Tribunners

Berlabuhnya Kurikulum Pendidikan

Harapannya dengan berlabuhnya kurikulum baru ini bisa menjadi wadah yang baik bagi kemajuan keberadaban manusia dan pengembangan pendidikan

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Andre Pranata, S.Pd. - Guru Bahasa Indonesia di SMPN 2 Lubuk Besar 

Oleh: Andre Pranata, S.Pd. - Guru Bahasa Indonesia SMPN 2 Lubuk Besar

PENDIDIKAN adalah hal yang sangat fundamental dalam kehidupan manusia. Seluruh aspek kehidupan memerlukan pendidikan sebagai fondasi tegaknya keberadaban manusia. Tanpa pendidikan, manusia mungkin kembali ke zaman jahiliah yang penuh kegelapan. Semua manusia akan memangsa manusia lainnya tanpa rasa iba dan empati. Akan menakutkan sekali jika hidup pada zaman jahiliah.

Gambaran-gambaran gelap kehidupan manusia lampau terus mendorong manusia zaman kini untuk terus berinovasi agar terciptanya kemudahan hidup. Kemudahan-kemudahan tersebutlah yang menjadi latar belakang begitu fundamentalnya pendidikan bagi kehidupan manusia. Pendidikan bisa didapatkan bukan hanya di lembaga formal dan informal, ataupun nonformal.

Semua yang ada di dunia ini adalah bahan dan objek pendidikan terbaik untuk terus melangkah ke depan. Jika dahulunya manusia terjebak dalam hegemoni chauvinisme, sekarang gaung kesetaraan sedang gencar-gencarnya digalakkan di seluruh dunia. Hal tersebut menandakan bahwa pendidikan yang berkaitan dengan norma sosial di seluruh lapisan masyarakat sudah berubah ke arah yang lebih baik. Ya, begitulah seharusnya fungsi pendidikan berlaku pada manusia.

Pendidikan berupaya mengasah akal agar makin tajam menguliti setiap permasalahan yang ada pada kehidupan manusia. Cara yang paling ampuh adalah dengan menyusun kurikulum pendidikan dengan menyesuaikan zaman yang berlaku sekarang dan kemudian hari.

Di Indonesia, sudah 11 kali melakukan pergantian kurikulum pendidikan, dimulai pada masa pascakemerdekaan yaitu pada tahun 1947 dan yang terakhir adalah Kurikulum Merdeka yang baru diadaptasi pada tahun 2022. Tentu saja setiap kurikulum mengikuti perkembangan zaman. Namun, dalam praktiknya masih banyak sekali kekurangan, entah itu kekurangan secara perencanaan atau implementasinya.

Jika bicara output yang diinginkan, setiap kurikulum mengacu pada dunia kerja dan dunia nyata. Lihat saja bagaimana lulusan-lulusan sekolah menengah dan lulusan perguruan tinggi sekarang bisa seberguna apa di dalam lingkungan masyarakat dan bagi negara. Di lapangan, banyak sekali terjadi contoh belum meresapnya implementasi kurikulum pada masing-masing individu lulusan sekolah menengah dan perguruan tinggi.

Jika acuannya adalah dunia kerja, jumlah pengangguran tingkat sekolah menengah menurut data terbaru tahun 2022 adalah sekitar 2 jutaan pengangguran. Lebih lanjut, pengangguran pada lulusan perguruan tinggi berada pada angka 800 ribu pengangguran. Di sisi ini jelas sekali bahwa kurikulum belum mampu mengeluarkan ajian andalannya untuk menyejahterakan para lulusan pada tingkatnya masing-masing. Atau jangan-jangan orang yang ada di lapangan yang belum dapat mengerti lulusan yang diminta oleh kurikulum itu sendiri. Memang tidak ada yang sempurna, namun mengurangi permasalahan dan tidak mengulangi kesalahan yang sama merupakan salah satu ciri perencanaan yang tepat.

Dari sisi lainnya seperti moralitas, mentalitas, dan spiritual banyak sekali kasus anak berpendidikan yang minim moralitas. Ada yang melakukan pencurian, rudapaksa, dan perundungan. Entah siapa yang salah.

Orang tua dan guru kecil kemungkinan mengajarkan hal-hal yang buruk kepada anak secara langsung. Yang berbahaya bagi anak adalah kurang kuatnya seleksi terhadap hal buruk yang dilihatnya secara langsung maupun secara abstrak. Lalu, kurangnya visi untuk melihat masa depan adalah masalah klasik bagi setiap anak. Mereka hanya memikirkan kesenangan sesaat.

Dari sisi mentalitas, anak zaman sekarang cengeng-cengeng dan belum kuat mental. Contohnya adalah belum siapnya mental mereka menghadapi kasus yang disebabkan oleh mereka sendiri sehingga harus menyusahkan orang tua dan keluarganya. Kasus spiritual pun tak kalah getirnya, masjid-masjid kini sepi akan pengajian dan ceramah yang dihadiri oleh remaja dan anak-anak. Mereka lebih sering menggunakan gawainya untuk bermain game dan kumpul-kumpul tidak jelas bersama teman-temannya.

Kurikulum harus hadir sebagai saringan yang kuat bagi anak usia pendidikan agar mereka mengerti dan sadar bagaimana dunia berjalan. Kurikulum juga harus memberikan batas-batas yang jelas antara praktik berkehidupan Pancasila dan globalisasi terutama di sekolah. Perhatian ditujukan khusus kepada visi bagaimana implementasi berkehidupan Pancasila tidak berbenturan dengan gaya hidup materialis dan kapitalis khas globalisasi. Itulah kenapa kurikulum tercipta, bukan sebagai tandingan globalisasi, namun sebagai objek ideal penerjemahan Pancasila dan globalisasi di dalam kehidupan bernegara terutama pada tataran pendidikan.

Berlabuh artinya sampai pada tempat pemberhentian. Sampai pada hari ini yang diimpikan sejak dahulu. Sampai pada peradaban yang sudah disusun sebaik mungkin. Berhenti pada hal-hal yang belum baik pada kapal sebelumnya.

Mungkin berlabuhnya kapal kurikulum baru ini membawa banyak sekali perbekalan untuk kehidupan satu pulau bernama Nusantara. Kurikulum baru yang akan mendegradasi banyak sekali keminoran pada kurikulum sebelumnya. Sebagai manusia yang berpendidikan, penting sekali untuk optimistis dengan bumbu realistis.

Harapannya dengan berlabuhnya kurikulum baru ini bisa menjadi wadah yang baik bagi kemajuan keberadaban manusia dan pengembangan pendidikan di kemudian hari. Impian setiap masyarakat adalah agar kurikulum mampu menelurkan generasi yang berguna bagi keluarga, bangsa, agama dan negara. Berguna dalam semua sendi kehidupan. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved