Tribunners
Mengunjungi Kota Makkah
Tidak memaksimalkan kesempatan emas ini adalah kerugian material, immaterial, moral, spiritual atau lahir maupun batin terhadap siapa pun
Oleh: Dr. Masmuni Mahatma, S.Fil.I., M.Ag. - Ketua PWNU Bangka Belitung
MENGUNJUNGI Kota Makkah al-Mukarromah (Baitullah) adalah kerinduan seluruh umat beragama (Islam). Terlebih bagi yang sedang menunaikan ibadah haji (atau umrah), mereka memiliki kesempatan luas mengutarakan kerinduan di rumah-Nya. Situasi teramat mahal dari aspek waktu, masa, makna, dan esensi. Kondisi penuh keistimewaan dalam rangka bertamu sekaligus meluapkan kerinduan kepada-Nya perspektif kehambaan.
Tidak memaksimalkan kesempatan emas ini adalah kerugian material, immaterial, moral, spiritual atau lahir maupun batin terhadap siapa pun. Kerugian yang tidak hanya berimbas pada kematangan diri di dunia, tetapi juga keselamatan diri di akhirat kelak. Sebab Makkah al-Mukarromah adalah kota penuh keberkahan, kemustajaban, keindahan (spiritual), dan "mukjizat" tak terduga dari dan untuk kelangsungan kehidupan.
Dalam istilah lain, Kota Makkah merupakan bumi dan langit kesuburan (balasan) bagi kebaikan tiap hamba yang taat, setia, dan punya loyalitas tanpa batas pada perintah maupun larangan-Nya. Begitu juga sebaliknya, bisa menjadi medan perwujudan "ujian," "siksaan" terkait apa yang dilakukan manusia secara dhahiri dan batini sepanjang hidupnya.
Napas Makkiyah
Oleh karena itu, tiap-tiap manusia yang sedang dan telah berada di Makkah al-Mukarromah sejatinya mengonstruksi "napas Makkiyah", yakni napas aktivitas ubudiyah, napas amal saleh. Napas gerak dan kerja yang tidak boleh sejenak pun lepas dari paradigma serta tata laku ubudiyah. Di luar teks dan konteks ini, orientasi penciptaan kita selaku hamba memang li-ya'buduna lillah (QS. Al-Dzariyat : 56).
Dari dan untuk napas Makkiyah ini, sekecil apa pun langkah, gerak, dan kerja kita mesti diapit niat ibadah dan dibaluri nilai-nilai ilahiah. Niat dan nilai yang elementeri maupun akarnya dari kesadaran moralitas kenabian, akhlak kerasulan dan etika ketuhanan. Niat dan nilai-nilai yang dirapikan dari racikan spiritualisme (agama) Ibrahimik-Quranik.
Kesadaran luhur dimaksud mesti senantiasa dilebursuburkan dalam konteks gerak dan kerja pengkhidmatan atas nama Allah SWT. Karena seringan apa pun kerja atau perbuatan kita di Kota Makkah ini akan cepat sinergi dengan kebesaran Allah. Ini bisa menjadi kemaslahatan, kebajikan, dan keindahan terhadap kita yang bernapas ubudiyah. Namun, dapat berdampak lain untuk mereka yang tidak memaknainya sepositif-konstruktif dan seproduktif mungkin.
Di sisi lain, "napas Makkiyah" ini merupakan bagian halus bertumbuhnya balasan Allah bagi kebajikan yang dilakukan masing-masing diri. Apa yang dikerjakan tiap diri di Kota Makkah al-Mukarromah, nilai-nilai dan konsekuensi etiknya rata-rata begitu aromatik. Langsung terwujud selama di Kota Makkah atau di luar Kota Makkah kelak.
Roh Madaniyyah
Selain tarikan "napas Makkiyah," siapa saja yang sedang dan telah mengunjungi Kota Makkah al-Mukarromah patut mengenali dan menginternalisasi "roh Madaniyah." Roh yang langsung dinisbatkan kepada sifat, karakter, dan kemuliaan kenabian Muhammad Saw. Nabi yang lahir di Kota Makkah, menerima wahyu (Islam), merintis dakwah Islam di Kota Makkah, sebelum hijrah ke Kota Madinah al-Munawarah.
"Roh Madaniyah" bisa diperoleh, minimal dengan ziarahi makam Rasulullah Saw, Sayyidina Abu Bakar, dan Sayyidina Umar. Termasuk Ashabun Nabi yang berada di Makbaroh Baqi, tepat di dekat Masjid Nabawi. Meski di areal Baqi, "askar Arab" atau "polisi Arab" tidak memperbolehkan tiap pengunjung duduk lama, kumpul untuk zikir dan berdoa, bisa siasati dengan cara keliling makbaroh sembari tahlilan. Itu boleh. Tak akan di"harrik-harrikin" sebagian askar. Bahkan (mungkin) cara ini lebih cair dan khusyuk melafalkan kalimat tahlil.
Dengan "menemui" Rasulullah Saw lewat ziarah rohaniah di makam beliau, tangis hati atas nama rindu tak akan tertahan. Dari jalur ziarah ini, "roh Madaniyah" perlahan dapat kita nikmati. Kita selami bersua dengan Rasulullah, kita curahkan rindu tak bertepi di Raudhah, tempat sakral, yang Rasul janjikan sebagai pengabulan doa dan harapan kepada Allah SWT di bagian depan (dalam) Masjid Nabawi.
"Roh Madaniyah" juga akan cepat diraih dan dinikmati, jikalau kita sadar bahwa menjadi umat Nabi Muhammad Saw, tidak cukup hanya merasa telah menunaikan rukun Islam yang kelima. Itu akan menjadi "lipstik" belaka selama tidak dibarengi pengkhidmatan berbasis kemanusiaan, kenabian, dan keilahian sebagaimana Rasulullah Saw teladankan. Yakni pengkhidmatan tanpa tendensi rasistik; tidak membedakan suku, agama, dan antargolongan. Spirit, komitmen, dan totalitas kebajikan berkemanusiaan atas nama universalisme ilahiah adalah rujukan maupun baluran utamanya. Inilah "roh Madaniyyah" yang tak boleh diabaikan. Lebih-lebih Makkah dan Madinah merupakan "rumah" dan "kota" Allah serta Rasul-Nya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20220904_Masmuni-Mahatma-Wakil-Rektor-IAIN-SAS.jpg)