Tribunners

Ironis Pendidikan Tanah Air

Kasus pembakaran sekolah yang dilakukan oleh siswa merupakan hal yang mendapat perhatian serius

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Ridwan Mahendra - Guru Bahasa Indonesia di SMK Kesehatan Mandala Bhakti Surakarta 

Oleh: Ridwan Mahendra - Guru Bahasa Indonesia di SMK Kesehatan Mandala Bhakti Surakarta

DUNIA pendidikan kita kembali digaduhkan dengan kasus pembakaran oleh siswa sebuah sekolah menengah pertama (SMP) di Temanggung. Berita yang terus beredar dan menggema di sejumlah media tersebut tak lepas dari sebuah perundungan oleh teman-teman kelasnya dan oknum guru.

Kasus perundungan yang disayangkan yang menyangkut institusi pendidikan di negeri ini. Menilik laman Kemen-PPPA, sepanjang tahun 2021 lalu sebanyak 17 kasus perundungan terjadi di ranah pendidikan. Miris bagi institusi yang dikatakan sebagai pengayom generasi peradaban penerus di Indonesia.

Anak didik (siswa) yang seharusnya mendapat perlakuan dan perhatian oleh orang tua (guru) di sekolah demi mencapai apa yang dicita-citakan oleh siswa demi masa depan yang cerah. Bukan sebaliknya, meruntuhkan muruah guru dan ikut andil dalam tindakan yang tidak mencerminkan sebagai seorang yang dihormati dan disegani di sekolah.

Sebagai seorang pendidik, sudah seyogianya apabila terdapat anak didik yang kurang dalam hal pengetahuan serta keterampilan di dalam kelas, peran guru sangat signifikan yang tak lain adalah dengan membantu dan mengarahkannya yang lebih baik. Memiliki rasa empati terhadap siswa demi memajukan sebuah generasi yang unggul di bidangnya masing-masing tanpa adanya membeda-bedakan antara siswa yang satu dengan yang lainnya.

Ironis apabila seorang pendidik mengistimewakan siswa yang cerdas dan siswa yang kurang dalam hal akademik. Perlu diingat kembali, muruah seorang guru adalah mampu menyamakan seluruh siswanya tanpa terkecuali dalam memberikan hak yang semestinya didapat seluruh anak didiknya.

Peran Sekolah

Sekolah sebagai institusi pendidikan yang melahirkan generasi peradaban memiliki tanggung jawab yang besar terhadap masa depan siswa. Sekolah merupakan tempat kedua bagi siswa dalam menjalani pendidikan sesuai dengan Tri Sentra pendidikan yang digaungkan oleh Ki Hajar Dewantara setelah ranah keluarga. Pencegahan perundungan di sekolah dapat diimplementasikan dengan melakukan pengawasan dan memberikan sanksi tegas bagi pelaku perundungan.

Satuan pendidikan harus mampu memberikan pemahaman mengenai pencegahan perundungan. Pemahaman-pemahaman tersebut dapat dilakukan dari hal-hal kecil, seperti amanat pembina upacara, edukasi oleh guru selaku orang tua siswa di dalam kelas, dan membuat poster-poster antiperundungan dan dipajang di lingkungan sekolah.

Selain itu, sekolah juga memberikan pemahaman mengenai efek yang ditimbulkan oleh korban perundungan. Menilik laman Kemen-PPPA, dampak bullying bagi korban, antara lain depresi dan mudah marah, rendahnya tingkat kehadiran dan rendahnya prestasi bagi siswa, serta menurunnya kecerdasan dan kemampuan analisis siswa. Selain itu, bullying membawa pengaruh buruk terhadap kesehatan fisik dan mental, lebih dari itu korban bullying dapat menjadi pemicu tindakan yang fatal, seperti mengakhiri hidupnya dan sebagainya.

Jangan Terulang

Kasus pembakaran sekolah yang dilakukan oleh siswa merupakan hal yang mendapat perhatian serius, bagaimanapun dengan kasus tersebut menyatakan bahwa dunia usam pendidikan kita. Guru harus mampu menjadi seorang pendidik yang memikirkan masa depan siswanya untuk meraih apa yang menjadi harapannya kelak.

Selain guru, orang tua sebagai wali siswa memiliki andil yang utama. Orang tua selaku madrasah pertama bagi anaknya harus mampu menasihati bahwa tindakan yang dapat merugikan dirinya dan khalayak harus dihindarkan.

Selanjutnya, siswa. Siswa harus memiliki pemikiran bahwa sekolah merupakan tempat untuk meraih prestasi setinggi-tingginya, baik di bidang akademik maupun non-akademik. Sebagai siswa harus bersemangat dan menyingkirkan segala hal yang dapat mencoreng nama baik. Selain itu, apabila mendapat sebuah perundungan di dalamnya, siswa selayaknya bersuara terhadap orang-orang terdekat dan mencari solusi atas apa yang dialaminya.

Mari berkomitmen di segala lini pendidikan. Orang tua, guru, dan siswa harus mampu menjunjung tinggi pendidikan Tanah Air yang berlandaskan dengan akhlak mulia. Hal-hal yang tidak terpuji dan mencoreng citra pendidikan Tanah Air harus benar-benar dihindarkan dan seyogianya institusi pendidikan merupakan tempat yang aman bagi seluruh warganya. Semoga. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved