Tribunners
Urgensi Kolaborasi dalam Implementasi Kurikulum Merdeka
apabila terjadi konflik dan friksi dalam kolaboratif, hal itu bisa dikelola dengan menggunakan metode manajemen konflik yang tepat
Oleh: Neni Herlina, S.Pd. - Guru Geografi SMAN 1 Namang, Bangka Tengah
DALAM merdeka belajar, kita sering disuguhkan diksi-diksi positif seperti analisis, berbagi, berkolaborasi, dan sebagainya. Setiap diksi memiliki maknanya tersendiri yang sejalan dengan rumusan merdeka belajar. Seperti kolaborasi, menjadi salah satu nilai utama dalam implementasi Kurikulum Merdeka.
Secara umum, kolaborasi berarti adanya pola dan bentuk hubungan yang dilakukan antarindividu ataupun organisasi yang berkeinginan untuk saling berbagi, saling berpartisipasi secara penuh, dan saling menyetujui atau bersepakat untuk melakukan tindakan bersama dengan cara berbagi informasi, berbagi sumber daya, berbagi manfaat, dan berbagi tanggung jawab dalam pengambilan keputusan bersama untuk mencapai tujuan bersama ataupun untuk menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi. Kolaborasi juga merupakan salah satu keterampilan abad 21 atau era society 5.0 yang harus terus dikembangkan dan diterapkan. Maka dari itu, kolaborasi menjadi penting dalam Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM).
Pertama, kolaborasi dapat meningkatkan fleksibilitas. Apabila kolaborasi dapat dilaksanakan dengan baik, kemampuan seorang pendidik atau sekolah menjadi makin kuat dalam menangani perubahan yang terjadi secara tiba-tiba. Memunculkan berbagai alternatif pemecahan masalah. Perubahan ataupun penyempurnaan kurikulum dengan terbuka dapat diterima dan bukan sesuatu yang harus dikhawatirkan, justru disambut dengan segala kesiapan.
Kedua, dengan berkolaborasi akan saling mempertautkan antarpendidik maupun pendidik dengan peserta didik. Maka, kolaborasi harus melibatkan semua unsur dan komponen yang ada di sekolah, dengan begitu akan terjalin hubungan yang intens dan produktif hingga mengurangi gesekan/konflik, memudahkan satuan pendidikan untuk menempuh visi dan misi bersama. Dari situ juga akan tercermin sosok pemimpin/kepala sekolah yang efektif karena dapat mempertautkan yang tercermin dari lingkungan pendidikan yang sehat di dalamnya.
Ketiga, kolaborasi dapat meningkatkan pemahaman serta kompetensi mereka yang terlibat. Selain saling berinteraksi, dalam berkolaborasi tentunya saling berbagi ide, dan saling bertukar pemahaman serta pengalaman sehingga menjadi makin tahu dan mengerti, berpikir bersama secara positif, mengoperasionalkan alat tertentu secara baik dan benar. Hal ini berdampak pada terjadinya peningkatan kualitas dan mutu, baik terhadap pendidik maupun terhadap sekolah. Pada saat itulah, mereka mulai mendapatkan ilmu baru, cara kerja baru, dan pengalaman baru bahkan perspektif baru yang sangat berguna yang berdampak secara positif dalam mencapai cita-cita baru, ataupun dalam mencapai tujuan mereka belajar.
Keempat, dengan berkolaborasi makin memperkuat terciptanya talenta yang memiliki daya saing. Habituasi saling memotivasi, ungkapan terima kasih, saling menghormati dan memberikan respek merupakan modal dalam mewujudkan sosok yang berkemampuan tinggi. Diawali dari membangun kepercayaan diri, membekalinya dengan pengetahuan-pengetahuan yang salah satunya diperoleh dari berkolaborasi. Ajang peningkatan mutu atau kualitas guru seperti PPG, CGP, Pembatik, bukti karya, menjadi narasumber dan berbagai even lainnya menjadi tantangan yang menarik dan siap dihadapi. Adapun bagi siswa, ajang yang diselenggarakan Puspresnas Kemendikbud maupun event-event selain dari kementerian siap ikut serta meramaikan dengan target juara.
Kelima, kolaborasi juga dapat menciptakan ide-ide kreatif dan inovatif. Di dalam kolaborasi terjadi penyempurnaan ide dan gagasan. Pada akhirnya muncul ide-ide yang bagus serta inovatif yang dapat mendorong terciptanya keahlian baru, penyempurnaan kemampuan maupun mempelajari metode kerja baru dan struktur baru yang sangat bermanfaat bagi kemajuan pendidikan, baik guru maupun sekolah dalam implementasi Kurikulum Merdeka dalam hal pengajaran/pembelajaran.
Terdapat satu catatan yang harus diperhatikan, bisa saja kolaborasi itu membangkitkan friksi-friksi negatif apabila tidak dikelola dengan baik dan benar sehingga kolaborasi yang ada justru tidak menghasilkan apa pun yang berguna, tetapi menciptakan situasi yang sebaliknya. Kolaborasi tim semacam komunitas guru yang minim gagasan, nihil produk, dan miskin inovasi. Munculnya konflik manifes maupun laten akibat perbedaan pendapat yang tidak ter-manage dan loss control-nya proses dari sosok leader. Dengan demikian, komunitas menjadi pasif dan kolaborasi mati dengan sendirinya.
Padahal, salah satu ciri dan karakter implementasi Kurikulum Merdeka adalah adanya komunitas-komunitas pembelajaran yang saling berkolaborasi. Namun, apabila berbagai friksi yang muncul dalam kehidupan kolaboratif itu bisa dikelola secara benar, maka dapat membangkitkan dinamika yang positif. Oleh sebab itu, apabila terjadi konflik dan friksi dalam kolaboratif, hal itu bisa dikelola dengan menggunakan metode manajemen konflik yang tepat yang akan dapat melahirkan ide-ide inovatif yang bermanfaat bagi sekolah ataupun bagi orang-orang yang berada dalam komunitasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20230725_Neni-Herlina-Guru-SMAN-1-Namang.jpg)