Jejak Islam di Pulau Bangka
Penelusuran Jejak Islam Bangka, Menguak Tipe Nisan Makam Kuno
Menurutnya di wilayah Bangka Kota yang masuk bagian selatan Pulau Bangka, setidaknya ditemukan empat tipe nisan Aceh yang sangat langka
Penulis: Rifqi Nugroho | Editor: Ardhina Trisila Sakti
BANGKAPOS.COM, BANGKA – Penelusuran jejak penyebaran Islam di Bangka kali ini, akan mengulas berkembangnya agama ditinjau dari Arkeologi Makam Kuno.
Penulis buku Korpus Mapur Dalam Islamisasi Bangka, Teungku Sayyid Deqy menyebutkan jika peninjauan dari peninggalan Arkeologi itu berfungsi untuk membuktikan secara ilmiah, berdasarkan ilmu sains mengenai tahun pembuatannya.
“Penentuan perkiraan usia nisan – nisan tersebut dilakukan dengan metode uji karbon secara arkeologi jadi tidak terbantahkan secara ilmiah. Selain itu, bisa juga dilakukan melalui sumber Firologi atau melalui tulisan – tulisan yang ada pada makam,” ujarnya.
Dia mencontohkan itu diterapkan pada makam yang berada di daerah Bukit Malik, Bangka Kota milik Jati Sari yang memiliki tipe Demak – Tralaya. Nisan makam tersebut terbuat dari batu andesit yang berasal dari tanah Jawa dan di perkirakan dibuat sekitar abad 15 sampai 16 Masehi.
“Disitu juga ada tulisan kaligrafi dengan gaya Jawa atau Sulut. Jadi disini kekayaan yang ada di nisan bisa diteliti lebih lanjut untuk melihat siapa yang dimakamkan disitu, berasal dari mana dan kapan meninggalnya,” ucap Teungku Deqy.
Selanjutnya ia juga menjelaskan jika hasil dari apa yang sudah ia teliti, menunjukkan jika di Bangka banyak ditemukan makam dengan dua jenis batu nisan. Pertama ditemukan banyak batu nisan jenis Demak – Tralaya berkisar antara abad 15 sampai 16 Masehi, kemudian yang ke dua banyak juga makam tipe Aceh.
“Di Bangka setidaknya ditemukan empat nisa tipe Aceh, yang menunjukkan data jika pulau ini pernah di singgahi orang – orang Aceh. Yaitu pada abad 13 sampai abad 16 masehi,” ungkapnya.
Menurutnya di wilayah Bangka Kota yang masuk bagian selatan Pulau Bangka, setidaknya ditemukan empat tipe nisan Aceh yang sangat langka. Dari perbedaan makam di wilayah itu bisa juga di lakukan penarikan mengenai siapa saja yang pemilik makamnya.
“Karena menurut undang – undang Aceh, penggunaan nisa jenis itu hanya boleh digunakan oleh orang – orang tertentu. Hanya boleh digunakan untuk keturunan Raja atau ulama-ulama, atau bangsawan besar,” tandasnya.
Dari empat nisan tipe Aceh di Bangka Kota, salah satunya milik Karang Panjang dengan nama asli Syekh Syarif Abdul Rasheed yang memiliki Panjang makam 4 meter dan lebar hampir 3 meter. Meskipun pada nisan tidak tertulis tahun berapa tokoh tersebut meninggal dan hanya terdapat ukiran.
“Meski bentuk nisan dari batu kapur tipe Aceh tidak terdapat tulisan dan hanya memiliki motif Gedong Samar, bisa diteliti itu diproduksi tahun berapa. Itu tipe-tipe masa kesultanan Aceh yang ada di daerah Lamuri,” ungkapnya.
Selanjutnya, selain tipe Aceh Teungku Deqy menyampaikan jika secara arkeologi banyak juga ditemukan batu nisa tipe Demak Tralaya yang tersebar dari Bangka Utara sampai Bangka Selatan. Bahkan hampir di seluruh daerah itu ada bukti – bukti makam kuno Islam tersebut.
“Itu menjadi penjelasan atau bukti arkeologi bahwa untuk melihat penyebaran Islam di Bangka itu secara komprehensif harus diurutkan satu persatu dari tahun termuda sampai ke paling lama. Setelah berhasil dikumpulkan baru diurutkan, pada buku saya baru bisa mengumpulkan 84 makam kuno Islam,” tuturnya.
“Sehingga masih banyak yang masih luput dalam penelitian yang saya lakukan. Karena bukti – bukti arkeologi itu penting untuk dilindungi, tentunya sebagai bukti bagaimana sejarah di masa lalu,” pungkasnya
(Bangkapos.com/Rifqi Nugroho/bersambung)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20230411-Nisan-makam-kuno.jpg)