Berita Bangka Tengah

Update Harga Pembelian TBS Sawit di Sejumlah Pabrik di Bangka Tengah

Perkembangan harga pemberian TBS sawit dirasa penting untuk diketahui oleh para petani sawit

|
Bangkapos.com/Edwardi
Ilustrasi Petani kelapa sawit mandiri sedang memanen dan mengangkut TBS kelapa sawit dari kebunnya untuk dijual 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Fluktuasi harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit terus terjadi di wilayah Kabupaten Bangka Tengah.

Oleh karena itu, perkembangan harga pemberian TBS sawit dirasa penting untuk diketahui oleh para petani sawit.

Pasalnya, perkebunan sawit menjadi menjadi komoditi pertanian terbesar dibanding jenis pertanian lainnya yang ada di Bangka Tengah.

Sekedar informasi, berdasarkan data dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bangka Tengah, tercatat ada 53 ribu hektar lahan potensi pertanian di Bangka Tengah.

Dari luas tersebut, baru 22 ribu hektar di antaranya yang sudah dikerjakan atau dilakukan kegiatan tanam tumbuh oleh masyarakat yang mana 9 ribu hektarnya adalah perkebunan kelapa sawit.

Update per hari ini, Rabu (24/5/2023), harga pembelian TBS sawit di sejumlah Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Bangka Tengah semuanya berada di bawah angka Rp2.000 per kilogram.

Setidaknya ada 5 PKS di Bangka Tengah yang diketahui saat ini membeli TBS sawit milik rakyat, berikut daftar harganya:

- PT Swarna Nusa Sentosa Rp1.820 per kilogram
- PT Bangka Agro Mandiri Rp1.780 per kilogram
- PT Putera Bangka Tani Rp1.750 per kilogram
- PT Mutiara Hijau Lestari Rp1.750 per kilogram
- CV Mutiara Alam Lestari Rp1.750 per kilogram

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bangka Tengah, Demsi Apriadi mengatakan, harga TBS sawit ini turun di bawah angka Rp2.000 per kilogram mulai sebelum lebaran.

"Mulai turun harga sebelum lebaran," kata Demsi, saa dihubungi Bangkapos.com

Dia menjelaskan, sampai dengan kwartal 1 ini, harga CPO dunia sedang turun. Hal itulah yang kemudian menjadi salah satu sebab harga TBS sawit menurun.

Selain itu, pihaknya beranggapan bahwa saat ini permintaan CPO dunia menurun karena permintaan minyak nabati selain dari sawit segar banyak stoknya 

"Diduga negara importir CPO banyak mengalihkan CPO ke minyak nabati lain," jelasnya.

(Bangkapos.com/Arya Bima Mahendra)

Sumber: bangkapos
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved