga untuk pindah karena memang tidak aman jika ada pemukiman dekat Depo Pertamina."
"Ketegasan pak BTP harus ditiru oleh pemimpin politik, walaupun terkadang tidak nyaman, tapi kebijakan penting diambil untuk keselamatan masyarakat sendiri," jelas William.
Lebih lanjut, pihaknya mengingatkan agar Pemprov DKI agar memenuhi kebutuhan dasar dan hak-hak dari para korban.
"Pemprov DKI Jakarta sekarang harus fokus menyelamatkan warga. Jangan sampai kejadian ini terulang."
"Pastikan mereka sekarang punya tempat tinggal yang aman dan korban dapat pengobatan gratis," ujar William.
Artikel ini telah tayang di WartaKotalive.com dengan judul Ahok Mager, Pengamat Minta Bentuk Tim Investigasi untuk Ungkap Sebab Kebakaran Depo Pertaminahttps://wartakota.tribunnews.com/2023/03/06/ahok-mager-pengamat-minta-bentuk-tim-investigasi-untuk-ungkap-sebab-kebakaran-depo-pertamina?page=all
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/komisaris-utama-pt-pertamina-basuki-tjahaja-purnama-ahok.jpg)