Rabu, 3 Juni 2026

Jejak Islam di Pulau Bangka

Pemakaman Tangga Seribu di Kota Muntok, Makam Para Bangsawan Islam

Di komplek pemakaman ini ada makam bangsawan Islam melayu yang berasal dari keluarga Siantan, berjumlah delapan orang

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Rifqi Nugroho | Editor: khamelia
(Rifqi)
Suasana pemakaman Bangsawan, Kute Seribu atau Tangga Seribu di Kelurahan Tanjung, Kecamatan Muntok, Bangka Barat 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Jejak Islam di Pulau Bangka kali ini, akan membahas mengenai keberadaan makam kuno Islam, yang berada di komplek pemakaman Kute Seribu atau Tangga Seribu di Kelurahan Tanjung, Kecamatan Muntok, Bangka Barat.

Komplek pemakaman yang terkenal dengan nama Tangga Seribu ini, lokasinya berada di perbukitan tak jauh dari pusat Kota Muntok ini menjadi pusat para peziarah warga setempat maupun dari luar daerah, terutama pada momen tertentu.

Sub Koordinator Sejarah Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangka Barat Muhammad Ferhad Irvan menyatakan, pada kawasan ini ada 10 makam yang ditetapkan sebagai benda cagar budaya di wilayah Bangka Barat.

“Di komplek pemakaman ini ada makam bangsawan Islam melayu yang berasal dari keluarga Siantan, berjumlah delapan orang. Selain itu juga ada makam ulama yang memiliki kaitan dengan pendiri Kota Muntok,” ujar Ferhad.

Selanjutnya, ia juga menyampaikan 10 makam yang ditetapkan sebagai benda cagar budaya itu merupakan milik Encik Wan Abdul Jabar yang merupakan mertua Sultan Mahmud Badaruddin I, kemudian ada nama Encik Wan Aqup saudara sepupu Sultan Mahmud Badaruddin I, ada juga makam Encik Wan Serin saudara sepupu Sultan Mahmud Badaruddin I.

“Ada juga makam Abang Pahang Datuk Tumenggung Dita Menggala dan Istri dari Abang Pahang itu. Lalu makam Abang Ismail Tumenggung Karta Manggala, Abang Muhammad Toyyib Tumenggung Kartawijaya, dilanjutkan Abang Arifin dan istrinya yang bergelar Tumenggung Kartanegara I, terakhir Abang Muhammad Ali Tumenggung Kartanegara II,” jelasnya.

Ferhad selanjutnya juga sedikit bercerita mengenai sejarah dari komplek pemakaman tersebut, menurut kisah yang ada di Bangka pada sekitar tahun 1758 pada setelah Sultan Mahmud Badaruddin I meninggal dunia yang kemudian digantikan anaknya Sultan Najamudin menunjuk Abang Pahang Datuk Tumenggung Dita Menggala sebagai penguasa di Bangka.

“Selanjutnya tahun 1759 Abang Pahang Datuk Tumenggung Dita Menggala inilah yang menginstruksikan dibangunnya masjid pertama di Kota Muntok. Meskipun sampai saat ini belum bisa menemukan lokasi pastinya, apakah sama dengan masjid Jamik Muntok saat ini atau di tempat lain,” ujarnya.

Menurutnya belum bisa ditentukannya titik masjid pertema tersebut karena dari catatan dalam bahasa Belanda yang ditemukan, menunjukkan jika pada 1744 Kota Muntok pernah mengalami kebakaran hebat sehingga merubah bentuk peta dari kawasan ini.

“Belanda baru membuat peta Kota Muntok pada tahun 1820 oleh Van Der Wijk. Untuk itu peta kawasan ini sudah mengikuti dari apa yang dibuat Belanda, dimana bentuknya tentu berbeda dengan sebelum terjadinya kebakaran,” tuturnya.

Sementara itu mengutip Buku Korpus Mapur Dalam Islamisasi Bangka karya Teungku Sayyid Deqy, disebutkan jika nisan di Tangga Seribu Kota Muntok banyak mendapat pengaruh dari Kesultanan Palembang Darussalam karena saat itu secara politis Pulau Bangka merupakan bagian dari kekuasaan kerajaan Palembang.

“Terdapat juga dua makam yang nisannya mempunyai tulisan Arab Melayu, yaitu pada makam Abang Pahang dan Abang Muhammad Thayib. Bahan baku makam di Muntok menggunakan batu karang dibanding batu andesit, kemudian semakin tinggi kedudukan seorang tokoh, maka ragam hias makamnya semakin raya dibanding dengan tokoh lain,” dikutip dari Buku Korpus Mapur Dalam Islamisasi Bangka.

(Bangkapos.com/Rifqi Nugroho/bersambung)

 

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved