Tribunners
Eksistensi Perpustakaan Mendahului Esensinya
Oleh karena itu, di era revolusi 4.0 seperti sekarang, perpustakaan tidak boleh hanya berorientasi pada layanan, namun juga kepada pengguna
Oleh: Arja Kusuma - Pustakawan Universitas Bangka Belitung
SECARA fisik, keberadaan perpustakaan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bukanlah sesuatu yang sulit untuk dijumpai. Hampir semua kabupaten/kota di Bangka Belitung memiliki perpustakaan. Jika kita melihat dari data Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang disampaikan dalam acara sosialisasi akreditasi perpustakaan desa se-Provinsi Bangka Belitung pada 18 Juli 2022 secara daring, bahwa jumlah perpustakaan di Bangka Belitung sebanyak 1.255 perpustakaan yang tersebar di kabupaten/kota.
Dengan jumlah yang relatif banyak tersebut, dan jika perannya dioptimalkan, maka perpustakaan akan menjadi salah satu kekuatan yang potensial untuk dikembangkan dalam upaya membangun sosial-ekonomi masyarakat Bangka Belitung. Misalnya, melalui program perpustakaan berbasis inklusi sosial, perpustakaan dapat menjadi salah satu pusat kegiatan dalam memberdayakan masyarakat di sekitar melalui pelatihan atau kegiatan sejenisnya.
Sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Rani Auliawati Rachman et al. (2019) tentang transformasi Perpustakaan Desa Gampingan Gemar Membaca dalam menyejahterakan masyarakat di sekitar perpustakaan dengan cara melakukan kegiatan pelatihan menanam sayur organik. Selain itu, perpustakaan juga dapat menjadi solusi dalam meminimalisasi kesenjangan akan akses informasi yang berkualitas dan kesenjangan akan akses pendidikan, dengan demikian perpustakaan tidak hanya mencerdaskan, namun juga menyejahterakan.
Namun sayangnya, optimalisasi peran perpustakaan tersebut belum maksimal dilakukan di Bangka Belitung. Berbagai persoalan seperti pendanaan, ketersedian sarana prasarana masih menjadi permasalahan utama perpustakaan di Negeri Serumpun Sebalai, bahkan dalam menyikapi perubahan pun perpustakaan di Bangka Belitung masih terkesan lamban. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana perpustakaan menyikapi perubahan yang terjadi akibat perkembangan teknologi informasi dan komunikasi seperti internet, tidak semua perpustakaan di Bangka Belitung menyediakan layanan katalog online yang memudahkan penggunanya mencari dan menemukan informasi terkait koleksi yang dibutuhkannya di mana pun dan kapan pun.
Menurut hemat penulis, apa yang menjadi permasalahan perpustakaan tersebut adalah hal yang wajar, mengingat perpustakaan adalah organisasi nirlaba atau nonprofit, dan pengembangan perpustakaan salah satunya ditentukan oleh lembaga yang menaunginya. Namun, bukan berarti kewajaran tersebut menjadikan pustakawan dan tenaga perpustakan larut dalam permasalahan tersebut sehingga menyebabkan peran perpustakaan di Bangka Belitung belum optimal dirasakan oleh masyarakat.
Pustakawan dan tenaga perpustakaan memiliki peran penting dalam mengoptimalkan peran perpustakaan tersebut. Salah satunya adalah dengan melakukan reorientasi dalam pengelolaan perpustakaan, di mana selama ini pengelolaan perpustakaan di Bangka Belitung hanya berorientasi pada layanan tanpa mengetahui dampak dari layanan tersebut kepada masyarakat yang menggunakan jasa perpustakaan, hanya dengan berorientasi pada layanan, menjadikan perpustakaan terkesan kurang aktif, karena perpustakaan hanya menunggu pengguna yang datang.
Oleh karena itu, di era revolusi 4.0 seperti sekarang, perpustakaan tidak boleh hanya berorientasi pada layanan, namun juga kepada pengguna. Dengan demikian, perpustakaan dituntut untuk lebih aktif berinteraksi dengan pengguna, karena perpustakaan harus mengetahui latar belakang siapa yang menjadi penggunanya? Apa yang menjadi kebutuhannya? Apa yang menjadi permasalahan? Potensi apa yang dapat dikembangkan dari diri dan lingkungan mereka?
Setelah melakukan reorientasi, selanjutnya perpustakaan harus menyusun visi dan misi yang selaras dan sejalan dengan visi dan misi lembaga induk yang menaunginya. Ketika visi dan misi perpustakaan sudah selaras dan sejalan dengan lembaga yang menaunginya, maka kegiatan yang diselenggarakan oleh perpustakaan juga harus mendukung pencapaian visi dan misi tersebut dan berdampak bagi masyarakat penggunanya.
Dengan demikian, diharapkan perpustakaan di Bangka Belitung akan lebih eksis dalam mendukung visi dan misi lembaga yang menaunginya, dan kegiatanya akan lebih berdampak bagi masyarakat pengguna perpustakaan. Oleh karena itu, eksistensi perpustakaan mendahului esensinya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20230308_Arja-Kusuma-Pustakawan-Universitas-Bangka-Belitung.jpg)