Sejarah Tupperware, Kini Terancam Bangkrut, Perabotan Rumah Tangga yang Digandrungi Emak-emak
Namun sayangnya dilansir Kompas.com dari CNN, terungkap perusahaan Tupperware terancam bangkrut.
BANGKAPOS.COM -- Siapa yang tak kenal Tupperware?
Tentu saja Tupperware terkenal di kalangan emak-emak.
Produk yang identik dengan penyimpanan makanan dan minuman ini sangat digandungi ibu-ibu rumah tangga di Indonesia.
Apalagi Tupperware menawarkan beragam produk dengan variasi warna-warni cerah.
Selain itu juga bahannya yang dinilai kokoh sehingga banyak para Ibu Rumah Tangga (IRT) yang mengoleksi produk perabotan rumah tangga ini.
Namun sayangnya dilansir Kompas.com dari CNN, terungkap perusahaan Tupperware terancam bangkrut.
Pasalnya sahamnya turun hingga 50 persen pada Senin (10/4/2023).
Diakui pihak Manajemen Tupperware bahwa mereka tidak memiliki cukup uang untuk mendanai operasionalnya jika tidak mendapatkan uang tambahan.
Bahkan saat ini pihak perusahaan mengatakan sedang menjajaki potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) dan sedang meninjau portofolio real estatnya untuk upaya penghematan uang potensial.
Selain itu, New York Stock Exchange juga memperingatkan bahwa saham Tupperware terancam dihapus dari daftar karena tidak mengajukan laporan tahunan yang diwajibkan.
Sejarah Tupperware
Lantas, bagaimana sejarah Tupperware? Sejarah Tupperware.
Dilansir dari Independent, Tupperware adalah merek asal Amerika Serikat yang didirikan oleh Earl Tupper, seorang ahli kimia pada 1946.
Pendirian Tupperware berawal saat Tupper sedang bereksperimen dengan plastik, yang saat itu masih baru dan tidak populer.
Pada saat itu, plastik masih dianggap sebagai barang yang jelek, bau, dan tidak berguna.
Namun, Tupper mengubahnya menjadi plastik yang dapat dicetak, fleksibel, dan tahan lama.
Selanjutnya, Tupper membuat tutup plastik yang tahan air dan kedap udara untuk digunakan sebagai tempat menyimpan makanan dan membuat makanan tetap segar.
Menargetkan ibu-ibu rumah tangga Lihat Foto Awalnya, Tupperware menolak melakukan penjualan langsung kepada konsumen.
Perusahaan tersebut lebih memilih melakukan penjualan langsung di toko atau melalui katalog. Namun, bisnis Tupperware mulai tidak baik-baik saja pada akhir 1940-an karena jenis wadah plastiknya berbeda dari merek kebanyakan saat itu.
Pada 1951, Tupper kemudian mempekerjakan Brownie Wise, seorang pelayan di perusahaan produk pembersih Stanley Home.
Stanley Home memiliki cara untuk menjual produk langsung kepada ibu-ibu rumah tangga yang memiliki julukan "home party".
Wise pun akhirnya berhasil menjual Tupperware langsung kepada ibu rumah tangga.
Bahkan, ibu rumah tangga tersebut ikut menjual Tupperware tentu dengan pelatihan dari Wise.
Bukan sekadar berjualan Tupperware, kumpulan ibu rumah tangga tersebut dapat dikatakan sebagai komunitas dan berkembang pesat.
Komunitas tersebut juga dikenal sebagai "Tupperware party".
Meskipun Wise sudah tidak lagi bekerja di Tupperware sejak 1958 karena memiliki konflik dengan Tupper, namun "Tupperware party" tetap berjalan.
Bahkan, Tupperware sampai mendunia dengan penjualan di hampir 100 negara.
Benda Berharga bagi Emak-emak
Tupperware adalah salah satu benda berharga bagi ibu-ibu yang jangan sampai hilang.
Apabila tempat minum atau bekal makanan dari Tupperware hilang, maka bisa saja Anda akan mendapat sanksi seperti yang diungkapkan sejumlah warganet berikut ini.
"Tanyarl info tempat tinggal dong. yang angker juga gapapa. kalo gaada ya kolong jembatan kayaknya masih oke," tulis pengirim pada twit ini pada Minggu (21/11/2021).
Twit juga dilengkapi dengan tangkapan layar chat dari kontak WhatsApp bernama "Mamaa" yang menanyakan Tupperware miliknya ada di mana.
Selain itu, ada juga sejumlah warganet yang bernasib sama yakni pernah menghilangkan atau kehilangan Tupperware dan kena marah orangtuanya.
"Mak gua ngamuk banget pas ke kantor bapak gua eh tupperware tempat makannya jadi tempat oli, kata bapak kirain plastik biasa :))))))))))) gu dengernya jg kesel siii," tulis akun Twitter ini.
"Sudah pernah dan emng se ngeri itu, waktu smp bawa tupperware ilang jatuh dijalan, dibahas sampe 2 minggu kemudian dimarah" i sampe skrng trauma kalau pake tupperware," tulis salah satu warganet.
Pegadaian Terima Gadai Tupperware
Dikutip dari Kompas.com pihak pegadaian menerima gadai Tupperware.
Marketing Executive PT Pegadaian (Persero) Kanwil V Manado Marco Maramis mengakui program gadai Tupperware ini bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada nasabah dan memberikan kemudahan bagi masyarakat yang membutuhkan dana.
Program ini menyasar seluruh area yang termasuk dalam wilayah V Manado, dan sudah dilaksanakan di hampir seluruh cabang di wilayah itu.
"Itu meliputi area Palu, Gorontalo, Manado, Papua, dan Papua Barat. Untuk penerimaan barang tersebut lebih baik nanti datang ke kantor cabang Pegadaian bukan di unit, " kata Marco.
Namun, kata dia, ada beberapa outlet yang belum melakukan program ini karena masih ada kendala teknis, terutama soal tempat penyimpanan barang.
Maksimal pinjaman uang gadai Rp 500.000
Marco menjelaskan, produk Tupperware dipilih karena dianggap mempunyai nilai ekonomis yang lumayan.
Selain itu, banyak rumah tangga yang menggunakan produk ini.
Program gadai Tupperware masuk dalam program gadai prima dengan maksimal uang gadai yang bisa diterima adalah Rp 500 ribu.
"Gadai prima dengan bunga 0 persen, gadai prima itu pinjaman maksimalnya Rp 500 ribu. Kalau mau lebih dari itu bisa menggunakan produk gadai yang lain," jelas di Marco.
Tupperware yang dapat digadaikan harus dalam kondisi baik dan lengkap, bisa baru atau second. "Kalau misal rantangan ya lengkap," ujar Marco.
Persyaratan gadai ini cukup mudah, hanya dengan datang membawa produk Tupperware yang akan digadaikan ke kantor cabang dan Kartu Tanda Penduduk.
PT Pegadaian Kanwil V, kata Marco, juga telah melakukan sosialisasi soal program ini.
"Kami juga sudah ketemu dengan distributor Tupperware. Kami sudah mengadakan kerja sama dalam sisi penyampaian ke masyarakat," jelas Marco.
Program ini sudah berjalan selama dua minggu, dan mulai gencar dalam satu pekan terakhir.
"Sudah mulai ada yang menggadaikan, satu cabang ya udah 10 lah," kata Marco.
Penentuan besarnya uang gadai disesuaikan dengan harga pasar dan harga produk yang digadaikan.
"Jadi nanti ada harga pasarnya, harga pasar ditentukan oleh pihak Pegadaian. Kami punya katalog dan harga second-nya, jadi bisa kami tentukan," jelasnya.
Sementara, waktu gadai ditetapkan selama 4 bulan dan bisa diperpanjang.
Setelah waktu maksimal yang diberikan tidak ada perpanjangan, maka akan dilakukan lelang terbuka.
(Kompas.com/Muhammad Idris/Alinda Hardiantoro/Retia Kartika Dewi/Mela Arnani)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Terancam Bangkrut, Siapa Sebenarnya Pemilik Tupperware?, Sejarah dan Fakta, Tupperware, Wadah Makanan yang Jangan Sampai Hilang! dan Viral, Pegadaian Terima Tupperware, Tertarik?.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/tupperware-kini-bisa-digadaikan_20180809_085528.jpg)