Tribunners

Membangun Budaya Literasi

Laporan dari UNESCO tahun 2011 menyatakan bahwa minat baca masyarakat Indonesia baru 0,001 persen.

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Arie Gunarti, S.Pd., M.H. - Guru UPTD SMPN 3 Belinyu 

Oleh: Arie Gunarti, S.Pd., M.H. - Guru UPTD SMPN 3 Belinyu

BUDAYA literasi di sekolah dan keluarga belum tumbuh secara berdaya pada anak-anak kita. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menyebutkan bahwa krisis pembelajaran di Indonesia telah berlangsung lama. Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukan bahwa Indonesia tidak mengalami peningkatan yang signifikan dalam 10 sampai 15 tahun terakhir. Sekitar 70 persen peserta didik usia 15 tahun berada di bawah kompetensi minimum membaca dan matematika. Krisis pembelajaran diperparah oleh pandemi Covid-19 dengan learning loss dan meningkatnya kesenjangan pembelajaran. Data hasil asesmen nasional tahun 2021 menunjukkan bahwa 1 dari 2 peserta didik belum mencapai kompetensi minimum literasi 2 dan 3 dari peserta didik belum mencapai kompetensi minimum numerasi (I Nyoman Rudi Kurniawan, 2023:1).

Data di atas menunjukkan bahwa literasi belum membudaya kepada peserta didik kita di keluarga maupun di ruang-ruang kelas. Selama ini literasi di sekolah cenderung dipaksakan bukan pada kesenang dan minat kesadaran yang tumbuh dari peserta didik itu sendiri. Literasi selama ini tidak sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan tidak ada hubungan relevansinya pada persoalan nyata kehidupan mereka sehari-hari sehingga kepekaan sosial emosional pada peserta didik tidak terbangun.

Peserta didik tidak memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi, akibatnya mereka tidak mampu menyelesaikan masalah-masalah nyata di kehidupan mereka. Peserta didik tidak mengetahui manfaat dari proses pembelajaran sehingga kemampuan bernalar kritis dan berpikir tingkat tinggi kaitan dengan literasi matematika, membaca, dan sains menjadi sangat rendah. Hal ini sangat memengaruhi hasil asesmen nasional tahun 2021.

Di sekolah, literasi hanya sekadar penuntasan materi pembelajaran, padahal literasi dalam proses pembelajaran di ruang kelas bertujuan untuk memberdayakan peserta didik agar memiliki kompetensi literasi dalam mengolah, menggunakan informasi, dan menyelesaikan persoalan yang kontekstual dengan peserta didik. Sebagai contoh, seorang guru IPA sudah mengajarkan materi tentang pemanasan global namun peserta didik tidak ada kepekaan dan cuek terhadap lingkungan sekitarnya. Peserta didik setiap selesai jajan di kantin tanpa kesadaran membuang sampah plastik bekas bungkus makanan di halaman sekolah. Meskipun sudah berkali-kali ada imbauan dari guru tetap saja imbauan itu seperti angin lalu.

Dengan perubahan kurikulum yang baru, yaitu Kurikulum Merdeka, diharapkan mampu membawa perubahan terhadap rendahnya literasi peserta didik. Peserta didik dapat melihat, berdiskusi, dan belajar langsung di lapangan dari pelaku-pelaku usaha dan narasumber yang relevan dengan tema projek penguatan profil pelajar Pancasila dengan memilih learning partner dari luar sekolah.

Selama ini, kesenjangan bahasa terjadi dalam proses pembelajaran di ruang-ruang kelas. Peserta didik sudah duduk d ibangku SMP dengan penguasaan kosakata mereka sangat terbatas sangat sulit untuk bisa menulis sebuah paragraf ataupun berbicara. Peserta didik tidak dapat memproses informasi dari bacaan yang mereka baca sehingga jangan heran jika banyak sekali peserta didik mengeluh bosan ketika menemui bacaan yang panjang. Tentu hal ini dapat mengurangi minat baca peserta didik.

Laporan dari UNESCO tahun 2011 menyatakan bahwa minat baca masyarakat Indonesia baru 0,001 persen. Hal itu mempersentasekan bahwa dari 1.000 penduduk, hanya ada 1 orang saja yang memiliki minat baca. Tentu saja peran guru di sekolah, orang tua di rumah, dan instansi lain yang relevan dalam rangka mengembangkan gerakan literasi di sekolah dengan bekerja sama dengan perguruan tinggi dalam mengembangkan kapasitas guru dalam berliterasi kaitan penelitian di bidang keprofesian pendidikan. Bagaimana guru menjadi teladan bagi peserta didik dalam berliterasi di sekolah. Adanya budaya literasi sekolah dapat membangun minat peserta didik untuk rajin membaca, menulis, serta berbicara/ mengomunikasikannya pada lintas disiplin ilmu.

Sekolah dapat bekerja sama dengan komite sekolah, stasiun televisi, media massa, penerbitan, percetakan dalam membangun gerakan peduli literasi dengan mengundang pakar atau tokoh berpengaruh untuk masuk sekolah dengan mentoring dan tutoring belajar bersama kiranya dapat menginspirasi peserta didik dalam berliterasi, mengundang duta baca dan tokoh-tokoh berpengaruh, kemudian menjalin bekerja sama dengan sanggar-sanggar baca, perpustakaan daerah kabupaten maupun Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, perpustakan nasional serta Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Sekolah juga dapat mengajak anak-anak untuk mengunjungi tempat yang relevan yang ada di lingkungan sekitar mereka seperti pasar, museum, mengunjungi tempat siaran radio lokal ataupun berkunjung ke kantor media cetak lokal, di sana peserta didik dapat melihat dan mengalami proses belajar secara langsung di lapangan.

Dengan membangun budaya literasi dari keluarga, anak mendapatkan kosakata pertama dari keluarganya di rumah, anak-anak lebih mudah mengenali huruf, suku kata dan kata dari keseharian hidup mereka di rumah. Memperbanyak kosakata di keluarga membantu anak-anak untuk lebih cepat mengenal, menghafal huruf, suku kata, dan kata. Orang tua membacakan dongeng untuk mengantarkan anak-anaknya tidur menjadi budaya literasi yang harus terus dilakukan keluarga selain meningkatkan kemampuan berbahasa dan meningkatkan kosakata. Anak-anak yang terbiasa mendengarkan dongeng sebelum tidur biasanya memiliki daya kreativitas dan imajinasi yang tinggi.

Dukungan orang tua dalam membangun budaya literasi dasar memiliki peranan penting. Orang tua dapat mengajak dan melibatkan anak-anaknya untuk mengaplikasikan konsep literasi numerasi dalam kehidupan sehari-hari, misalnya bagaimana mereka mengatur keuangan mereka dengan cara membiasakan anak untuk menabung dan mengajarinya berwirausaha sejak dini. Membangun literasi sains dengan cara menerapkan pola hidup bersih dan sehat pada anak agar mereka bisa lebih selektif dalam memilih makanan yang baik untuk kesehatan mereka.

Kemudian, anak-anak yang sudah sejak lahir terpapar dengan kemajuan informasi teknologi harus dibekali kemampuan literasi digital sejak dini. Keluarga harus mendampingi memberikan pemahaman dan mengajari etika sopan santun komunikasi kepada anak dalam menggunakan media sosial dan internet. Keluarga menanamkan budaya ketimuran kepada anak di tengah arus budaya global yang bertentangan dengan budaya lokal maupun nasional.

Membangun budaya literasi digital dan kewarganegaraan sangat penting di keluarga supaya anak-anak mengetahui dampak positif dan negatif dari kemajuan teknologi informasi. Jangan sampai kehangatan dan perhatian keluarga menjadi hilang karena orang tua dan anak sibuk bermain gadgetnya masing-masing tanpa mengenal waktu.

Sekolah harus berkolaborasi dengan orang tua dalam membangun budaya literasi sejak dini. Tanpa adanya kerja sama orang tua yang baik akan sulit membenahi dan membangun budaya literasi pada peserta didik di sekolah. Rapor pendidikan menjadi acuan kita dalam membangun budaya literasi pada satuan pendidikan. Untuk membangun literasi dasar di PAUD/TK perlu peran guru dalam proses pembelajaran yang bermakna, nyaman, aman dan menyenangkan.

Karena literasi dasar menjadi fondasi atau modal awal agar peserta didik dalam menumbuhkan minat dalam literasi, harapan penulis supaya Kantor Bahasa Kepulauan Bangka Belitung dapat menyelenggarakan lomba-lomba literasi, tidak hanya untuk jenjang SMK/SMA namun juga jenjang pendidikan yang paling dasar seperti PAUD, TK, SD/MI, dan SMP/ MTs dengan tujuan untuk menumbuhkan motivasi kepada peserta didik pada tingkatan dasar untuk dapat mengembangkan minat baca dan menanamkan budaya literasi sejak dini. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved