Minggu, 17 Mei 2026

Berita Bangka Tengah

Semakin Sedikit, Luas Lahan Perkebunan Lada di Bangka Tengah Tersisa 3.000 Lebih Hektar

Luas perkebunan tanaman dengan aroma rempah khas itu banyak yang sudah beralih fungsi ke perkebunan lain

Tayang:
Dokumentasi Posbelitung.co
Ilustrasi tanaman lada 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Kondisi perkebunan lada yang telah puluhan tahun menjadi kekhasan masyarakat Bangka Belitung menunjukan keprihatinan.

Tanaman yang dianggap sebagai kearifan lokal Bangka Belitung ini kini semakin sedikit dan sukar ditemui.

Sebab, dari waktu ke waktu, luas perkebunan tanaman dengan aroma rempah khas itu banyak yang sudah beralih fungsi ke perkebunan lain.

Di Bangka Tengah, diketahui bahwa saat ini luas perkebunan lada yang tersisa tinggal 3.314,52 hektar.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Bangka Tengah, Demsi Apriadi mengatakan bahwa luasan tersebut merupakan data terkini pada periode Januari-Maret 2023.

Di samping itu, diketahui ada sekitar 876,54 hektar luas areal tanaman pada yang belum menghasilkan.

Dia menjelaskan, semakin berkurangnya perkebunan lada di Bangka Tengah lantaran banyak tanaman yang mati di tengah jalan sebelum masa panen.

"Lada ini kan umur panennya setelah 2 tahun sampai 3 tahun ke atas," ucap Demsi, Senin (31/7/2023).

Kata dia, anggap saja jika seorang petani menanam lada di lahan seluas setengah hektar dengan jumlah tanaman sekitar 80-1.000 batang.

Dengan jumlah tersebut, ada begitu banyak biaya produksi yang harus dikeluarkan mulai dari pupuk, tajar (tiang panjat) dan lain sebagainya.

"Dan kadang-kadang itu enggak ada jaminan lada tersebut bisa mencapai umur dua tahun untuk bisa dipanen. Kadang-kadang baru umur setahun sudah mati," jelasnya.

Hal itulah yang kemudian banyak membuat petani lada menjadi lesu dan mulai pindah ke komoditi lain.

Untuk itu, melalui beberapa kajian, pihaknya mempunyai solusi dengan menggunakan tanaman melada.

Demsi berujar, cara tersebut saat ini sedang diuji coba oleh Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Simpang Katis dan sudah berjalan 3 tahunan.

"Tanaman lada ini kan dia memiliki ruas dan penyakit yang paling sering terjadi itu busuk pangkal batang. Jadi yang terjadi adalah tumbuh batangnya bagus dan bawahnya kopong sehingga lama-kelamaan tanaman tersebut akan mati," ujarnya.

Oleh karenya, dengan memanfaatkan tanaman melada yang karakteristiknya tahan terhadap air diharapkan akan membuat tangan lada menjadi kuat.

"Tujuan adanya tanaman melada itu untuk memperkuat bagian akar dan ini sudah terbukti di BPP Simpang Katis," imbuhnya.

(Bangkapos.com/Arya Bima Mahendra)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved