Tribunners
Memimpin untuk Perubahan
Kekuatan memimpin perubahan dan menjadi pemimpin perubahan bukan terletak pada ukuran kepintaran semata, melainkan kepada ketajaman visi, imajinasi
Oleh: Rusmin Sopian - Penulis yang Tinggal di Toboali
DI tengah arus perubahan yang begitu cepat melanda dunia hari ini, organisasi, lembaga apa pun, terutama pemimpin dan birokrasi, sangat penting menyikapi perubahan. Pemimpin perubahan adalah orang yang berusaha terdepan untuk memulai langkah perubahan yang kemudian menjadi acuan bagi yang lain untuk mengikuti jejak langkahnya.
Pada sisi lain ada pula penentang perubahan, yang karena lamanya berada dalam zona nyaman kemudian selalu melakukan perlawanan setiap perubahan. Semua itu bisa jadi, ia menentang perubahan karena kepentingannya terganggu atau karena terlalu kuatnya kacamata masa lalu untuk melihat fenomena hari ini dan masa depan.
Jack Ma menegaskan bahwa kompetisi masa depan ialah kompetisi imajinasi dan kreativitas. Sementara itu, Honda pernah mengatakan sebagian orang bermimpi untuk lari dari kenyataan, tetapi sebagian lagi bermimpi untuk mengubah kenyataan. Mimpi menjadi kekuatan untuk mengubah kenyataan, apalagi ketika mimpi tersebut sudah mampu diterjemahkan menjadi visi.
Kekuatan memimpin perubahan dan menjadi pemimpin perubahan bukan terletak pada ukuran kepintaran semata, melainkan kepada ketajaman visi, imajinasi, mimpi, dan kreativitas yang mengubah dunia. Dari sinilah diperlukan keberanian, kepercayaan diri, daya inisiatif, dan kekuatan memengaruhi untuk melahirkan inovasi baru untuk menuju titik perubahan.
Organisasi dan lembaga membutuhkan pemimpin yang mampu melakukan transformasi ganda (dual transformation), yakni dengan melakukan reposisi dan mengeksploitasi opportunity baru di masa sekarang, sekaligus menciptakan positioning yang tepat untuk menjadi relevan di masa depan. Seorang pemimpin perlu menetapkan arah kebijakan strategis jangka panjang, yang akan tetap relevan bagi pemimpin berikutnya. Kita sudah melihat betapa besarnya biaya jika kita tidak berorientasi pada masa depan.
Segala permasalahan kita hari ini sebagian besar akibat kesalahan pengambilan keputusan di masa lalu, atau ketidaksiapan kita di masa lalu dalam mengantisipasi berbagai perubahan. Jika di masa sekarang para pemimpin tidak berorientasi masa depan, di masa depan kita harus membayar mahal kesalahan masa sekarang ini.
Bukankah ada pepatah yang mengatakan, "Waktu terbaik menanam pohon adalah 20 tahun yang lalu. Waktu terbaik kedua adalah sekarang." Pemimpin masa depan pun lebih berorientasi pada hasil yang baik (result-goal oriented), tidak selalu mengedepankan prosedur dalam pengambilan keputusan.
Menjaga integritas menjadi kompetensi utama bagi pemimpin masa depan karena segala sesuatu yang berkait dengan pekerjaan menjadi transparan. Seorang pemimpin harus mendengar, melihat, merasakan dan turun ke medan pekerjaan agar dapat mengambil keputusan dan melihat masalah dengan sebaik-baiknya. Keputusan yang dibuat pun harus dilakukan secara cepat dan tepat dan berguna bagi organisasi dan bawahannya. Bukan berdasarkan suara masukan dari para pembisik yang memanfaatkan perilaku purba yang bernama aji mumpung untuk kepentingan sesaat yang merugikan masa depan sebuah organisasi, lembaga, daerah dan bahkan negara.
Dan sebagai warga bangsa yang tinggal dan berkehidupan di Negeri Serumpun Sebalai, kita sangat percaya dan berkeyakinan, di bawah nakhoda Penjabat Gubernur Suganda Pandapotan Pasaribu yang dilantik 31 Maret yang lalu, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung akan berkemajuan dan berperubahan sesuai dengan potensi yang dimiliki daerah kepulauan ini.
Rasulullah bersabda bahwa sebaik-baik manusia ialah yang memberi manfaat untuk orang lain. Maka, sebaik-baiknya kita adalah pemimpin yang membawa perubahan yang bermanfaat untuk kemajuan bangsa, kemaslahatan umat manusia, dan alam semesta. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20230209_Rusmin-Sopian-Mantan-Jurnalis.jpg)