Tribunners

Ibadah Melayani

Singkatnya, ibadah melayani dari, untuk, dan antara sesama hamba, bagian dari kunci kemabruran haji itu sendiri

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Dr. Masmuni Mahatma, S.Fil.I, M.Ag. - Ketua PWNU Kepulauan Bangka Belitung 

Oleh: Dr. Masmuni Mahatma, S.Fil.I, M.Ag. - Ketua PWNU Kepulauan Bangka Belitung

TUGAS manusia sebagai hamba di alam semesta ini hanya untuk menyembah dan berpasrah kepada Allah SWT. Demikian, perintah dan ajaran Al-Qur'an yang tak bisa diabaikan. Sebab di hadapan Allah, kita sama sekali tak punya hal apa, baik daya maupun upaya. Semua denyut, pikir(an), gerak(an) dan ikhtiari diri merupakan "hal yang tak pernah berdiri sendiri", selalu terikat dan terkait dengan "pertolongan" Allah SWT.

Bahkan, di dalam Al-Qur'an juga dinyatakan bahwa kita diciptakan dan dilahirkan oleh Allah dalam "ketidaktahuan" atas banyak. "Wallahu Kholaqokum wama Ta'malun". Singkatnya, kita hidup hanya untuk menyembah, berpasrah, dan bertawakal terhadap takdir Allah SWT. Inilah yang realistik. Biar tiap diri tidak menjadi pribadi yang congkak, sombong, eksploitatif, manipulatif, hegemonik, dan sejenisnya.

Karena kita adalah hamba yang penuh kelemahan, keterbatasan, dan kekurangan baik di hadapan Allah maupun di lingkungan sesama manusia, tiap diri mesti menyadari pentingnya untuk saling menguatkan, menumbuhkan, membesarkan dan interaktif-humanistik. Terlebih lagi di kala menyambut, mendampingi, dan menunaikan ibadah haji, sebuah puncak ibadah ritualitas yang sangat sarat tantangan, rintangan, pesan, makna, substansi, dan edukasi-edukasi universalistik berkehambaan.

Perlunya Tiga Hal

Demi meraih dan mentransformasikan ibadah haji dengan seperangkat nilai spiritual maupun moralnya, diperlukan pendalaman untuk tiga hal. Selintas tiga hal ini tampak ringan, tetapi sangat membutuhkan pendalaman secara esensialistik. Kalau tidak, bisa-bisa mengurangi sedikit kualitas penunaian ibadah haji dan maslahatnya.

Pertama, posisikan ibadah haji sebagai bentuk maksimal perwujudan penyembahan diri kepada Allah SWT. Kesanggupan dan kesiapan mentalitas spiritual dan moral kehambaan mesti diasah sedemikian transformatif. Bukan semata-mata "mengaitkan" dengan hal duniawi yang parsialistik, seperti mengejar status sosial, gengsi di tengah masyarakat, apalagi perilaku "wisata" keberagamaan belaka.

Dengan memosisikan wujud maksimal kehambaan, insyaallah, kesadaran spiritualistik dan aktualisasi moralitas humanistik akan terpancar serta mengalir secara naturalistik. Tiap-tiap diri dalam konteks ini, akan menjadi diri kolektif-regulatif, bukan sekadar diri manipulatif-egoistik. Apalagi semata-mata pencitraan diri yang kurang edukatif.

Kedua, jadikan haji sebagai cermin religiositas diri sepenuh kecintaan terhadap ilahi. Mengaca diri pada kualitas hati sendiri merupakan otokritik kehambaan yang sangat luhur. Minimal, kita tahu kelemahan, kekurangan, keterbatasan, dan dosa-dosa diri yang telah menodai perilaku kehambaan selama ini. Lebih dari itu, supaya kita mengedukasi diri sebelum terlempar jauh ke jalan terjal friksi sosial kemanusiaan pada umumnya.

Cermin diri, menurut al Ghazali, adalah hati. Menjaga, merawat, mendewasakan dan senantiasa menjernihkan hati, sungguh pola kehambaan yang tak mudah. Tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan, selama kita ikhtiar dan ijtihad berbasis tawakal kepada Allah SWT.

Bahkan, seorang Paus Yohanes II menegaskan bahwa tidak mungkin cermin yang retak menghasilkan bayangan rupa diri dengan baik. Artinya, diri yang mewujud sebagai cermin atas esensialitas dirinya sendiri, ia akan menjamin integrasi diri semaksimal kehambaan. Sebaliknya, kalau hati tidak dikemas dan tidak dirias selaiknya cermin jernih untuk diri, maka kita akan sering melihat rupa-rupa diri dalam keambiguan dan paradoksal. Intinya, merawat hati, merawat diri menjadi elemen penting peribadahan haji.

Ketiga, lepaskan orientasi duniawiyah berlebih selama menunaikan ibadah haji. Sekira secara nyata ibadah haji adalah melibatkan kebugaran, kesehatan, dan kesiapan fisik, itu nyata. Tak bisa dimungkiri. Namun hal ini sejatinya bagian dari cara meraih spiritualitas haji yang juga ukhrowiyah. Maka tata niat, luruskan pola kehambaan dan penyembahan, serta prioritaskan kemaslahatan ukhrowiyah. Dengan demikian, tiap-tiap diri terselamatkan dari praktik keibadahan yang tampak ukhrowiyah, tetapi sebetulnya masih sesak dengan orientasi duniawiyah. Ini hal yang kurang produktif dalam eksistensi kehambaan.

Makna Kemabruran

Di sisi lain, yang dikejar tiap diri dalam menunaikan ibadah haji ialah kemabruran. Ini sesuatu yang luhur dan termafhumi. Tak bisa disepelekan. Akan tetapi, pemaknaan atas kemabruran, perlu saling dicerahkan sehingga masing-masing diri terhindar dari indikasi kontraproduktif menyangkut substansi kehajian.

Ali Syariati menyinyalir bahwa kemabruran bukan semata-mata terkait efek individualistik. Lebih dari itu, sangat tersambung dengan objektivitas kerja-kerja kehambaan sejak dari berangkat hingga penunaian ibadah haji. Tiap diri harus menyadari bahwa spiritualitas ibadah haji adalah konstruksi realitas sosial atau aktualisasi dari moralitas siapa pun yang beribadah haji. Kepasrahan, kekhusyukan, totalitas penyembahan di hadapan Ka'bah, perlu senantiasa dibaluri kesigapan moralitas kemanusiaan.

Mabrur, sederhananya, bisa merupakan wujud kedamaian diri, keteduhan jiwa, kelancaran beribadah. Namun juga sangat terkait seriil mungkin dengan kualitas amaliah humanitas tiap-tiap diri penunai ibadah haji. Kepekaan untuk tawasau bi al-haq dan tswasau bi al-shabri, mengkhidmatkan diri demi kebajikan sesama, bagian dari kemabruran yang tidak bisa diabaikan.

Ilustrasi ini merupakan potret ibadah melayani bagi sesama berbasis konstruksi teologis keagamaan. Patut dicermati, dijadikan landasan kemabruran, dan pencerahan dalam perhajian. Terlebih haji memang puncak aplikasi moralitas kemanusiaan, di samping derajat ritualitas dari dan untuk keilahian. Singkatnya, ibadah melayani dari, untuk, dan antara sesama hamba, bagian dari kunci kemabruran haji itu sendiri. Bismillah. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved