Tribunners
Keajaiban Ibadah Haji
Namanya keajaiban, tak boleh sembarangan ditafsir, dimaknai, dikalkulasi filosofi dan tarikan nilainya.
Oleh: Masmuni Mahatma - Wakil Rektor II IAIN SAS Babel
IBADAH haji benar-benar milik Allah SWT. Dalam ibadah haji, tiap hamba menemukan ruang "jamuan" tersendiri dengan Allah. Ada yang dijamu langsung dengan unik, indah, tanpa terduga. Pun ada yang dijamu tidak langsung, melalui berbagai cobaan, ujian, dan "sentuhan" tersendiri.
Sebagai milik-Nya, sepanjang sejarah ibadah haji senantiasa menampilkan keajaiban-keajaiban tak terduga, unik, nyentrik, dan spiritualistik. Keajaiban di luar bacaan dan nalar tiap hamba. Keajaiban yang mendebarkan, menggetarkan, dan kadang juga "mengagetkan". Keajaiban religius yang dikendalikan oleh Allah SWT yang Maha Berkehendak.
Namanya keajaiban, tak boleh sembarangan ditafsir, dimaknai, dikalkulasi filosofi dan tarikan nilainya. Sebab kecanggihan nalar kita selaku manusia (hamba) biasa, tidak akan pernah bisa menembus kedalaman esensi keajaiban tersebut. Rahasia semuanya hanya berada di tangan dan milik Allah secara mutlak.
Beberapa Kejadian
Salah satu tim kesehatan yang bertugas di Hotel Jauharat (205), mengisahkan keajaiban terkait jemaah lansia. Ia bertutur, "Ada seorang jemaah lansia yang sejak di Madinah dalam perawatan terus. Tak kunjung sembuh. Tampak mengalirkan kekhawatiran. Namun ketika tiba di Makkah, sang lansia, mencopot infusan di tangannya. Seketika riang gembira, bercanda ria, dan sehat tanpa merepotkan lagi."
Di hotel 207, masih wilayah kerja Sektor 2 Makkah, tak sedikit pula lansia yang dipenuhi keajaiban. Semula terus dikawal dengan kursi roda, dirawat intens tim kesehatan, susah makan, dan "berperilaku" kurang beraturan. Akan tetapi, usai safari wukuf dan ritual armuzna, ia ceria, bisa berjalan normal, makan lahap, bahkan kala proses pemulangan, ditawari kursi roda langsung ditolak. Ia tegar berjalan menuju lift dan berkerumun dengan jemaah sampai ke lobi serta menaiki bus. Di luar keyakinan dan nalar kami yang berulang kali mencemaskan.
Ada juga lansia di 206, Hotel Safwat al-Khaer, sejak awal kurang enak badan. Bahkan hampir tiap jeda waktu salat minta periksa ke tim kesehatan. Akan tetapi, usai melaksanakan tawaf ifadhah, dan berdoa di depan Ka'bah, tiada sangka, badannya seketika ringan, terasa segar, dan nyaman. Lagi-lagi, semua di luar nalar kami sebagai hamba. Allah SWT seperti "kontan" mengabulkan rintihan-rintihan spiritual jemaah.
Kejadian-kejadian itu menguatkan bahwa ikhtiar setiap hamba, tak ada yang lepas dari lingkup kuasa-Nya. Ketika Allah menghendaki, keajaiban akan turun tanpa terhalang "nalar" kita selaku manusia. Makhluk lemah, penuh keterbatasan, banyak kelemahan, kekurangan, dan ketidakmampuan untuk sekadar "mengimbangi" iradah Allah SWT.
Menjahit Nilai
Sebagai kaum beriman, kita patut menyelami dan menjahit nilai atas kejadian-kejadian dimaksud. Nilai yang tentu tidak "materialistis," bukan nilai "stimulan," melainkan nilai-nilai imani, religius, spiritualistik dan (mungkin) sufistik. Nilai yang tidak bisa ditukar kecuali dengan komitmen totalitas "imaniyah" dan "islamiah" kita selaku makhluk-Nya.
Pertama, Allah SWT tidak akan menyulitkan atau menyiksa hamba di luar kemampuan yang dianugerahi-Nya. Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an bahwa di balik kesukaran, Allah telah sediakan kemudahan (QS. Al-Insyirah [94] : 5-6). Artinya, Allah selalu mendahulukan "rahmat" daripada "azab"Nya, sepanjang kita tetap wujudkan ikhtiari-produktif tanpa batas. Apalagi di hadapan Allah SWT, kata Jeihan Sukmantoro, yang kita bisa dan punya hanya "doa," dan (ber)iman.
Kejadian terhadap beberapa lansia di atas, sejatinya merupakan cara Allah untuk menyapa mesra mereka sepenuh kasih di rumah-Nya. Demikian juga sebagai buah kesabaran lansia sekian waktu mengantre untuk berada dalam barisan tamu Allah (dhuyuf al-Rahman). Tak bisa dimungkiri. Sebab ini jalur keimanan yang tiada henti ditempuh siapa pun dari hamba Allah SWT.
Ada pula esensi dan nilai-nilai spiritualistik yang patut diinternalisasi sehingga kita menjadi hamba yang mampu mendahulukan roja' (harapan), khusnuddhaniyah, positive thinking, tanpa mengabaikan "khauf," kekhawatiran berbasis lemahnya diri. Antara "khouf" dan "roja'", kata kaum arif, terus-menerus mesti diimplementasi dan disikapi optimal serta seseimbang mungkin.
Kedua, melalui prosesi dan kejuangan ibadah haji ini, sejatinya Allah SWT mengajari kita jihad sejati. Jihad yang jauh dari tendensi dan orientasi duniawiyah. Jihad yang sedari awal hingga akhir berlandaskan kejujuran, ketulusan, kepasrahan dan pencerahan imani. Jihad integralistik, perpaduan maksimal potensi harta dan kejernihan jiwa "damai" di jalan Allah SWT (QS. Al-Hujurat : 15). (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20221108_Masmuni-Mahatma-Warek-II-IAIN-SAS.jpg)